MerahPutih Keuangan - Pemilihan presiden Amerika Serikat membuat pasar modal mengalami anjlok 56 poin. Bukan hanya pasar saham Indonesia saja mengalami penurunan, tetapi pasar saham di tingkat regional mengalami hal yang serupa.
Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mengatakan, hampir seluruh pasar saham regional mengalami penurunan drastis. Selain itu, beberapa nilai tukar mata uang juga mengalami pelemahan.
"Kalau saya melihat, intinya tadi bahwa pasar itu lebih prepare kalau Hillary Clinton menang. Jadi lebih prepear Hillary bisa menang dalam pemilihan kali ini. Dasarnya apa, bahwa pasar lebih menyenangi kalau Hillary dari partai yang sama dari Obama. Artinya, kalau tadi Hillary memanangi pemilihan presiden, berarti tidak perubahan drastis," kata Alfred saat dihubungi merahputih.com melalui sambungan telepon, Rabu (9/11).
Menurut Alfred, pasar modal regional saat ini lebih senang Hillary yang menjadi presiden, alasannya karena tidak terlalu banyak perubahan sehingga pasar melihat risikonya lebih kecil.
"Ketimbang Donald Trump yang menang dari partai yang berbeda, yang ditakutkan pasar itu bukan kepada (Trump), takut adanya perubahan yang drastis. Ketika Trump yang terpilih, maka pasar akan tanda tanya besar. Mau ke mana sekarang kebijakan yang dibuat Trump dari partai yang berbeda, dan ini memunculkan risiko ketidakpastian yang meningkat," jelasnya.
Namun, Alfred menjelaskan, ketika pasar saham mengalami penurunan drastis, harga emas mengalami kenaikan yang cukup bagus hari ini. Sebagian pelaku pasar saham sudah mengantisipasi bisnis investasi di sektor emas dan dolar.
"Kita lihat sekarang pasar saham telah terjadi aksi jual, dan ternyata emas mengalami kenaikan yang cukup baik hari ini," tandasnya. (Abi)
BACA JUGA:

