Survei LSI: Ekonomi Masyarakat Memburuk di Hampir Semua Segmen

Zulfikar SyZulfikar Sy - Rabu, 08 Juli 2020
Survei LSI: Ekonomi Masyarakat Memburuk di Hampir Semua Segmen

Ilustrasi - Pedagang sayur menunggu calon pembeli di Jakarta, Senin (21/5/2018). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei teranyar persepsi masyarakat di 8 provinsi Indonesia tentang kondisi ekonomi mereka sepanjang pandemi virus COVID-19. Hasilnya, 74,8 persen masyarakat di 8 provinsi ini menilai kondisi ekonomi mereka terpuruk selama pandemi.

Sebanyak 22,4 persen responden menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka tidak berubah dibandingkan masa sebelum pandemi corona.

Baca Juga:

Indikator Membaik, Indonesia Terhindar dari Resesi Ekonomi

"2,2 persen responden menyatakan bahwa keadaan ekonomi mereka lebih baik,” ungkap peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa saat rilis hasil survei di kantornya, Jakarta Timur, Selasa (7/7).

Menurut Ardian, responden dengan pendapatan di bawah Rp1,5 juta per bulan paling banyak menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk selama pandemi corona.

Ada 81,3 persen dari basis responden tersebut yang menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk pada saat ini.

Masyarakat dengan pendapatan Rp 1,5 hingga 3 juta per bulan menyatakan kondisi ekonominya memburuk saat pandemi corona sebesar 77,8 persen.

Kemudian, 70,5 persen masyarakat dengan pendapatan sebesar Rp3 sampai 4,5 juta per bulan yang menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk saat ini.

Masyarakat dengan penghasilan di atas Rp4,5 juta yang menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk saat pandemi sejumlah 59,9 persen.

Artinya, semakin penghasilannya rendah, persepsi ekonomi yang dia rasakan semakin buruk.

Ilustrasi - Sejumlah pegawai PT Kahatex berjalan keluar kawasan pabrik di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (17/6/2020). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Ilustrasi - Sejumlah pegawai PT Kahatex berjalan keluar kawasan pabrik di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (17/6/2020). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Responden yang menyatakan kondisi ekonomi buruk, kata Ardian, merata di hampir semua segmen. Baik mereka yang kelas ekonomi atas maupun wong cilik, berpendidikan tinggi maupun rendah, tua maupun muda, dan semua konstituen partai politik.

Pada segmen pemilih PDI Perjuangan, partai pemenang pemilu, sebanyak 77.8 persen menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk.

Pada konstituen Golkar, sebanyak 74.2 persen menyatakan ekonomi mereka memburuk.

Pada segmen pemilih PKS, yang biasanya pemilih muslim kelas menengah yang tinggal di kota, sebanyak 70.7 persen menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk.

“Mereka yang menyatakan kondisi ekonomi memburuk juga mayoritas di pemilih Jokowi-Maruf maupun pemilih Prabowo-Sandiaga Uno. Di pemilih Jokowi-Maruf, sebanyak 76.3 persen menyatakan ekonomi mereka memburuk. Sementara di pemilih Prabowo-Sandiaga, sebanyak 74.2 persen menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk di tengah pandemi COVID-19,” papar Ardian.

Mayoritas menyatakan ekonomi memburuk dan kekhawatiran tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persepsi tersebut mampu menghasilkan implikasi politik yang serius.

“Hati-hati krisis sosial. Dengan persepsi publik terhadap ekonomi yang berada di zona merah, maka saat ini publik seperti rumput kering yang mudah dibakar. Diawali dengan krisis kesehatan, ditambah krisis ekonomi, maka bisa berubah menjadi krisis sosial dan krisis politik,” tambahnya.

Baca Juga:

Wagub Riza Dorong Bank DKI Beri KUR untuk UMKM Pulihkan Ekonomi

Dia menyarankan, publik tetap dibebaskan mencari nafkah asal tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. Ekonomi tetap harus berjalan agar tak makin memburuk.

“Semua sektor bisnis harus dibuka kembali dengan tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat. Aneka bantuan sosial yang sudah diprogramkan secepatnya disalurkan dan harus tepat sasaran,” sarannya.

Survei LSI Denny JA yang bertajuk "Kecemasan di Zona Merah" ini dilakukan dengan metode multi stage random sampling dengan melibatkan 8.000 responden.

Responden tersebar di delapan provinsi besar Indonedia yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Bali. Margin of error berkisar pada 2,05 persen.

