MerahPutih.com - Pemerintah menargetkan pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga seluas 2.000 hektare.
Pengembangan Tahap I seluas 616 hektare telah diselesaikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan dilanjutkan Tahap II seluas 751 hektare.
Pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao juga merupakan bagian dari pemerataan pembangunan di NTT. Program prioritas ini diharapkan memberikan efek pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta pengentasan kemiskinan di kawasan tersebut,
kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari di Jakarta, Rabu (2/9).
Pengembangan kawasan seluas 2.000 hektare tersebut dilaksanakan KKP melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan milik masyarakat, sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi lewat bagi hasil pemanfaatan lahan.
Baca juga:
Pemerintah Janji Impor Garam Berhenti di 2027, Sudah Bisa Produksi Dalam Negeri
Saat ini, KKP melakukan uji coba produksi pada lahan seluas 616 hektare dengan target panen perdana pada November 2026.
Pengembangan Rote sebagai lokasi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) mencakup area sekitar 10.764 hektare. Selain 2.000 hektare yang dikembangkan KKP, sekitar 8.000 hektare kawasan lainnya akan dikembangkan oleh investor.
Target Swasembada Garam Nasional
Pengembangan K-SIGN ini merupakan upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada garam. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara bertahap dari baseline sekitar 1 juta ton menjadi 2,5 juta ton pada 2026, 3,5 juta ton pada 2027, dan 5 juta ton pada 2029.
Sejalan dengan itu, volume impor garam ditargetkan turun dari sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026, 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada 2029, sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional,
ucap Qodari.
Nilai investasi pengembangan K-SIGN seluas 2.000 hektare di Rote Ndao diperkirakan mencapai Rp2 triliun, mencakup pembangunan tambak garam serta sarana-prasarana pendukung seperti jalan, fasilitas penyimpanan dan pengolahan, pompa, dan infrastruktur lainnya.
Baca juga:
Harga Beras Melonjak, Pemerintah Bisa Berikan Subsidi Biaya Logistik Buat Turunkan Harga
Pada tahap awal, KKP menerapkan metode tambak garam terbuka menggunakan geomembran atau High-Density Polyethylene (HDPE) untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas garam.
Beriringan dengan itu, KKP menyiapkan rencana modernisasi teknologi secara bertahap melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemanfaatan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
"Pengembangan K-SIGN Rote Ndao diharapkan meningkatkan pendapatan petambak melalui peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah garam, sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat setempat dalam rantai usaha garam," pungkasnya. (Asp)