Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Gaya Hidup

Sekut Nongkrong di Masa Pandemi, Waraskah?

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Minggu, 25 Oktober 2020
Sekut Nongkrong di Masa Pandemi, Waraskah?

Apakah waras nongkrong di masa pandemi. (Foto: Pexels/@ELEVATE)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBELUM pandemi melanda, setiap diajak nongkrong ya kali enggak kuy. Tiap malam minggu kali loncat sana-sini ke tempat-tempat gaul di ibu kota. Atau ngopi cantik di kafe-kafe estetik. Kalau lagi bokek, makan mie instan ditemani es teh manis di 'warung di atas normal' sudah lebih dari cukup rasanya.

Setiap ngumpul wajib banget tuh hukumnya, upload foto dan video haha-hihi buat dipamerin ke media sosial biar dianggap gaul dan punya banyak teman. Tapi itu kan dulu sebelum pandemi menyerang seperti negara api di seri animasi Avatar: The Last Air Bender.

Sekarang, nongkrong di tempat ramai menjadi hal yang ngeri-ngeri sedap. Apalagi kalau ada yang iseng posting di Instagram Story. Bisa-bisa langsung habis dihujat sama netizen maha benar dan dikatain covidiot. “Lagi pandemi gini kok malah ngumpul-ngumpul sih? Gila banget deh.”

Baca juga:

2 Jam Nonton di Bisokop Berujung 14 Hari Karantina, Apakah Sepadan?

Boro-boro upload foto pamer keseruan, sekarang ketemuan saja harus sembunyi-sembunyi supaya enggak ketahuan.

Mungkin dulu si introvert yang anti nongkrong malah dikatain cupu dan 'gila', karena enggak mau ikut seru-seruan. Tapi kini situasinya justru berbalik. Mereka yang tetap tinggal di rumah dianggap orang waras sesungguhnya.

Kini yang enggak ikut nongkrong bukan lagi si cupu dan enggak seru, mereka yang sekarang masih hobi nongkrong malah gantian dicengin.

Sekut Nongkrong di Masa Pandemi, Waraskah?
Sekarang nongkrong di masa pandemi bisa dihujat netizen. (Foto: Unsplash/@Drew Farwell)

Lantas gimana ya kisah mereka yang dulu hampir setiap hari nongkrong, sekarang mau enggak mau harus betah di rumah saja karena pandemi?

Inilah yang dirasakan Sisca dan Gaby. Ibarat ada tujuh hari dalam seminggu, mereka nongkrong delapan hari tiap pekan. Maksudnya, nongkrong tanpa henti. Jarang banget setelah kuliah atau kerja langsung pulang.

"Gue suka banget nongkrong. Ya nongkrong selalu tiap minggu sama orang tua, keluarga, atau pulang kampus sama temen-temen. Kalau ngerjain tugas juga gue pasti nongkrong di luar karena gue enggak suka di rumah," cerita Gaby.

Sisca pun juga hobi banget nongkrong. Bahkan kalau mengajak orang pergi dan ditolak biasanya seorang business analysist di perusahaan Innovation Consultant ini akan berkomentar, "Idih sok sibuk banget dah lu."

Bagi keduanya, nongkrong bukan hal yang keren atau istimewa. Menurut mereka nongkrong sudah jadi rutinitas yang dilakukan orang untuk bersosialisasi.

"Memang ketemu orang kalau enggak di tempat nongkrong dimana lagi," tanya Gaby. Namun ketika pandemi melanda dan mengharuskan mereka untuk tetap di rumah, keduanya berusaha untuk menaatinya.

Mereka mengaku tidak lagi nongkrong-nongkrong bersama teman selama pandemi. Sisca hanya pernah sekali pergi naik gunung. Sedangkan Gaby berusaha sebisa mungkin untuk tetap di rumah, dia hanya pergi ke supermarket atau beli makan untuk dibawa pulang.

Dari bisa nongkrong setiap hari kemudian enggak boleh pergi kemana-mana membuat keduanya merasa sedih. "Kangen teman-teman sih sudah pasti. Tapi enggak sampai stres karena kebetulan kita aktif buat sanity check via Zoom," jelas Sisca. Namun baginya pandemi ini tetap saja menyedihkan, karena dia tak lagi bisa beraktivitas. Seperti karaoke, memancing, berendam air panas, dan jalan-jalan ketika malam minggu.

Sekut Nongkrong di Masa Pandemi, Waraskah?
Ada banyak alternatif kegiatan lain yang bisa dilakukan selain nongkrong. (Foto: Pexels/@JESHOOTS.com)

Serupa dengan Sisca, Gaby juga merasakan hal yang sama. Namun sebagai seorang koas di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta, dia menyadari ada risiko yang lebih besar jika tetap nongkrong.

