Polisi Berjaga, Antisipasi Protes dan Kekerasan yang Meningkat Jelang Putusan Pemakzulan Yoon Suk-yeol

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 07 Maret 2025
Polisi Berjaga, Antisipasi Protes dan Kekerasan yang Meningkat Jelang Putusan Pemakzulan Yoon Suk-yeol

Pendukung Presiden Korsel yang Dimakzulkan Yoon Suk Yeol mengibarkan bendera Amerika Serikat. (Foto: YouTube/Global News)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - POLISI Korea Selatan dikabarkan akan mengerahkan semua sumber daya yang tersedia untuk mencegah kerusuhan sipil potensial pada hari keputusan Mahkamah Konstitusi mengenai pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol. Keputusan itu diharapkan akan diumumkan akhir bulan ini.

Rencana ini disiapkan setelah berkaca dari insiden di Pengadilan Distrik Barat Seoul pada Januari lalu. Saat itu, para demonstran sayap kanan yang mendukung Suk-yeol menyerbu gedung pengadilan, menyebabkan bentrokan fisik dengan polisi dan kerusakan properti. Mengingat perpecahan tajam terkait pemakzulan presiden terjadi di 'Negeri Ginseng', kekhawatiran meningkat bahwa mereka yang menentang putusan tersebut dapat berubah menjadi kekerasan.

Sebelumnya, ketika pemakzulan Park Geun-hye disahkan pada 10 Maret 2017, protes oleh para pendukungnya menyebabkan empat orang tewas. Kematian tersebut disebabkan dorongan massa, masalah jantung, dan speaker yang jatuh.

Potensi sasaran kekerasan mencakup tidak hanya pengadilan, tetapi juga kedutaan asing di Korea. Oleh karena itulah, polisi juga berencana memperkuat penjagaan.

"Kami akan mengerahkan semua kekuatan polisi untuk mencegah terulangnya kekerasan dan menghalangi bentrokan fisik antara mereka yang pro dan kontra pemakzulan Suk-yeol," kata Lee Ho-young, pejabat kepala Sementara Kepolisian Nasional, merujuk kemungkinan kekerasan yang meletus di Mahkamah Konstitusi.

Baca juga:

Korea Memanas, Ribuan Orang akan Turun ke Jalan Terkait Pemakzulan Yoon Suk Yeol



Hingga Kamis (6/3), hampir 600 unggahan yang menyertakan kata 'kerusuhan diunggah di papan pengumuman daring Mahkamah Konstitusi sejak persidangan pemakzulan dimulai pada 14 Januari. Sebagian besar unggahan itu memperingatkan bahwa putusan pengadilan terhadap pemakzulan Suk-yeol akan memicu kerusuhan besar-besaran.

Ancaman serupa dan pernyataan kekerasan telah menyebar di dunia maya. Aksi protes offline menjadi semakin agresif belakangan ini. Para peserta sering mengancam akan menghancurkan Mahkamah Konstitusi dan Komisi Pemilihan Nasional. Para demonstran sayap kanan telah menuduh komisi tersebut melakukan kecurangan pemilu, klaim yang didorong Suk-yeol.

Polisi berencana mengeluarkan siaga tingkat tertinggi pada hari putusan, yang biasanya dikeluarkan pada acara protes besar yang melibatkan kekerasan atau serangan teroris, atau ketika kejadian tersebut amat mungkin akan terjadi. Dengan siaga tersebut, semua petugas polisi dilarang untuk cuti dan harus siap dimobilisasi. Terakhir kali siaga ini diberlakukan ialah pada 2010, saat KTT G-20 diadakan di Seoul.

Polisi juga mempertimbangkan untuk mengerahkan unit operasi khusus di dekat Mahkamah Konstitusi untuk menangani operasi penyelamatan jika terjadi insiden keamanan, seperti penumpukan orang. Keamanan juga akan diperkuat di kedutaan AS, Jepang, dan China di Seoul. Hal itu dilakukan berdasarkan penilaian bahwa kedutaan ini dapat menjadi sasaran bergantung pada putusan yang dikeluarkan.

Langkah-langkah pengamanan yang meningkat untuk kedutaan ini mengikuti insiden awal tahun ini ketika seorang yang diduga pendukung Suk-yeol mencoba menyerbu Kedutaan China. Protes anti-China dan tuduhan campur tangan China dalam pemilu Korea telah mendapatkan momentum di kalangan pendukung Suk-yeol.

Mobil patroli telah ditempatkan di rumah para hakim Mahkamag Konstitus. Tim keamanan khusus telah dikerahkan untuk memastikan keselamatan mereka. Polisi berencana membatasi akses di sekitar Stasiun Anguk dan Mahkamah Konstitusi, lokasi protes, baik pendukung maupun penentang pemakzulan akan berlangsung.

