Trik Sederhana Hilangkan Amarah ala Psikolog, Salah Satunya Merobek-Robek Kertas
Merobek-robek kertas dapat membantu mengurangi perasaan frustrasi di lingkungan kerja karena tak bisa mengungkapkan kemarahan. (Foto: Pexels/Pixabay)
MerahPutih.com - Para peneliti psikologi di Universitas Nagoya punya trik sederhana untuk menghilangkan amarah.
Menurut mereka, menuliskan reaksi terhadap kejadian negatif di selembar kertas dan kemudian membuangnya dapat membantu mengurangi kemarahan.
Mereka juga menemukan bahwa merobek-robek kertas dapat membantu mengurangi perasaan frustrasi di lingkungan kerja karena tak bisa mengungkapkan kemarahan.
“Kami berharap metode kami dapat menekan kemarahan sampai batas tertentu,” kata pemimpin penelitian, Nobuyuki Kawai, seperti dikutip newsweek.com (9/4).
Temuan ini mungkin menjelaskan tradisi budaya Jepang 'hakidashisara', sebuah festival tahunan di kuil Hiyoshi dekat Nagoya yang membolehkan orang-orang memecahkan cakram kecil yang melambangkan hal-hal yang membuat mereka marah. Orang-orang yang ambil bagian mengaku perasaannya lebih lega.
Baca juga:
Untuk memperkuat klaim tersebut, Nobuyuki Kawai dan rekannya, Yuta Kanaya, meminta peserta untuk menuliskan opini singkat tentang masalah sosial yang penting. Misalnya apakah merokok di tempat umum harus dilarang.
Kemudian, peneliti memberi tahu para peserta bahwa seorang mahasiswa doktoral di Universitas Nagoya akan mengevaluasi tulisan mereka.
Namun, "mahasiswa doktoral" itu hanya samaran. Terlepas dari apa yang ditulis oleh peserta penelitian, peserta mendapat nilai buruk dalam hal kecerdasan, minat, keramahan, logika, dan rasionalitas. Tiap peserta mendapat tanggapan yang sama-sama menghina.
"Saya tidak percaya orang terpelajar akan berpikir seperti ini. Saya harap orang ini belajar sesuatu selama di universitas."
Setelah itu, para peserta diminta untuk menuliskan pemikiran mereka mengenai hinaan tersebut, dengan fokus pada apa yang memicu emosi mereka.
Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk membuang kertas yang mereka tulis ke tempat sampah atau menyimpannya di file di meja mereka.
Baca juga:
Kelompok kedua disuruh menghancurkan dokumen tersebut dengan mesin penghancur atau memasukkannya ke dalam kotak plastik.
Para peserta kemudian diminta menilai kemarahan mereka setelah dihina dan setelah membuang atau menyimpan kertas tersebut.
Semua peserta melaporkan tingkat kemarahan yang lebih tinggi setelah menerima komentar yang menghina.
Tingkat kemarahan individu yang membuang kertasnya ke tempat sampah atau merobeknya kembali ke keadaan semula setelah kertas tersebut dibuang, lebih rendah.
Sementara itu, peserta yang menyimpan salinan hinaan tersebut hanya mengalami sedikit penurunan kemarahan mereka secara keseluruhan. (dru)
Baca juga:
Amarah Just For You Terwakilkan dalam Single 'Jangan Harap Lagi'
Bagikan
Hendaru Tri Hanggoro
Berita Terkait
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Temui Jokowi di Solo, Dato Tahir Bocorkan Tanggal Peresmian Museum Sains dan Teknologi
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Studi Terbaru Ungkap Popularitas Berpotensi Turunkan Harapan Hidup Musisi, Gaya Hidup dan Kesibukan Tur Jadi Faktornya
Hai Remaja! Ini Kata Psikolog Pentingnya Kendalikan Emosi Buat Masa Depan
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki