Studi: Konsumsi Daging Olahan Dapat Tingkatkan Risiko Demensia

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Sabtu, 24 Agustus 2024
Studi: Konsumsi Daging Olahan Dapat Tingkatkan Risiko Demensia

Ilustrasi daging olahan dalam kaleng. (Foto: Pixabay/Heberhard)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Studi terbaru mengungkapkan adanya hubungan yang memprihatinkan antara konsumsi daging olahan (kornet, sosis, dsb.) dengan peningkatan risiko demensia.

Laman Medical Daily melansir, demensia disebabkan oleh kerusakan sel-sel saraf di otak, yang mengakibatkan kehilangan memori, kesulitan berbahasa, serta masalah dalam berpikir dan memecahkan masalah.

Hasil studi yang dipresentasikan pada Konferensi Internasional Alzheimer di Philadelphia mengungkapkan, mengonsumsi dua porsi daging merah olahan per minggu berhubungan dengan peningkatan risiko demensia sebesar 14 persen, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi kurang dari tiga porsi per bulan.

Para peneliti juga menemukan hal menarik: mengganti satu porsi harian daging merah olahan dengan kacang, biji-bijian, atau tahu dapat mengurangi risiko demensia sebesar 20 persen.

Sebaliknya, setiap tambahan porsi daging merah olahan berhubungan dengan penambahan 1,6 tahun penuaan kognitif global, memengaruhi keterampilan berbahasa dan fungsi eksekutif.

Baca juga:

Bicara Dua Bahasa Sejak Muda Bisa Kurangi Risiko Demensia

"Hasil studi mengenai hubungan antara penurunan kognitif dan konsumsi daging secara umum masih bervariasi, jadi kami meneliti lebih lanjut bagaimana konsumsi berbagai jumlah daging olahan dan tidak olahan memengaruhi risiko kognitif dan fungsi," kata Yuhan Li, penulis utama studi tersebut dalam siaran pers.

"Dengan mempelajari orang selama periode waktu yang lama, kami menemukan bahwa konsumsi daging merah olahan dapat menjadi faktor risiko signifikan untuk demensia. Pedoman diet dapat mencakup rekomendasi untuk membatasinya guna meningkatkan kesehatan otak. Daging merah olahan juga telah terbukti meningkatkan risiko kanker, penyakit jantung, dan diabetes. Ini mungkin memengaruhi otak karena mengandung tingkat zat berbahaya seperti nitrit (pengawet) dan sodium," kata Li.

Baca juga:

Studi Ungkap 1,6 Juta Kasus Demensia di 2050 Dapat Dihindari

Untuk memperkirakan hubungan antara demensia dan konsumsi daging merah, lebih dari 130 ribu peserta dalam Studi Kesehatan Perawat dan Studi Tindak Lanjut Profesional Kesehatan dilacak selama hingga 43 tahun. Selama periode ini, para peneliti mengidentifikasi 11.173 kasus demensia.

Kebiasaan diet peserta dievaluasi setiap dua hingga empat tahun menggunakan kuesioner frekuensi makanan. Kuesioner ini menanyakan frekuensi konsumsi daging merah olahan, seperti bacon, hot dog, dan sosis, serta kacang dan legum, termasuk selai kacang, kacang tanah, kenari, susu kedelai, kacang-kacangan, dan tahu.

Status kognitif dinilai menggunakan wawancara telepon. Para peneliti menemukan bahwa setiap tambahan porsi harian daging merah olahan berhubungan dengan tambahan 1,61 tahun penuaan kognitif global dan tambahan 1,69 tahun penuaan kognitif dalam memori verbal.

Sementara kognisi global merujuk pada fungsi kognitif secara keseluruhan, termasuk bahasa, fungsi eksekutif, dan pemrosesan, memori verbal adalah kemampuan untuk mengingat dan memahami kata-kata dan kalimat.

Baca juga:

Hati-Hati 2 Penyakit Ini Bisa Sebabkan Demensia

Namun, ketika satu porsi harian daging merah olahan diganti dengan satu porsi harian kacang dan legum, risiko mengembangkan demensia turun sebesar 20 persen dan penuaan kognitif global berkurang sebesar 1,37 tahun.

"Pencegahan penyakit Alzheimer dan demensia lainnya adalah fokus utama, dan Asosiasi Alzheimer telah lama mendorong pola makan yang lebih sehat, termasuk makanan yang kurang olahan, karena terkait dengan (penurunan) risiko penurunan kognitif. Studi besar dan jangka panjang ini memberikan contoh spesifik tentang cara makan yang lebih sehat," ungkap wakil presiden hubungan medis dan ilmiah Asosiasi Alzheimer Heather M. Snyder. (*)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan