Strategi Hadapi Disrupsi Digital dari Shinta 'Bubu'
Era digital tidak selalu mendisrupsi kehidupan. (Foto: Pexels/Canva Studio)
ERA digital melahirkan banyak startup di Indonesia. Namun, tak sedikit pula yang layu sebelum berkembang. Beberapa startup bertahan berkat peran figur yang berani ambil tantangan untuk menjalankan visi misi kreatifnya.
Salah satunya adalah Shinta Dhanuwardoyo yang kerap disapa sebagai Shinta Bubu. Dia dianggap sebagai sosok yang memiliki pikiran visioner dan mampu mengubah lanskap industri kreatif dan startup.
Shinta mampu berperan sebagai entrepreneur yang berhasil menciptakan berbagai entitas bisnis yang ternama dan menciptakan tren di Indonesia. Beberapa bisnisnya antara lain Bubu.com dan esports.
Dilansir dari Hypebeast (31/7), Shinta tertarik dunia bisnis karena menurutnya dunia ini memiliki tantangan. Setelah lulus kuliah, dia sempat kerja di perusahaan konsultan Filipina. Namun, dia tak lama di sini. Kurang lebih sekitar satu setengah tahun.
Baca juga:
Memahami Fenomena Disrupsi Web 3.0 untuk Perkembangan Ekosistem E-Sports
View this post on Instagram
"Akhirnya di pertengahan tahun 1996 mantapkan diri buat buka usaha sendiri, dan dari situ lahir Bubu.com,” ujar Shinta.
Sebermula Bubu.com hanyalah web developer. Setelah mengambil S2 jurusan komputer, dia mengembangkan web tersebut hingga sebesar sekarang. Dia mengaku mempelajari banyak hal secara otodidak. Dia kini sering menjadi investor di startup.
Shinta memberikan beberapa tips untukmu yang ingin terjun di dunia startup. Pertama, bisnismu harus unik dan kamu harus mampu mengatasi masalah di pasar secara inovatif dan efektif. Bisnis modelmu harus solid dan terbukti dalam monetisasi.
Investor hanya akan menaruh modal ke startup jika si pendiri merasa benar-benar seorang true entrepreneur dengan passion tinggi di bidangnya. Founder/co-founders harus didukung juga oleh tim yang solid, mempunyai keahlian, dan pengalaman yang relevan dengan komitmen dan semangat tinggi.
Baca juga:
'Kerikil Tajam' yang Disrupsi Kemerdekaan dan Kebebasan Pers
Shinta menyarankan agar perintis startup memanfaatkan alat bantu dan teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
“Ada banyak aplikasi dan softwares yang bisa bantu atur flow pekerjaan, kayak Trello, Asana, atau Monday.com. Jangan lupa, sekarang ada juga AI tool yang bisa bikin kerja kamu lebih efisien dan efektif misalnya Chat GPT dan Mid Journey, yang bisa dipakai buat berbagai kebutuhan di perusahaan,” ujarnya.
Secara umum, Shinta mengatakan, bila ingin membangun startup, seseorang harus memiliki komitmen yang besar serta harus bisa konsisten terhadap visi misimu.
Kamu juga tidak boleh gagap teknologi (gaptek). Saat ini adalah era digital. Menggunakan kemajuan teknologi sebagai alat bantu jadi keharusan. Jika tidak memanfaatkan teknologi, orang akan tersapu zaman. (zvw)
Baca juga:
Bagikan
Hendaru Tri Hanggoro
Berita Terkait
Samsung Galaxy S26 Plus Muncul di Geekbench, Gunakan Chip Exynos 2600
Siri iOS 27: Si Chatbot Sakti Apple yang Bikin ChatGPT Kelihatan Jadul dan Kuno
Samsung Galaxy S26 Series Meluncur Februari 2026, ini Jadwal Lengkapnya
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Xiaomi Kids Watch Resmi Meluncur, Bisa Deteksi Mood Anak dengan Fitur Keamanan yang Enggak Main-Main
HP Gaming 'Monster' RedMagic 11 Air Siap Gebrak Pasar Global Pekan Depan, Spesifikasinya Bikin Merinding
Bocoran OPPO Find X9 Ultra, Bawa Teleconverter Baru dan Kamera Zoom 300mm
Redmi Note 15 Pro dan Note 15 Pro+ Siap Meluncur, Usung Kamera 200MP dan Baterai Jumbo
Perpres Akan Jadi Rujukan Hukum dan Etika Inovasi AI di Sektor Telekomunikasi
Xiaomi 17 Ultra Leica Edition Siap Meluncur Global, Sudah Muncul di NBTC Thailand