MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus Rp 17.701 per dolar Amerika Serikat dinilai dapat memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Ida Nurlaela Wiradinata mengingatkan bahwa pelemahan kurs bukan sekadar persoalan indikator ekonomi makro, tetapi juga dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat.
“Rakyat desa memang tidak memakai dolar, tetapi setiap kenaikan kurs terasa di harga sembako dan biaya hidup. Negara harus hadir menjaga stabilitas ekonomi rakyat sampai ke desa,” kata Ida dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5).
Menurut politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, tekanan akibat pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ia mencontohkan industri rumah tangga seperti produsen tahu, tempe, roti, hingga olahan susu yang kini menghadapi kenaikan biaya produksi di tengah daya beli masyarakat yang sedang melemah.
“Kenaikan biaya impor dan distribusi berpotensi menekan pelaku UMKM, koperasi, serta rantai distribusi pangan yang menjadi tulang punggung ekonomi desa,” ujarnya.
Baca juga:
Masih Perlu 2 Bulan Lagi, Gubernur BI Berikan Janji Rupiah Menguat di Juli Nanti
Ida menegaskan pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga pangan. Ia meminta distribusi kebutuhan pokok ke daerah pelosok dipastikan tetap lancar dan pelaku usaha kecil mendapat perlindungan.
Selain itu, ia juga mendorong penguatan peran BUMN sektor pangan sebagai penyangga harga di tengah gejolak ekonomi global.
“Negara perlu memastikan stabilitas harga, kelancaran distribusi, dan perlindungan terhadap pelaku usaha kecil agar gejolak global tidak berubah menjadi beban ekonomi rakyat di tingkat akar rumput,” tutur Ida.
Baca juga:
Tekanan Global Masih Berat, Hari Ini Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.668 per Dolar
Dalam keterangannya, Ida turut menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas strategis. Gandum disebut masih sepenuhnya diimpor, sementara kedelai lebih dari 80 persen, bawang putih sekitar 98 persen, serta susu dan gula industri juga masih banyak didatangkan dari luar negeri.
“Ketika rupiah melemah tajam, biaya pengadaan semua komoditas itu langsung membengkak dalam hitungan hari,” katanya.
Ia menambahkan, konflik di Timur Tengah turut memperbesar tekanan ekonomi melalui kenaikan biaya logistik, premi asuransi, dan ongkos pengiriman laut internasional.
Menurut Ida, tanpa langkah intervensi yang cepat dan tepat, pelemahan rupiah berpotensi memperberat tekanan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa. (Pon)