MerahPutih.com - Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan berakhir buntu, Minggu (12/4) kemarin.
Presiden AS Donald Trump Bereaksi keras atas gagal perundingan itu. Orang nomor satu di negeri Paman Sam itu langsung mengeluarkan perintah Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
"Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses pemblokiran semua kapal yang mencoba masuk atau keluar Selat Hormuz,” kata Trump, dilansir dari Al Jazeera, Senin (13/4).
Baca juga:
Tawaran Final AS Ditolak Iran, Perundingan di Islamabad Berakhir Buntu
Trump juga menuding Iran melakukan pemerasan selama proses negosiasi sehingga perundingan damai tidak membuahkan hasil.
“Pertemuan berjalan lancar, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu-satunya poin yang benar-benar penting, nuklir, tidak disepakati," tandasnya.
Langkah Blunder AS
Analis geopolitik dari Middle East Institute, Dr. Farid Al-Mansour, menilai langkah AS memblokade Selat Hormuz malah akan berpotensi memperburuk krisis energi dunia.
“Blokade Selat Hormuz akan mengganggu pasokan minyak global dan meningkatkan harga energi secara signifikan. Dunia akan merasakan dampaknya dalam hitungan hari,” ungkap.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis yang mengalirkan hampir seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Sejak pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, lalu lintas di selat tersebut melambat drastis, memicu guncangan besar terhadap ekonomi global.
Baca juga:
Perundingan Iran-AS Panas di Islamabad, Izin Kapal Perang di Selat Hormuz Jadi Pemicu
Iran Hanya Izinkan Kapal Sipil Melintas
Sebaliknya, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan kapal sipil masih diperbolehkan melintas. Selat Hormuz sendiri memang berada di wilayah Iran.
Namun, IRGC menegaskan akan mengambil langkah tegas jika ada kapal militer yang melintas di jalur utama minyak dunia itu. “Setiap upaya kapal perang untuk melintasi Selat Hormuz akan dicegah secara tegas,” demikian pernyataan resmi IRGC, dikutip media Fars. (*)