MERAHPUTIH.COM - JURU Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait dengan frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Bahtra menilai diplomasi kepala negara tidak bisa disederhanakan hanya melalui sambungan telepon atau pertemuan virtual.
Menurut Bahtra, pihaknya menghormati setiap kritik dan masukan yang disampaikan kepada pemerintah. Namun, ia tidak sependapat dengan usul yang menyarankan Presiden mengurangi kunjungan luar negeri dan lebih banyak memanfaatkan teknologi komunikasi untuk berinteraksi dengan para pemimpin dunia.
“Kami menghargai semua masukan, termasuk yang disampaikan Pak Dino Patti Djalal. Namun, kami kurang sependapat kalau harus disederhanakan bahwa kunjungan presiden itu tidak perlu bertemu langsung dengan kepala-kepala negara lain,” kata Bahtra dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6).
Bahtra menjelaskan pertemuan tatap muka memiliki nilai diplomatik yang jauh lebih besar ketimbang komunikasi jarak jauh. Menurutnya, kehadiran Presiden secara langsung menunjukkan penghormatan kepada negara mitra sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai negosiasi strategis.
Baca juga:
Ia mengatakan setiap kunjungan Presiden biasanya juga melibatkan delegasi dari berbagai sektor, termasuk dunia usaha. Kehadiran Presiden dinilai dapat mempercepat pembahasan kerja sama ekonomi dan investasi yang membutuhkan komitmen tingkat tinggi.
Kalau negosiasi bertemu langsung kan bisa segera ditindaklanjuti, apalagi Presiden juga membawa delegasi yang berkaitan dengan investasi.
Juru Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong
Bahtra juga meminta agar kunjungan luar negeri Presiden tidak hanya dilihat dari sisi biaya yang dikeluarkan negara. Menurut dia, yang lebih penting yakni dampak ekonomi dan diplomatik yang dihasilkan dari setiap lawatan tersebut. Wakil Ketua Komisi II DPR ini mengutip pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menyebut kunjungan Presiden telah menghasilkan komitmen investasi senilai sekitar Rp 2.430 triliun untuk Indonesia.
Selain itu, Bahtra juga menilai diplomasi aktif Presiden turut memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara mitra strategis. Ia mencontohkan hubungan bilateral Indonesia dengan Prancis yang semakin erat, termasuk kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia dan keterlibatan Prabowo dalam sejumlah agenda penting di Prancis.
Menurut Bahtra, di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global, diplomasi langsung tetap menjadi instrumen penting untuk mengamankan kepentingan nasional.
“Jangan hanya melihat intensitasnya. Hal yang paling penting yakni melihat dampak dan manfaat yang dihasilkan dari setiap kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri,” tegasnya.(Pon)
Baca juga:

