Robot Berkamera untuk Pantau Kondisi Perut

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 26 Juni 2023
Robot Berkamera untuk Pantau Kondisi Perut

Pasien menelan perangkat magnetik seukuran pil dengan kamera kecil. (Foto: Twitter/@ClevelandClinic)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KETIKA pasien ruang gawat darurat mengeluh sakit perut, dokter memiliki pilihan terbatas. Pemindaian dan ultrasonografi tidak dapat menunjukkan lapisan dalam saluran pencernaan, sehingga pasien sering dipulangkan tanpa jawaban.

Endoskopi bagian atas, dengan tabung fleksibel berkamera kecil dimasukkan ke saluran pencernaan bagian atas, memerlukan anestesi dan hanya dapat dilakukan ahli gastroenterologi. Akibatnya, pasien harus dikirim ke departemen lain, dirawat di rumah sakit, atau disuruh kembali di hari lain. Prosedur yang panjang itu dapat menunda diagnosis dan pengobatan kondisi yang berpotensi mengancam jiwa seperti kanker perut atau tukak berdarah.

BACA JUGA:

Perempuan Punya Masalah Tidur yang Kompleks

Namun, kini ada teknologi baru dapat mempercepat dalam diagnosis sakit perut, membuatnya lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan. Teknologi baru ini melibatkan kamera kecil, magnet besar, dan dua joystick seperti yang digunakan dalam video game. Teknologi yang dikenal sebagai endoskopi kapsul yang dikendalikan secara magnetis tersebut baru-baru ini diuji di AS untuk pertama kalinya.

usus
Teknologi baru ini melibatkan kamera kecil, magnet besar, dan dua joystick seperti yang digunakan dalam video game. (Foto: YouTube/AnX Robotica)

Cara kerjanya seperti ini: pasien menelan perangkat magnetik seukuran pil dengan kamera kecil. Kemudian mereka berbaring telentang dengan magnet berbentuk kubah melayang di atas perut mereka. Dengan menggunakan joystick, seorang dokter akan mengontrol magnet, mengarahkan kapsul di sekitar perut dan mengambil gambar secara real time yang dapat ditinjau ahli gastroenterologi di luar lokasi.

"Saya seperti bisa menggerakkan kapsul dan menyeretnya," kata penulis studi Andrew Meltzer, MD yang juga merupakan profesor kedokteran darurat di Sekolah Kedokteran & Ilmu Kesehatan George Washington.

“Jika saya mendekatkan magnet ke pasien, kapsul akan terangkat ke arah depan perut mereka, dan jika saya menarik magnet menjauh, kapsul akan jatuh. Saya juga bisa memutar kapsul dan melihat ke segala arah,” ujarnya seperti diberitakan WebMD (23/6).

Dalam studi percontohan, dokter ruang gawat darurat mampu memandu kapsul melalui perut 40 pasien, mengidentifikasi bagian-bagian utama perut dengan benar 95 persen.

Lensa sudut lebar kapsul menangkap enam gambar per detik yang terlihat seperti video yang relatif mulus, Meltzer menambahkan.

Prosedur endoskopi standar kemudian akan mengecek dan menegaskan bahwa kapsul tidak mengabaikan keberadaan lesi berisiko tinggi.

BACA JUGA:

Resolusi Kurus di 2023, Mulai Kurangi Lemak di Perut

Penggunaan endoskopi kapsul

dokter
Penelitian yang lebih besar diperlukan untuk memastikan keakuratan kapsul. (Foto: YouTube/AnX Robotica)

Studi ini didasarkan pada penelitian endoskopi kapsul magnetik di Tiongkok, di mana sebagian besar rumah sakit sudah menggunakan teknologi tersebut karena tingkat kanker perut yang tinggi di negara itu.

Teknologi tersebut, yang juga telah dipelajari di Inggris, Hungaria, dan Italia, telah terbukti efektif dalam skrining kanker perut.

“Jika ini seakurat endoskopi, dan risiko serta biaya bagi pasien jauh lebih rendah, maka mungkin kami akan mempertimbangkan skrining yang lebih luas untuk kanker lambung,” kata Meltzer.

Sejak awal 2000-an, kapsul endoskopi telah digunakan untuk mengevaluasi usus kecil, dan baru-baru ini, usus besar, menurut Shabana F. Pasha, MD, seorang ahli endoskopi usus kecil dan seorang profesor kedokteran di Mayo Clinic Arizona.

Namun, kapsul nonmagnetik ini didorong oleh gravitasi dan gerak peristaltik, gerakan alami saluran pencernaan, membuatnya kurang efektif di organ besar seperti perut.

“Saluran GI bagian atas sangat menantang untuk dievaluasi dengan kapsul, karena ketidakmampuan kita untuk mengontrol pergerakannya. Mereka pada dasarnya tersandung melalui usus,” kata Pasha, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Di situlah teknologi joystick berperan, di mana kami sekarang dapat melakukan manuver kapsul yang dikendalikan secara magnetis dan memvisualisasikan seluruh perut dan tengara penting dengan cara non-invasif,” katanya.

Meltzer memperingatkan bahwa penelitian yang lebih besar diperlukan untuk memastikan keakuratan kapsul, termasuk pemeriksaan pasien berisiko tinggi, yang mungkin menderita dispepsia atau gastritis.

Kapsul ini juga dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk mensurvei seluruh perut secara mandiri, tanpa memerlukan joystick. Di masa depan, kapsul berpotensi melakukan biopsi dan memberikan terapi untuk lesi perdarahan.(aru)

BACA JUGA:

Sakit Perut Bagian Kiri Indikasi Gangguan Kesehatan pada Tubuh

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Bagikan