Kantor Pendidikan Distrik Jungbu Seoul mengatakan sekolah-sekolah di sekitar pengadilan mungkin akan ditutup pada hari putusan karena kekhawatiran terhadap protes kekerasan.(dwi)

Baca juga:

Yoon Suk-yeol Keukeuh Bela Dekret Darurat dalam Sidang Terakhir Pemakzulan, tapi Tetap Minta Maaf

#Korea Selatan #Yoon Suk Yeol #Pemakzulan
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

ShowBiz
Film Pendek Natal Shin Woo Seok Resmi Rilis, Lagu 'The Christmas Song' yang Byeon Woo Seok Jadi Sorotan
Film pendek Natal Shin Wooseok’s Urban Fairy Tale: The Christmas Song Part 1 resmi dirilis. Dibintangi Karina aespa, Jang Wonyoung, hingga Byeon Woo Seok.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 25 Desember 2025
Film Pendek Natal Shin Woo Seok Resmi Rilis, Lagu 'The Christmas Song' yang Byeon Woo Seok Jadi Sorotan
ShowBiz
Chef Paik Jong-won Balik ke TV, Diam-Diam Hapus Video Pengumuman Hiatus
Video yang dihapus itu berisi permintaan maaf Chef Paik terkait dengan isu pelanggaran label asal produk, iklan menyesatkan, serta tuduhan penyalahgunaan siaran.
Dwi Astarini - Selasa, 25 November 2025
Chef Paik Jong-won Balik ke TV, Diam-Diam Hapus Video Pengumuman Hiatus
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA] : Surat sudah di Tangan DPR, Wapres Gibran Resmi Dimakzulkan dari Jabatannya
Hingga saat ini, Gibran Rakabuming masih menjabat Wakil Presiden RI masa bakti Oktober 2024-Oktober 2029.
Dwi Astarini - Rabu, 12 November 2025
[HOAKS atau FAKTA] : Surat sudah di Tangan DPR, Wapres Gibran Resmi Dimakzulkan dari Jabatannya
Fashion
JF3 Fashion Festival Bawa Industri Mode Indonesia ke Kancah Global, akan Tampil di Busan Fashion Week 2025
JF3 Fashion Festival mewujudkan visi Recrafted: A New Vision demi mengangkat kreativitas dan keahlian tangan Indonesia ke tingkat global melalui kolaborasi dan inovasi berkelanjutan.
Dwi Astarini - Selasa, 11 November 2025
JF3 Fashion Festival Bawa Industri Mode Indonesia ke Kancah Global, akan Tampil di Busan Fashion Week 2025
Indonesia
Prabowo Akui Belajar soal Etos Kerja dari Orang Korea, Natal dan Idul Fitri Tetap Latihan
Menyebut Korea bangsa yang tangguh.
Dwi Astarini - Kamis, 06 November 2025
Prabowo Akui Belajar soal Etos Kerja dari Orang Korea, Natal dan Idul Fitri Tetap Latihan
Indonesia
Bukan Oppa K-Pop! Ternyata Inilah Idola Utama Presiden Prabowo Subianto dari Korea Selatan
Hal ini disampaikan saat meresmikan PT Lotte Chemical Indonesia, pabrik petrokimia terbesar se-Asia Tenggara di Cilegon
Angga Yudha Pratama - Kamis, 06 November 2025
Bukan Oppa K-Pop! Ternyata Inilah Idola Utama Presiden Prabowo Subianto dari Korea Selatan
Indonesia
Penyelundupan hingga Narkotika Bikin Prabowo ‘Ngeri’, Dianggap Jadi Bahaya Nyata bagi Masa Depan Perekonomian
Penyelundupan, penipuan, pencucian uang, perdagangan manusia, dan narkotika merupakan bahaya nyata bagi masa depan perekonomian kita.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Oktober 2025
Penyelundupan hingga Narkotika Bikin Prabowo ‘Ngeri’, Dianggap Jadi Bahaya Nyata bagi Masa Depan Perekonomian
Dunia
KTT APEC Bakal Hasilkan Deklarasi Gyeongju Dan Kesepakatan Kecerdasan Artifisial
Pemimpin APEC akan membahas upaya menjadikan kawasan Asia-Pasifik lebih terbuka, dinamis, dan tangguh dalam diskusi itu.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 31 Oktober 2025
KTT APEC Bakal Hasilkan Deklarasi Gyeongju Dan Kesepakatan Kecerdasan Artifisial
Indonesia
Ketegangan Global di Depan Mata, Prabowo Peringatkan semua Pemimpin APEC tak Saling Curiga dan Bangkit dari Ketakutan
Prabowo mengatakan APEC sejak awal didirikan dengan semangat pertumbuhan ekonomi inklusif dan kerja sama multilateral.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Oktober 2025
Ketegangan Global di Depan Mata, Prabowo Peringatkan semua Pemimpin APEC tak Saling Curiga dan Bangkit dari Ketakutan
Indonesia
Tersentuh Sikap Hangat Prabowo, Pekerja Migran di Korea: Beliau Seperti Sosok Ayah bagi Kami
Pekerja migran Indonesia di Korea Selatan mengaku tersentuh dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto yang dinilai hangat dan penuh kepedulian saat kunjungan di sela KTT APEC 2025.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 31 Oktober 2025
Tersentuh Sikap Hangat Prabowo, Pekerja Migran di Korea: Beliau Seperti Sosok Ayah bagi Kami
Bagikan