Produktivitas 'Sawit Rakyat' Belum Optimal, Tata Kelola Kebijakan Dinilai Jadi Penghambat

Soffi AmiraSoffi Amira - Senin, 09 Maret 2026
Produktivitas 'Sawit Rakyat' Belum Optimal, Tata Kelola Kebijakan Dinilai Jadi Penghambat

Produktivitas Sawir Rakyat alami keterbatasan. Foto: Dok. Prasasti

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Peningkatan produktivitas Sawit Rakyat akan terus mengalami keterbatasan selama persoalan tata kelola, akses modal, dan skala usaha petani belum dibenahi secara sistemik.

Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi mengungkapkan, tanpa reformasi kebijakan yang lebih terorkestrasi, potensi besar sawit rakyat sebagai fondasi industri nasional berisiko tidak tercapai secara optimal.

Gundy juga menambahkan, persoalan produktivitas sawit rakyat tidak dapat dilepaskan dari desain tata kelola kebijakan yang masih terfragmentasi.

"Petani sawit berada di hilir dari berbagai kebijakan yang saling tidak terhubung," ujar Gundy.

Baca juga:

Indonesia Lanjutkan Gugatan ke Uni Eropa Soal Minyak Sawit, Penangguhan Konsesi Jadi Isu

Pada praktiknya, para petani menghadapi persoalan legalitas, akses program, dan perizinan yang melibatkan banyak institusi dengan aturan yang berbeda.

Menurutnya, posisi petani yang berada di ujung implementasi kebijakan membuat berbagai program peningkatan produktivitas sering kali tidak efektif di tingkat pelaksanaan.

Tanpa orkestrasi kebijakan yang lebih terkoordinasi, upaya memperbaiki kinerja sawit rakyat berisiko berhenti pada level desain program, tanpa menghasilkan dampak nyata di lapangan.

Dampak dari persoalan tersebut tercermin dalam pelaksanaan program peremajaan sawit rakyat yang menjadi instrumen utama peningkatan produktivitas nasional.

Baca juga:

Sengketa Minyak Sawit, Indonesia Minta Uni Eropa Segera Implementasikan Putusan WTO

Pakar agribisnis dan pertanian, Tungkot Sipayung menilai, bahwa secara teknis Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat secara signifikan.

Namun, potensi tersebut belum terealisasi karena berbagai hambatan struktural di luar aspek teknis budidaya.

"Produktivitas kebun sawit rakyat saat ini masih sekitar tiga ton per hektar, padahal potensi varietas bisa mencapai delapan hingga sepuluh ton. Target realistisnya adalah lima ton perhektar," ujar Tungkot.

Menurutnya, persoalan utama bukan berada pada aspek teknologi, melainkan pada tata kelola kebijakan. Ia menjelaskan bahwa ketidaksinkronan kebijakan yang berlangsung selama bertahun-tahun telah menimbulkan berbagai hambatan struktural, terutama pada aspek legalitas lahan, perizinan, dan kelembagaan petani.

Kondisi tersebut membuat petani sulit meningkatkan skala usaha dan mengakses program peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.

Berdasarkan perspektif perencanaan pembangunan, Tenaga Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Frans BM Dabukke menegaskan, bahwa tantangan utama peningkatan produktivitas sawit rakyat berada pada aspek adopsi dan implementasi kebijakan di tingkat lapangan.

"Dari sisi teknologi dan benih, Indonesia sebenarnya tidak tertinggal," kata Frans.

Baca juga:

Prabowo Sebut Kelapa Sawit 'Miracle Crop', Ungkap Alasan Prioritaskan Pengembangannya

Namun, di lapangan tantangannya adalah bagaimana kebijakan dapat diterjemahkan dan dijalankan secara efektif di tingkat pekebun rakyat melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Ia menambahkan bahwa penguatan ekosistem industrialisasi sawit ke depan harus mencakup pembenahan kelembagaan dan tata kelola agar peningkatan produktivitas petani dapat berjalan seiring dengan agenda peningkatan nilai tambah dan keberlanjutan.

Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Lupi Hartono mengatakan, bahwa kendala tata kelola menjadi faktor utama yang mempengaruhi realisasi program di lapangan.

“Peremajaan sawit rakyat kami prioritaskan karena produktivitas kebun petani sudah menurun. Namun, realisasinya masih terkendala persoalan legalitas lahan dan perizinan,” ujar Lupi.

Ia menambahkan, meskipun skema pembiayaan dan dukungan teknis telah tersedia, percepatan program akan sulit dicapai tanpa pembenahan kebijakan lintas sektor yang lebih terintegrasi.

