Pesan Cinta dalam Gingerbread Khas Natal
Gingerbread jadi sajian khas Natal. (foto: unsplash/myriam zilles)
NATAL dan gingerbread atau kue jahe jadi hal yang tak terpisahkan. Kue dengan rasa rempah khas ini memang jadi sajian wajib di kala Natal. Cita rasa rempah kue ini terasa pas dinikmati di saat cuaca mulai dingin pada Desember.
Selain cita rasa yang hangat, gingerbread juga punya bentuk yang khas. Dulunya, gingerbread enggak berbentuk lucu-lucu dan beraneka warna seperti sekarang ini. Zaman dulu, kue satu ini dibentuk dalam karakter raja atau simbol agama.
BACA JUGA:
The Gingerbread Boook menyebut kue jahe pertama kali digunakan orang-orang di Yunani kuno dan Mesir untuk tujuan seremonial. Kue itu kemudian menyebar ke Eropa saat pasukan Perang Salib kembali ke sana di abad ke-11. Mereka membawa berbagai rempah, termasuk jahe. Ketika itu, rempah-rempah hanya digunakan sebagai bahan masakan bagi orang-orang kaya.
Orang Eropa membuat gingerbread dari kacang almond, remahan roti, air mawar, gula, dan jahe. Adonan itu kemudian digulung dan dibentuk seperti raja, kaisar, ratu, dan simbol agama. Tidak lupa, kue itu juga dihias dengan cairan emas atau lapisan gula.
Di abad pertengahan, kue jahe jadi sajian favorit di berbagai festival. Di zaman itu, kue jahe dibentuk layaknya bunga, burung, binantang, bahkan baju zirah. Para perempuan kerap memberikan kue jahe kepada ksatria pujaan hati mereka sebagai tanda cinta dan ucapan semoga berhasil. Konon, jika sang ksatria memakan kue jahe yang diberikan, mereka akan bersama selamanya. Tentu saja itu hanya takhayul, ya.
Di Jerman, gingerbread disebut lebkuchen yang biasanya berbentuk hati dengan pesan tertulis, seperti 'all I need is you' atau 'you really super'. Bangsa Jerman juga jadi yang pertama mengenalkan rumah gingerbread. Mungkin, hal itu terinsirasi dari cerita Hansel dan Gretel.
Populer di Inggris
Gingerbread masuk ke Inggris pada abad ke-16. Remahan roti pada resep aslinya diganti dengan telur dan pemanis tambahan lainnya.
Kabarnya, yang pertama kali membentuk gingerbread menjadi bentuk manusia ialah Ratu Elizabeth I. Ratu memang terkenal suka membuat sendiri makan malamnya yang terbuat dari marzipan, termasuk gingerbread. Ratu membuat bentuk manusia untuk mewakili pejabat asing dan orang-orang yang bekerja di istananya.
Namun, ada juga cerita yang menyebut gingerbread bentuk manusia diciptakan oleh penyihir sebagai lambang cinta.
Sejak dikenalkan di Inggris, kue jahe langsung ngetop. Saking ngetopnya, William Shakespeare bahkan menyebutnya dalam salah satu adegan drama Love's Labour's Lost.
Meskipun kue jahe amat tersohor, tidak ada catatan mengapa kue ini amat lekat dengan Natal. Mungkin karena gingerbead terbuat dari jahe sehingga cocok dengan musim dingin yang biasanya terjadi saat Natal.
Bagaimanapun, gingerbread dengan jahe pastinya akan menghangatkan suasana Natal bersama keluarga.(dwi)
Bagikan
Berita Terkait
Indonesia Pesta Gol ke Gawang Korsel 5-0 di Laga Pembuka Piala Asia Futsal 2026
Gara-Gara Utang BP Tega Bunuh Ibu Kandung, Jasad Dibakar Dibuang di Jalan
Pesawat Smart Air Jatuh di Perairan Nabire, Seluruh Penumpang Dilaporkan Selamat
Gempa M 5,7 Guncang Pacitan, Getaran Terasa hingga Bali
Hampir Semua Rumah 2 Kampung Tertimbun Longsor Cisarua: 8 Jasad Ditemukan 82 Orang Hilang
Gerbang Rafah Pintu Masuk Gaza dari Mesir Kembali Dibuka 2 Arah
Warga Kota Tangerang Jangan Sampai Lewat, Ada 8 Paket Diskon Pajak PBB-P2 dan BPHTB
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Hennessy Hadirkan Koleksi Tahun Kuda nan Berani
Pesawat ATR 400 Yogyakarta-Makassar Hilang Kontak di Maros, Angkut 11 Orang
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Maluku Tengah Sabtu (17/1) Pagi, Tak Berpotensi Tsunami