MerahPutih.com - Pada Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan AS dan Israel terhadap Iran dan membuat kondisi ekonomi dalam tekanan.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi berbagai skenario harga minyak dalam satu tahun anggaran.
Menurutnya, kenaikan harga minyak pada tingkat tertentu masih dapat diserap oleh APBN.
"Tetapi jika kenaikannya sangat ekstrem, tentu akan kami hitung kembali untuk menyesuaikan kebijakan yang diperlukan,” ujarnya seusai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta dikutip Rabu (4/3).
Baca juga:
Menlu Sugiono Hubungi Pejabat AS dan Iran Minta Turunkan Eskalasi
Menkeu juga memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menghadapi potensi krisis global berkepanjangan, termasuk dampak eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, salah satu faktor yang menopang kekuatan fiskal Indonesia adalah peningkatan penerimaan negara pada awal 2026.
Penerimaan dari pajak serta bea dan cukai selama Januari hingga Februari 2026 tercatat tumbuh sekitar 30 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya perbaikan aktivitas ekonomi serta kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
"Angka ini sangat signifikan. Artinya ada perbaikan yang cukup besar pada kondisi ekonomi dan perilaku masyarakat terkait pajak serta bea cukai,” kata Purbaya
Purbaya menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan simulasi terhadap berbagai kemungkinan kondisi ekonomi global.
Berdasarkan analisis sementara, kondisi fiskal Indonesia dinilai masih dalam kategori baik sehingga mampu menopang ketahanan APBN. Pemerintah menilai kemampuan anggaran negara tetap memadai meski terjadi tekanan ekonomi global.
“Berdasarkan analisis sementara, anggaran masih cukup baik sehingga tidak ada masalah,” ujar Purbaya.
Dampak konflik ini, diproyeksikan setiap kenaikan satu dolar AS minyak mentah Indonesia (ICP) berpotensi menambah defisit Rp 6,8 triliun.
Sementara itu, pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS berdampak Rp 0,8 triliun terhadap defisit, dan kenaikan imbal hasil (yield) 0,1 persen berpotensi menambah beban Rp 1,9 triliun.