Hal ini menunjukkan bahwa tantangan produktivitas sawit rakyat tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan struktur tata kelola yang ada. (Asp)

#Kelapa Sawit #Bappenas #Industri Sawit
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Koperasi Bakal Dilibatkan Dalam Rantai Bisnis Sawit, Bukan Hanya Kelola Kebun
Kementerian Koperasi akan meresmikan pabrik CPO berbasis koperasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, pada akhir Juli atau awal Agustus 2026.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 03 Juli 2026
Koperasi Bakal Dilibatkan Dalam Rantai Bisnis Sawit, Bukan Hanya Kelola Kebun
Indonesia
BBM B50 Diklaim Kuatkan Nilai Tambah Komoditas Sawit dan Hemat Impor BBM Ratusan Triliun
Data Kementerian ESDM, implementasi program biodiesel selama 2015 - 2025 berhasil menghemat devisa Rp 722,9 triliun
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 29 Juni 2026
BBM B50 Diklaim Kuatkan Nilai Tambah Komoditas Sawit dan Hemat Impor BBM Ratusan Triliun
Indonesia
Mentan Lapor ke Presiden Prabowo Harga Sawit Petani sudah Kembali Normal
Pemerintah sangat memperhatikan perkembangan harga TBS di tingkat petani karena tidak ingin petani sawit merugi ketika harga CPO dunia meningkat.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Mentan Lapor ke Presiden Prabowo Harga Sawit Petani sudah Kembali Normal
Berita
Harga TBS Jatuh, Satgas Pangan Polri Lakukan Penyelidikan ke 173 Pabrik Kelapa Sawit
Sampai saat ini proses penyelidikan masih terus berlangsung untuk mencari dan menemukan apakah terdapat peristiwa pidana yang terjadi atau tidak.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 23 Juni 2026
Harga TBS Jatuh, Satgas Pangan Polri Lakukan Penyelidikan ke 173 Pabrik Kelapa Sawit
Indonesia
STDB Jadi Kunci Peningkatan Produktivitas Petani Sawit Swadaya
STDB yang mencakup informasi geospasial, bisa juga digunakan sebagai data untuk dukungan bantuan yang diberikan pada petani sawit swadaya yang lebih tepat sasaran.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 23 Juni 2026
STDB Jadi Kunci Peningkatan Produktivitas Petani Sawit Swadaya
Indonesia
Pemerintah Tetap Pertahankan HET MinyaKita Rp 15.700 per Liter, ini Alasannya
Pemerintah memutuskan harga MinyaKita tetap Rp 15.700 per liter. Daya beli masyarakat tetap dijaga meski harga minyak sawit dunia naik.
Soffi Amira - Selasa, 23 Juni 2026
Pemerintah Tetap Pertahankan HET MinyaKita Rp 15.700 per Liter, ini Alasannya
Indonesia
130 Perusahaan Sawit Belum Naikkan Harga TBS Setelah Penguman Ekspor Satu Pintu Pemerintah
pemerintah bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan masih terus memantau perusahaan yang belum melakukan penyesuaian harga tersebut.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 17 Juni 2026
130 Perusahaan Sawit Belum Naikkan Harga TBS Setelah Penguman Ekspor Satu Pintu Pemerintah
Berita
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Pintu Masuk Kuatkan Posisi Tawar Petani
Hingga saat ini, sekitar 22 ribu petani telah tergabung dalam jaringan FORTASBI, yang berasal dari sekitar 40 ribu petani sawit swadaya bersertifikat di Indonesia.
Alwan Ridha Ramdani - Sabtu, 13 Juni 2026
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Pintu Masuk Kuatkan Posisi Tawar Petani
Indonesia
Pemerintah Minta Harga TBS Naik, Lindungi 15 Juta Petani Sawit dari Praktik Under Invoicing
Mentan Amran memerintahkan perusahaan untuk menaikkan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani minimal 10 persen.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
 Pemerintah Minta Harga TBS Naik, Lindungi 15 Juta Petani Sawit dari Praktik Under Invoicing
Indonesia
Harga Kelapa Sawit Turun saat Nilai Minyak Mentah Dunia Naik, Polisi Duga Ada Permainan Kartel
Mengindikasikan adanya praktik yang perlu ditelusuri lebih lanjut karena harga TBS justru turun ketika berbagai indikator pasar menunjukkan tren yang positif.
Dwi Astarini - Senin, 08 Juni 2026
Harga Kelapa Sawit Turun saat Nilai Minyak Mentah Dunia Naik, Polisi Duga Ada Permainan Kartel
Bagikan