MerahPutih.com - Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan dagang terkait Agreements on Reciprocal Trade (ART) di sela kegiatan Board of Peace (BoP) di Washington DC, Kamis (19/2) pagi waktu setempat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan setelah penandatanganan di tingkat kepala negara, pembahasan dokumen teknis dan lampiran ART dilanjutkan di kantor United States Trade Representative (USTR).
Menurut dia, sebagai tindak lanjut, Indonesia dan AS sepakat membentuk Council of Trade and Investment yang akan menjadi wadah pembahasan perdagangan, investasi, serta keseimbangan neraca dagang kedua negara.
“Ini menjadi forum ekonomi kedua negara dan hasil daripada agreement of reciprocal trade sehingga seluruh persoalan investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Amerika nanti akan dibahas dulu di dalam Council of Trade,” kata Airlangga, dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (20/2).
Baca juga:
Ingin Bebas Tarif Trump, Pengusaha Indonesia Bakal Pakai Komponen Dari AS
Negosiasi Panjang
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi intensif sejak kebijakan tarif resiprokal diumumkan Trump pada April 2025. Pemerintah Indonesia telah mengirim empat surat resmi sepanjang 2025, dengan sekitar 90 persen usulan Indonesia disetujui AS. Delegasi RI juga melakukan tujuh kali kunjungan ke Washington DC dan lebih dari 19 kali pertemuan teknis dengan USTR.
Berbeda dengan ART negara lain, Amerika sepakat mencabut pasal-pasal non-ekonomi, seperti pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut China Selatan, serta isu pertahanan dan keamanan perbatasan. “Sehingga murni ART kita adalah terkait dengan perdagangan,” tegas Airlangga.
Tarif 0 %
Dalam kesepakatan ART, sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia memperoleh fasilitas tarif 0 persen di pasar AS. Produk tersebut mencakup sektor pertanian dan industri seperti kelapa sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, elektronik, semikonduktor, hingga alat pesawat terbang.
Sektor apparel dan tekstil juga memperoleh tarif 0 persen melalui mekanisme tariff-rate quota (TRQ). Skema ini diperkirakan memberi manfaat langsung bagi sekitar 4 juta pekerja dan berdampak pada lebih dari 20 juta masyarakat Indonesia.
Sebagai bagian dari prinsip resiprokal, Indonesia juga memberikan tarif 0 persen bagi sejumlah produk AS seperti gandum dan kedelai. Kebijakan ini dinilai menjaga stabilitas harga pangan domestik, termasuk bahan baku mi, tahu, dan tempe sehingga tidak menambah beban konsumen.
Baca juga:
Agenda Padat Prabowo di AS: Bisnis, KTT Perdamaian Gaza, Hingga Nego Tarif Trump
Berlaku 90 Hari Setelah Legalitas
Airlangga menegaskan, jika ada kenaikan harga lebih tinggi dari kesepakatan, maka Council of Trade and Investment akan menjadi forum penyelesaian.
Kesepakatan dagang Indonesia-AS ini berlaku paling lambat 90 hari (3 bulan) setelah proses legalitas di kedua negara selesai. Artinya, perjanjian tersebut tidak langsung berlaku usai penandatanganan