MerahPutih.com - Peristiwa unik terjadi saat KPU Maluku Utara (Malut) menggelar pleno rekapitulasi hasil pemilu 2019. Proses perhitungan diwarnai protes sesama kader Gerindra melaporkan kecurangan yang terjadi untuk mendulang suara tertinggi di partai.
Kejadian gontok-gontokan antara sesama caleg partai besutan Prabowo Subianto itu berawal ketika Komisioner KPU Malut, Buchari Mahmud memimpin pleno rekapitulasi untuk KPU Kota Ternate di Daffam Hotel, Jumat (10/5).
Caleg Partai Gerindra Dapil I Ternate-Halbar, Hamka Hasim yang hadir langsung memprotes hasil pleno rekapitulasi KPU Kota Ternate, karena terjadi kecurangan cukup signifikan dilakukan sesama caleg Partai Gerindra.
Pleno yang dipimpin Buchari itu tidak menanggapi permintaan Hamka Hasim, sehingga dia langsung mencoba mengejar Komisioner KPU Malut. Beruntung akasi Hamka dapat dihadang anggota kepolisian yang ditugaskan dalam pleno, sebagaimana dilaporkan Antara.
Ketika dihubungi, Hamka menyatakan banyak kecurangan terjadi di internal Partai Gerindra, karena suara yang dimilikinya untuk Kecamatan Kota Ternate Selatan dan Tengah dikurangi oleh caleg nomor urut 1 Wahda Zainal Imam, akibatnya suara yang dimilikinya di atas 500 suara hilang.
BACA JUGA: Hasil Survei Elektabilitas Gerindra Nyungsep Gara-Gara Hoaks
Menurut Hamka, dari data form C1 di PPK kecamatan Ternate Tengah dan Selatan, suaranya telah dikurangi sebanyak 80 suara, sedangkan Wahda Zainal Imam yang juga Ketua DPD Gerindra Malut digelembungkan menjadi 128 suara.
Begitu pula di Ternate Tengah, suara Hamka dikurangi 35 suara dan suara Wahda Zainal Imam naik menjadi 69 suara, sehingga suaranya berada di posisi kedua di Partai Gerindra dan tidak lolos mendapatkan satu kursi.
Berdasarkan pleno KPU hasil DPRD Provinsi, Partai Gerindra berhasil meraih suara 9663 suara dan berhak memiliki satu kursi dari 12 kursi di Dapil 1 Ternate-Halmahera Barat. Dalam pleno itu, caleg nomor urut 1 Partai Gerindra Wahda Zainal Imam meraih 3.645 suara dan caleg nomor urut 11 Hamka Hasim meraih 3.171 suara. (*)