"Err, ya awalnya sedikit bete karena gue orangnya butuh keluar rumah, butuh sosialisasi tapi kan kita harus realistis. Bersosialisasi dan makan bisa dilakukan dalam bentuk lain kok, misal telepon atau video call," ungkap Gaby. "Karena pandemi ini risikonya enggak sebanding dengan apa yang lu dapatkan pas nongkrong," tambahnya.

Jadi daripada bersedih karena enggak bisa nongkrong, Sisca dan Gaby mengalihkannya dengan hal lain. "Distraksi terbesar gue adalah bekerja sih karena jam kerja masih sama. Tapi saat waktu kosong gue berusaha baca buku. Kalau lagi WFO waktu kosong cuma pas weekend dan itu pun penginnya tidur," jelas Sisca.

Sementara Gaby mengisi waktunya dengan nonton Netflix, janjian telepon Zoom, belajar masak, maupun berolahraga. "Banyak kok kegiatan lain yang bisa dilakukan. Daripada lu keluar terus sakit atau lebih para bawa virus pulang," tuturnya.

Baca juga:

Luangkan Waktu untuk Beristirahat Biar Tetap Waras

Ketika ditanya mengenai pandangan mereka tentang nongkrong di masa pandemi, keduanya punya jawaban yang berbeda. Buat Sisca nongkrong di masa pandemi tidak membuat orang jadi kurang bijaksana. "Tapi please protokol kesehatannya tetap dilakukan dan saat balik ke rumah langsung mandi dan semua baju langsung di cuci," katanya.

Sebaliknya, Gaby punya pendapat yang berbeda. "Sebagai orang yang berkecimpung dan belajar di dunia kesehatan, ya nongkrong tuh tidak bijaksana karena sebenarnya gampang banget bawa virus ke orang lain. Meskipun ada protokol kesehatan, apakah lu yakin ketika nongkrong lu benar-benar mematuhinya," jelasnya.

Menurut Gaby kita tidak akan bisa yakin 100 persen karena tidak melihat dampak langsung virus kepada kesehatan. Dia juga menambahkan bahwa penyebaran virus biasanya terjadi ketika makan.

"Lu pakai masker seharian terus lu makan dan bercakap-cakap cuma 15 menit buka masker. Itu tuh waktu yang cukup buat bawa-bawa virus ke tempat lain. Jadi ya itu (nongkrong) kurang bijaksana," lanjutnya.

Sekut Nongkrong di Masa Pandemi, Waraskah?
Pamer foto nongkrong di sosmed justru membuat collective sense of security seolah nongkrong sudah aman. (Foto: Pexels/@Andrea Piacquadio)

Gaby juga mengkritik orang-orang yang senang memamerkan foto pertemuannya di media sosial. "Dengan post di sosmed itu buat collective sense of security karena seolah-olah lu membuat nongkrong itu jadi sesuatu yang normal dan sudah aman dilakukan padahal seharusnya belum," katanya.

Mengenai hal ini, Sisca juga utarakan pendapat serupa. "Tujuan kalian pamer di sosmed tuh apa sih? Coba deh jelasin gue enggak paham," ujar Sisca.

Gaby mengatakan bahwa dia tidak bisa melarang orang untuk tidak boleh nongkrong sama sekali, karena banyak orang yang pekerjaannya memang di bagian food and beverage.

Maka dari itu pelanggan harus bertanggung jawab dan tahu diri untuk duduk berjauhan, memakai masker, serta menjalani peraturan lainnya. Menurutnya, kalau kita mau membantu industri ini semua orang harus bertanggung jawab.

Kalau tidak, berarti mereka ialah orang egois yang tidak peduli dengan kondisi diri sendiri dan orang lain. "Berpikir cerdas lah. Jangan cuma karena lu bosen doang. Apalagi kalau lu punya banyak akses menjalankan aktivitas lain. Selama bisa melakukan yang lain jangan nambah-nambahin risiko," saran Gaby. "Tahan dulu sampai kita bisa nongkrong normal lagi bersama-sama dengan lebih cepat," tambahnya.

Merasa jenuh dan bosan ketika dilarang melakukan kegiatan rutin memang sebuah hal yang wajar. Tapi perlu diingat bahwa virus COVID-19 ini menyebar lewat manusia lho.

