Merahputih.com - Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai tigak ini yang diuntungkan dari isu kudeta partai Demokrat.
"Setidaknya, nama Moeldoko, AHY, dan Partai Demokrat semakin dikenal luas masyarakat," kata dia kepada wartawan, Kamis (11/2).
Baca Juga:
Dituding Ingin Kudeta Partai Demokrat, Moeldoko: Kenapa Mas AHY Takut
Moeldoko, yang belum sepopuler AHY, bisa mendapat manfaat secara politik (political benefits). Minimal, nama Moeldoko semakin dikenal oleh publik.
Ia menyatakan, jika dicermati dari pemberitaan, sentimen isu tersebut bisa berdampak terhadap citra kelembagaan Demokrat sebagai partai politik dan juga pemerintah. Sebab isu ini dikaitkan dengan keterlibatan Moeldoko.
Tetapi untuk mengukur besar kecilnya presentase frekuensi dan sentimen positif-negatif secara kuantitatif tentu harus melalui penelitian.
"Seperti semacam media tracking atau penelusuran pemberitaan yang terkait isu tersebut," ujar Karyono.
Namun dalam pertarungan politik elektoral dengan sistem pemilihan langsung, seorang kandidat calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) tidak cukup hanya memiliki ketenaran.
Baca Juga:
Ini Tanda-Tanda Lunturnya Pengaruh SBY di Partai Demokrat
Untuk memenangkan kompetisi sekurang-kurangnya harus memiliki setidaknya enam modal. Yaitu popularitas (popularity), disukai (likeable), dapat diterima (acceptable), tingkat keterpilihan (electability), uang (money) dan dukungan partai.
"Karenanya, semua kandidat baik Moeldoko maupun AHY tidak cukup hanya bermodalkan popularitas tetapi harus memiliki enam modal seperti tersebut di atas," tuturnya. (Knu)