Survei berlangsung pada 8-15 Juni. Selain survei, LSI Denny JA juga menggunakan riset kualitatif yakni analisis media dan indepth interview untuk memperkuat temuan dan analisa. (Knu)

Baca Juga:

Pulihkan Ekonomi, Anggaran Bagi Korporasi Belum Terserap

#Ekonomi #Virus Corona
Bagikan
Ditulis Oleh

Zulfikar Sy

Tukang sihir

Berita Terkait

Indonesia
DPR dan Pemerintah Bahas Strategi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Pembahasan difokuskan pada penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
DPR dan Pemerintah Bahas Strategi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia
Senin (8/6) Pagi Rupiah Dibuka Tembus Rp 18.107, IHSG Ikut Tertekan Anjlok 222 Poin
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin (8/6) pagi dibuka melemah 71 poin atau 0,39 persen ke level Rp 18.107 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp 18.036.
Wisnu Cipto - Senin, 08 Juni 2026
Senin (8/6) Pagi Rupiah Dibuka Tembus Rp 18.107, IHSG Ikut Tertekan Anjlok 222 Poin
Indonesia
Bank Jakarta Ingin Jadi Financial Operating System, Hubungkan Warga, UMKM, dan Investor
Dirut Bank Jakarta memaparkan empat strategi utama untuk membangun ekosistem keuangan kota, mulai dari inklusi keuangan, UMKM, perumahan hingga investasi.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 05 Juni 2026
Bank Jakarta Ingin Jadi Financial Operating System, Hubungkan Warga, UMKM, dan Investor
Indonesia
IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.041, DPR Desak Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
DPR mendesak pemerintah memulihkan kepercayaan investor setelah IHSG turun ke 5.644,23, rupiah menembus Rp 18.041 per dolar AS, dan capital outflow mencapai Rp 66,20 triliun.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 05 Juni 2026
IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18.041, DPR Desak Pemerintah Pulihkan Kepercayaan Investor
Indonesia
Mensesneg Tegaskan Purbaya Tetap Menjabat Menkeu, Belum Ada Rencana Reshuffle
Mensesneg Prasetyo Hadi memastikan Purbaya Yudhi Sadewa tetap menjabat Menteri Keuangan. Istana juga membantah adanya rencana reshuffle kabinet dalam waktu dekat.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 05 Juni 2026
Mensesneg Tegaskan Purbaya Tetap Menjabat Menkeu, Belum Ada Rencana Reshuffle
Indonesia
Rupiah Tembus Rp 18.050 per Dolar AS, DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Serius
Pelemahan rupiah hingga Rp18.050 per dolar AS menjadi sorotan DPR. Wakil Ketua DPR meminta pemerintah serta Bank Indonesia memperkuat langkah stabilisasi ekonomi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 04 Juni 2026
Rupiah Tembus Rp 18.050 per Dolar AS, DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Serius
Indonesia
Rupiah Tembus Rp 18.043 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab hingga Langkah Stabilisasi
Bank Indonesia menjelaskan pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp 18.043 per dolar AS. Faktor geopolitik Timur Tengah, arus modal keluar, hingga kebutuhan domestik menjadi pemicunya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 04 Juni 2026
Rupiah Tembus Rp 18.043 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab hingga Langkah Stabilisasi
Indonesia
Indonesia Rajai Pasar Keuangan Digital, Trader Butuh Platform yang Stabil dan Responsif
Indonesia merupakan rumah bagi komunitas trader forex dan komoditas yang berkembang pesat dan semakin sophisticated.
Dwi Astarini - Jumat, 29 Mei 2026
Indonesia Rajai Pasar Keuangan Digital, Trader Butuh Platform yang Stabil dan Responsif
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: ASEAN Prediksi Indonesia Akan Bangkrut Tahun 2030 Gara-gara Terlilit Utang
Ini dalam informasi yang diunggah akun Facebook “Herna Rizky”.
Frengky Aruan - Jumat, 29 Mei 2026
[HOAKS atau FAKTA]: ASEAN Prediksi Indonesia Akan Bangkrut Tahun 2030 Gara-gara Terlilit Utang
Indonesia
Pilih Ciptakan Lapangan Kerja Ketimbang Bangun Gedung, Prabowo: Jangan Bangun Kantor Megah Kalau Tidak Produktif
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan memprioritaskan program produktif pencipta lapangan kerja dibanding pembangunan kantor megah.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 23 Mei 2026
Pilih Ciptakan Lapangan Kerja Ketimbang Bangun Gedung, Prabowo: Jangan Bangun Kantor Megah Kalau Tidak Produktif
Bagikan