Jadi warasnya berkumpul ramai-ramai seharusnya lebih dibatasi, bukan? Kalau ingin berkumpul sekalipun, pastikan kamu memiliki alasan kuat dan yakin bahwa dirimu sehat ya biar enggak merugikan diri sendiri apalagi orang lain. Tentunya biar enggak dikatain gila sama orang sekitar. (sam)

Baca juga:

Jadi Clean Freaks dan Ajak Semua Orang Melakukan Hal yang Sama

#Fashion #Oktober Satgas Waras #Gaya Hidup
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Samantha Samsuddin

Be the one who brings happiness
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fashion
Lakon Indonesia Hadirkan Koleksi HARSA, Rayakan Kebahagiaan dalam Setiap Proses Berkarya
Dari batik hingga bordir buatan tangan, Lakon Indonesia menghadirkan HARSA sebagai koleksi terbaru yang merayakan proses, craftsmanship, dan kebahagiaan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 16 Juli 2026
Lakon Indonesia Hadirkan Koleksi HARSA, Rayakan Kebahagiaan dalam Setiap Proses Berkarya
ShowBiz
Supple Rilis 'In A Mess', Angkat Keresahan Hidup Lewat Musik dan Pameran Seni Bersama BOOspace
Band alternatif Supple merilis single 'In A Mess' sebagai pembuka album terbaru sekaligus berkolaborasi dengan BOOspace lewat I AM BOOCLOTH EXHIBITION.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 06 Juli 2026
Supple Rilis 'In A Mess', Angkat Keresahan Hidup Lewat Musik dan Pameran Seni Bersama BOOspace
Fashion
JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Optimisme Memperkuat Masa Depan Ekosistem Fesyen Indonesia
Tahun ini, JF3 membawa tema 'Recrafted: Shaping the Future'.
Dwi Astarini - Sabtu, 04 Juli 2026
JF3 Fashion Festival 2026 Bawa Optimisme Memperkuat Masa Depan Ekosistem Fesyen Indonesia
Fashion
Indonesia Fashion Week 2026 Hadirkan Pengalaman Multisensori, Gandeng Dahlia Teh Keraton sebagai Signature Scent
BTN Indonesia Fashion Week 2026 menghadirkan inovasi baru lewat kolaborasi dengan Dahlia Teh Keraton sebagai Signature Scent.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 02 Juli 2026
Indonesia Fashion Week 2026 Hadirkan Pengalaman Multisensori, Gandeng Dahlia Teh Keraton sebagai Signature Scent
Fashion
ASICS Gandeng Isa Boulder Hadirkan HYPERSYNC dengan Sentuhan Craftsmanship Bali
Isa Boulder dikenal sebagai label fesyen yang mengedepankan eksplorasi material, teknik tekstil eksperimental, serta pendekatan body-conscious silhouette.
Dwi Astarini - Rabu, 01 Juli 2026
ASICS Gandeng Isa Boulder Hadirkan HYPERSYNC dengan Sentuhan Craftsmanship Bali
Fashion
Indonesia Fashion Week 2026 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Italia untuk Industri Mode
BTN Indonesia Fashion Week 2026 memperkuat kolaborasi Indonesia dan Italia melalui Italian Trade Agency dan ASSOMAC untuk mendorong inovasi industri mode nasional.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Indonesia Fashion Week 2026 Perkuat Kolaborasi Indonesia-Italia untuk Industri Mode
Fashion
Adidas Rilis Koleksi SS26 Summer Glow, Terinspirasi Iklim Tropis dan Kekayaan Artistik Indonesia
Koleksi ini terdiri dari atasan kemeja, tee, kaus lengan panjang, celana panjang dan pendek, celana bermuda, serta dua sepatu spesial.
Dwi Astarini - Jumat, 26 Juni 2026
Adidas Rilis Koleksi SS26 Summer Glow, Terinspirasi Iklim Tropis dan Kekayaan Artistik Indonesia
Fashion
Mahasiswa ESMOD Jakarta Bersinar dalam Trunk Show di BeautyFest Asia
ESMOD Jakarta memberikan panggung bagi para mahasiswa untuk memamerkan kemampuan mereka dalam menerjemahkan ide kreatif menjadi rancangan busana.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Mahasiswa ESMOD Jakarta Bersinar dalam Trunk Show di BeautyFest Asia
Fashion
Fenomena Unik Piala Dunia 2026: Banyak Pemain Pakai Sepatu Pink, Ternyata ini Alasannya!
Fenomena sepatu pink di Piala Dunia 2026 menjadi sorotan. Ternyata, ada beberapa alasan mengapa warna pink mendominasi ajang bergengsi tersebut.
Soffi Amira - Selasa, 16 Juni 2026
Fenomena Unik Piala Dunia 2026: Banyak Pemain Pakai Sepatu Pink, Ternyata ini Alasannya!
Fashion
Sewindu Perjalanan LAKON Indonesia, Bertumbuh Bersama Industri Fashion Tanah Air
Sejak awal didirikan, LAKON hadir dengan cita-cita melestarikan budaya supaya perajin Indonesia naik kelas.
Dwi Astarini - Selasa, 09 Juni 2026
Sewindu Perjalanan LAKON Indonesia, Bertumbuh Bersama Industri Fashion Tanah Air
Bagikan