MerahPutih.com - Thailand, negara pertama di luar Tiongkok yang melaporkan infeksi virus baru corona, melaporkan nol kasus baru untuk pertama kalinya dalam dua bulan pada Rabu (13/5), saat pemerintah mempertimbangkan untuk lebih melonggarkan aturan pembatasan terhadap bisnis.
"Kita semua dapat merasa lega tetapi jangan terlena," kata Taweesin Wisanuyothin, Juru Bicara Pusat Administrasi Situasi COVID-19, dikutip Antara.
Baca Juga:
"Kami perlu melanjutkan langkah-langkah utama, mencuci tangan, menjaga jarak sosial dan menggunakan masker," katanya.
Thailand menemukan kasus perdana COVID-19, dari turis asal Tiongkok pada 13 Januari. Sejak itu Thailand mencatat 3.017 infeksi dengan 56 kematian.
Taweesin mengatakan, daerah yang masih paling berisiko termasuk Bangkok dan provinsi-provinsi sekitarnya, serta Thailand selatan, di mana tercatat sejumlah besar kasus dalam dua pekan terakhir.
Yang menjadi pemicu lonjakan kasus di wilayah selatan negara itu adalah klaster di pusat penahanan imigrasi di Provinsi Songkhla dan di sejumlah provinsi yang berbatasan dengan Malaysia.
Malaysia telah mencatat 6.742 kasus COVID-19 dengan 109 kematian.
Thailand mencatatkan nol kasus baru terakhir pada 9 Maret, tetapi dalam dua pekan jumlah kasus baru harian melonjak hingga dua digit dan selanjutnya lebih dari 100 kasus per hari.
Baca Juga:
Arab Saudi Longgarkan Lockdown, Mal-Mal dan Pasar Kembali Ramai
Peningkatan drastis itu mendorong pemerintah Thailand untuk memerintahkan penutupan mal perbelanjaan, restoran, gimnasium, dan usaha lainnya serta memberlakukan jam malam pada pukul 22.00.
Pekan lalu saat jumlah kasus baru menurun, sejumlah pembatasan dicabut sehingga usaha seperti salon dan perawatan hewan peliharaan diizinkan beroperasi.
Pemerintah sedang mempertimbangkan pengoperasian kembali mal perbelanjaan pekan depan. (Knu)
Baca Juga:
Kabar Baik, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Dibuka Kembali untuk Umum

