Prabowo Temui 50 Pengusaha AS, Rosan: Mereka Mau Tambah Investasi di Indonesia
Presiden RI, Prabowo Subianto. Foto: YouTube/Setpres
MerahPutih.com - Presiden RI, Prabowo Subianto, menjamu sekitar 50 pengusaha asal Amerika Serikat (AS) yang tergabung dalam Dewan Bisnis AS-ASEAN di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12).
Turut mendampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani dan Duta Besar AS untuk Indonesia Kamala Shirin Lakhdir, serta Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Rosan Roeslani mengatakan, lebih dari 50 perusahaan hadir di Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Prabowo.
Menurut Rosan, mereka yakin dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa mendatang. Sebagian besar dari mereka sudah berinvestasi di Indonesia.
Baca juga:
Prabowo Wanti-wanti Menko Infra hingga TNI-Polri Hadapi Nataru
“Saya sudah bertemu dengan beberapa dari mereka, dan mereka ingin lebih banyak investasi di Indonesia," beber Rosan yang ikut mendampingi Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Rosan, para pengusaha ingin lebih banyak berinvestasi di Indonesia karena stabilitas dan perdamaian yang menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia.
Selain itu, kata Rosan, para pengusaha juga meyakini kepemimpinan baru dari Presiden Prabowo akan memberi lebih banyak kenyamanan.
Hal itu terlihat dari kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto ke AS dan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Joe Biden.
Baca juga:
Investasi AS di Indonesia Ciptakan Dampak Ekonomi Sebesar USD 130 Miliar
"Mereka (para pengusaha) akan berada di sini selama beberapa hari. Mereka juga akan bertemu dengan para menteri, serta beberapa perusahaan," ujar Rosan.
Sementara itu, President & CEO of the US-ASEAN Business Council (US-ABC), Ted Osius menyebutkan, para pengusaha Amerika berkomitmen untuk mendukung program-program prioritas Prabowo, termasuk yang tertuang dalam visi Asta Cita.
"Kami mendukung program-program prioritas Anda, dan program-program awal yang telah Anda tetapkan, dan Anda telah menetapkan 17 misi yang akan dilakukan Indonesia," sebut Ted Osius.
Bahkan, Ted menyebut US-ABC sudah bekerja sama dengan LPEM FEB Universitas Indonesia untuk melakukan analisis, saran praktik terbaik, hingga rekomendasi kebijakan di berbagai sektor seperti pangan dan pertanian, teknologi informasi, ekonomi digital, kesehatan dan ilmu hayati, energi dan sumber daya mineral untuk pemerintahan Prabowo.
Baca juga:
Gerindra DIY Sebut Kenaikan UMP Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Nasional
"Dan sebagai upaya nyata pertama yang ingin kami sampaikan kepada Anda dan semua menteri dan kepala lembaga yang kita temui minggu ini, sebuah laporan ikhtisar sektor yang berjudul menavigasi peluang, memelihara kebijakan ekonomi yang dinamis di Indonesia," beber Ted Osius.
Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Kamala Shirin Lakhdhir mengatakan, para pengusaha AS telah memiliki komitmen untuk berinvestasi lebih banyak di Indonesia.
"Dan saya tahu bahwa saya diminta untuk bekerja sedekat mungkin dengan pemerintah baru untuk mendukung tujuan bersama kita," pungkasnya. (Knu)
Bagikan
Joseph Kanugrahan
Berita Terkait
Prabowo Minta Masyarakat Hadapi Musibah dengan Ikhlas, Janji Tak Pernah Lari dari Rakyat
Natal 2025 Jadi Momentum Solidaritas Sosial, Prabowo: Hati Kita Tertuju Pada Sumatera
Update Harga Emas Kamis (25/12): Naik 3 Hari Beruntun, UBS dan Galeri24 Kompak Menguat
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Perintahkan Semua Kantor Desa Diaudit, Menkeu Purbaya Didemo Para Kades
Prabowo Tegaskan Penertiban Kawasan Hutan: Kita Lawan Penyimpangan Puluhan Tahun!
Satgas PKH Rebut 4 Juta Hektare Hutan, 20 Perusahaan Sawit dan 1 Tambang Ditagih Denda Rp 2,3 Triliun
Kejagung Selamatkan Rp 6,6 Triliun, Prabowo: Bisa Bangun 100 Ribu Rumah untuk Korban Bencana
Pengguna Pintu Futures Naik 37 Persen di Tengah Penurunan BTC 2025
Strategi Buy The Dip Kripto 2025, Begini Cara Cuan Saat Harga Turun
DCA Jadi Solusi Sederhana Tapi Efektif Tanpa Takut Terjebak Volatilitas Ekstrem