Merahputih.com - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memastikan perlindungan maksimal bagi ratusan ribu tenaga kerja di tengah ambisi Jakarta bertransformasi menjadi kota global.
Langkah ini diambil menyusul tingginya mobilitas pekerja yang berbanding lurus dengan risiko kecelakaan kerja dan penyakit di lingkungan profesional.
Baca juga:
Pramono Anung Minta Percepat Perbaikan Jalan Dikebut Buntut Pelajar Tewas di Matraman
Fondasi Daya Saing Global
Pramono Anung menegaskan bahwa penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bukan sekadar formalitas, melainkan investasi strategis untuk meningkatkan kepercayaan pasar internasional. Menurutnya, pengelolaan K3 yang solid berbanding lurus dengan moralitas karyawan dan efisiensi operasional perusahaan.
“Aspek K3 menjadi fondasi yang sangat penting. Pengelolaan K3 yang baik berdampak langsung pada perlindungan tenaga kerja, peningkatan moral dan kepercayaan pekerja, produktivitas perusahaan, serta daya saing nasional,” tegas Pramono.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri Apel Bulan K3 Provinsi DKI Jakarta dan Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Tahun 2026 di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD), Jakarta Timur, Senin (9/2).
Baca juga:
Kelakar ke JK, Pramono Ogah Masuk Gorong-Gorong Saat Kerja Bakti
Komitmen Transformasi Budaya Kerja
Menghadapi kompleksitas dunia kerja di ibu kota, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong perusahaan-perusahaan untuk melakukan evaluasi mandiri secara berkesinambungan.
Pramono memberikan instruksi khusus kepada jajaran Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) agar tidak lengah dalam mengawasi implementasi aturan di lapangan.
“Jakarta sebagai kota global dengan jumlah pekerja yang sangat besar harus menjadikan budaya keselamatan dan kesehatan kerja sebagai prioritas utama,” ujar Pramono menambahkan.
Pramono Anung berharap momentum ini menjadi titik balik bagi ekosistem industri di Jakarta untuk lebih memanusiakan pekerja. Dengan budaya K3 yang kuat, Jakarta optimis mampu bersaing di kancah global tanpa mengesampingkan faktor keselamatan nyawa manusia.