Merahputih.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menginstruksikan seluruh jemaah haji Indonesia untuk menghemat energi dan memprioritaskan persiapan fisik menjelang fase puncak ibadah haji 1447 H / 2026 M.
Langkah mitigasi ini bertujuan menjaga kesehatan jemaah di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi yang mencapai suhu 38 hingga 42 derajat Celsius.
Baca juga:
Timwas Haji DPR RI Sidak Layanan di Tanah Suci, Hotel Sempit Jadi Sorotan Utama
Kesiapan Fisik dan Kondisi Jemaah
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan bahwa fase puncak haji menuntut kesiapan fisik, mental, dan spiritual yang prima. Maria melarang jemaah memaksakan aktivitas di luar hotel pada siang hari demi menghindari kelelahan ekstrem dan dehidrasi.
“Jemaah perlu mengutamakan kesehatan. Hemat tenaga, cukup istirahat, makan tepat waktu, minum air putih yang cukup, dan selalu ikuti arahan petugas,” ujar Maria, Senin (11/5).
Hingga hari ke-21 operasional, tercatat 341 kloter dengan total 132.057 jemaah dan 1.361 petugas telah bertolak ke Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 92.767 jemaah sudah berada di Makkah setelah menempuh perjalanan dari Madinah.
Sementara itu, gelombang kedua melalui Jeddah telah mencatatkan kedatangan 25.541 jemaah. Namun, Kemenhaj juga melaporkan duka cita atas wafatnya 24 jemaah hingga saat ini, termasuk satu jemaah asal Medan yang wafat pada Minggu (10/5).
Mitigasi Risiko dan Aturan Pergerakan
Kemenhaj mewajibkan jemaah lansia, disabilitas, dan kategori risiko tinggi untuk segera melapor kepada petugas jika merasakan gejala pusing, sesak napas, atau nyeri dada.
Pengawasan ketat ini menjadi bekal utama menuju fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). KBIHU juga memegang peran krusial dalam memperkuat edukasi keselamatan dan kedisiplinan jemaah di lapangan.
Baca juga:
125 Ribu Lebih Jemaah Calon Haji Indonesia Sudah Tiba di Tanah Suci
“Jangan menunggu kondisi memburuk. Kesehatan adalah bekal utama menuju puncak haji,” tegas Maria.
Terkait pengaturan teknis, jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah wajib mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di tanah air.
Ketentuan ini berlaku karena jemaah akan mengambil miqat dalam perjalanan dan langsung menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Kemenhaj berharap kepatuhan terhadap aturan pergerakan ini dapat memperlancar arus jemaah dan meminimalisir kendala kesehatan di tanah suci.