Kesehatan

Tinta Tato Ini Bisa Identifikasi Kondisi Kesehatan Tubuh

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Rabu, 07 Agustus 2019
Tinta Tato Ini Bisa Identifikasi Kondisi Kesehatan Tubuh

Bagaimana jika tato yang dianggap buruk dapat berguna untuk kesehatan? (Foto: Pixabay/ilovetattoos)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TATO seringkali dihubungkan dengan berbagai stigma negatif. Orang yang memiliki tato seringkali dianggap suka memberontak, tidak berpendidikan, suka berbuat seenaknya dan berbagai pandangan negatif lainnya.

Padahal tato sendiri sebenarnya hanya salah satu bentuk karya seni. Alasan orang membuat tato pun tidak selalu buruk. Ada yang membuat tato untuk mengekspresikan diri mereka dan ada juga yang membuat tato untuk mengabadikan momen tertentu di tubuh mereka.

Baca juga:

5 Stereotip 'Nakal' Tentang Tato yang Kini Sudah Tidak Relevan

Untungnya saat pemikiran orang semakin terbuka, stigma-stigma tersebut mulai pudar dan orang-orang mulai menganggap tato sebagai sesuatu yang keren. Kemungkinan besar, stigma tersebut akan semakin pudar jika orang-orang mengetahui tentang teknologi baru seputar tato ini.

Tinta Tato Ini Bisa Identifikasi Kondisi Kesehatan Tubuh
Stigma negatif seputar tato mulai berkurang saat ini (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Dilansir dari laman HealthLine, tim dari Universitas Munich German telah berhasil menemukan tinta yang dapat menjadi sensor untuk mengukur kesehatan penggunannya.

Tinta pertama berubah warna menjadi hijau jika mendeteksi albumin di dalam tubuh. Perubahan warna dari tinta tersebut dapat menunjukkan tingkat protein tersebut dalam tubuh. Berkurangnya albumin dalam tubuh merupakan indikasi bahwa ginjal kita mengalami kegagalan.

Tinta kedua berubah warna dari kuning ke hijau gelap jika kadar gula pengguna tato ini naik. Hal ini menandakan bahwa pengguna tato rentan terkena penyakit diabetes.

Tinta ketiga berubah warna dari kuning ke biru sesuai dengan tingkat pH tubuh. Menurut studi yang dipublikasikan MDAnderson.org, badan dengan pH rendah (semakin asam) lebih rentan terkena kanker dibanding orang dengan pH tinggi (semakin basa).

Baca juga:

Perempuan-Perempuan yang Piawai Mentato

Tato ini sementara baru diuji coba ke kulit babi dan membutuhkan berbagai tes lanjutan sebelum dapat dinyatakan aman untuk digunakan manusia. Tapi tak hanya Universitas Munich German saja yang bereksperimen dengan tato, tapi juga Universitas Colorado Boulder.

Tinta Tato Ini Bisa Identifikasi Kondisi Kesehatan Tubuh
Tinta tato khusus dapat jadi sensor yang mengukur seberapa sehat kamu (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Universitas Colorado Boulder melakukan percobaan untuk mencari tinta yang dapat mendeteksi sinar UV. Tato ini dapat mengingatkan penggunanya bahwa kulit mereka terkena sinar UV yang dapat membahayakan dan mereka secepatnya disarankan krim matahari.

Tato kedua yang Universitas Colorado Boulder buat adalah tato yang berubah sesuai suhu pengguna layaknya sebuah termometer. Tato ketiga yang mereka buat adalah tato yang dapat menghantarkan listrik dan diharapkan dapat digunakan untuk mengisi daya alat-alat implan yang tertanam di dalam tubuh pengguna.

Meski tato-tato tersebut masih belum dapat digunakan manusia, namun konsep yang kedua universitas tersebut buat menarik. Konsep mereka dapat menjadi kemajuan di bidang medis dan juga seni. Apakah sahabat Merah Putih tertarik menggunakan tato-tato ini di masa depan? (sep)

Baca juga:

Hal yang membedakan Tato Permanen dan Semi Permanen

#Tato #Seni Tato #Kesehatan #Info Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan