Headline

Perempuan Palestina Kecewa Perubahan Aturan Gagal Penuhi Hak Dasar Kaumnya

Eddy FloEddy Flo - Jumat, 09 Maret 2018
Perempuan Palestina Kecewa Perubahan Aturan Gagal Penuhi Hak Dasar Kaumnya

Aksi protes kaum perempuan Palestina (Foto: Ahmad Al-Bazz/Activestills.org)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Peringatan Hari Perempuan Internasional di Palestina diwarnai aksi protes kaum perempuan terhadap aturan baru terkait perempuan di negara tersebut.

Menurut sejumlah pegiat dan aktivis perempuan Palestina, aturan baru tersebut tidak memenuhi aspirasi dan gagal menangani hak dasar perempuan.

Sebagaimana diketahui pada Kamis (8/3) perubahan aturan mengenai perempuan di Palestina mencakup kemungkinan bagi kaum perempuan mengajukan permohonan paspor, membuka rekening bank sendiri dan mengganti sekolah buat anak mereka. Ketiga hal itu sebelumnya hanya dinikmati oleh kaum pria, kini sudah bisa dilakukan perempuan.

Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah pada Senin (5/3) mengumumkan serangkaian perubahan peraturan terkait hak-hak perempuan. Ia juga mengajukan perubahan peraturan yang menunggu persetujuan Presiden Mahmoud Abbas guna mengakhiri pengurangan hukuman atas mereka yang didakwa melakukan pembunuhan kehormatan terhadap perempuan.

Namun perubahan itu gagal menangani tuntutan mendasar yang telah lama diperjuangkan oleh kaum perempuan, kata para pegiat perempuan dan ahli hukum, sebagaimana dilaporkan Xinhua yang dikutip Antara di Jakarta, Jumat (9/3).

Amal Ghdban, wanita pengusaha Paletina yang berusia 54 tahun dan pegiat kepentingan masyarakat, mengatakan Hari Perempuan Internasional mengingatkan dirinya mengenai jutaan perempuan yang bekerja di seluruh dunia guna memperjuangkan kesetaraan, keadilan sosial dan martabat. Tapi kenyataannya di Palestina keadaannya masih jauh dari harapan kaum perempuan.

Amal Ghadban menggambarkan perubahan peraturan baru tersebut sebagai "langkah di arah yang benar", tapi ia tetap berpendapat bahwa jurang pemisah dalam kerangka kerja hukum masih ada kendati kaum feminis telah berupaya selama beberapa dasawarsa belakangan.

"Jujur saja, perempuan pada 1980-an, di tengah gerakan sayap-kiri yang merebak dan perlawanan rakyat di wilayah pendudukan Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, bersama dengan perluasan organisasi perempuan yang berusaha mendorong partai politik dalam masalah perempuan, telah berhasil mengangkat kesadaran perempuan mengenai hak mereka," katanya.

Ia kemudian melanjutkan jaminan hak perempuan hanya bisa diwujudkan melalui payung hukum yang jelas dan tegas.

"Harapannya ialah perjuangan perempuan dan jumlah tanggung-jawab yang diemban perempuan akan dihadiahi oleh seperangkat hukum yang ditetapkan pada 1996 dan selanjutnya," kata Amal Ghadban. Tapi "sayangnya, sumbangan perempuan pada masa itu diabaikan dan hanya lelaki mendapat sorotan".

Menurut data terkini dari Biro Pusat Statistik Palestina, perempuan berjumlah 49,2 persen dari masyarakat Palestina. Namun keterwakilan perempuan dalam kehidupan masyarakat rendah dan mereka masih berjuang untuk memperoleh hak sipil, sosial, ekonomi serta politik.

Ashraf Abu Al-Hayya, Penasehat Hukum di organisasi hak asasi manusia Al-Haq, juga mengecam perubahan baru tersebut sebab "tak ada yang bisa dibanggakan dalam mengizinkan perempuan memperoleh hak dasar semacam itu hari ini".

"Ketika kita berbicara mengenai hak perempuan, kita berbicara mengenai hak dasar dalam kerangka kerja berdasarkan kesepakatan internasional tempat Palestina telah bergabung. Perempuan Palestina patut menerima lebih besar dari ini, mengingat pengorbanan mereka dalam perjuangan nasional Palestina dan perjuangan bagi hak mereka," katanya.

Ia mendesak pemerintah melakukan "tindakan berani" ke arah hak perempuan.

"Ada masalah di dalam seluruh sistem hukum berkaitan dengan perempuan, kepribadian hukum perempuan nyaris tak ditangani sama sekali. Ada sejumlah hukum yang memerlukan langkah berani, lebih dari sekedar mengizinkan perempuan mendaftarkan anak mereka di sekolah atau membuka rekening bank," demikian Ashraf Abu Al-Hayya.(*)

#Aktivis Perempuan #Palestina #Hari Perempuan Internasional
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

ShowBiz
Florence Pugh Tak Takut Kehilangan Ratusan Ribu Followers karena Dukung Palestina
Florence Pugh mengaku tak takut kehilangan ratusan ribu pengikut di media sosial karena vokal mendukung Palestina dan rutin menyerukan bantuan kemanusiaan.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 29 September 2026
Florence Pugh Tak Takut Kehilangan Ratusan Ribu Followers karena Dukung Palestina
ShowBiz
Macklemore Umumkan Tur 'Free Palestine', Sumbang Semua Hasilnya untuk Palestina
Hasil penjualan tiket untuk pertunjukan tur ini akan disalurkan ke organisasi-organisasi yang mendukung rakyat Palestina.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
Macklemore Umumkan Tur 'Free Palestine', Sumbang Semua Hasilnya untuk Palestina
Dunia
2 Kali Visa Presiden Mahmoud Abbas ke Sidang PBB Ditolak AS, Isu Palestina Tetap Jadi Bahasan
Debat umum PBB dijadwalkan berlangsung pada 22-26 September dan 28 September.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
2 Kali Visa Presiden Mahmoud Abbas ke Sidang PBB Ditolak AS, Isu Palestina Tetap Jadi Bahasan
Indonesia
Risiko Pembersihan Etnis Makin Menguat di Tepi Barat Palestina
Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan tindakan sementara yang mengikat secara hukum dalam perkara terkait penerapan Konvensi Genosida di Jalur Gaza.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Risiko Pembersihan Etnis Makin Menguat di Tepi Barat Palestina
ShowBiz
Dicoret dari Tur Ed Sheeran, Macklemore Donasikan Rp 17,7 Miliar untuk Bantu Rakyat Palestina
Macklemore berencana mendonasikan 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 17,7 miliar kepada enam organisasi yang membantu rakyat Palestina.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Dicoret dari Tur Ed Sheeran, Macklemore Donasikan Rp 17,7 Miliar untuk Bantu Rakyat Palestina
Indonesia
Palestina Dilarang Hadiri Majelis Umum PBB, 152 Negara Protes ke AS
Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina menyambut baik resolusi PBB tersebut, mengapresiasi sikap semua negara yang mendukungnya
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 18 September 2026
Palestina Dilarang Hadiri Majelis Umum PBB, 152 Negara Protes ke AS
ShowBiz
Macklemore Dicoret dari Sisa Tur Ed Sheeran di AS, Polemik Dukungan Palestina
Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran di AS setelah sejumlah venue keberatan dengan pernyataan politik dan dukungannya terhadap Palestina.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 15 September 2026
Macklemore Dicoret dari Sisa Tur Ed Sheeran di AS, Polemik Dukungan Palestina
Dunia
Bantuan Kemanusian ke Gaza Masih Dihambat Israel, 95 Persen Warga Gaza Butuh Bantuan
Sebelas negara Eropa dan Kanada mengumumkan rencana untuk memberlakukan pembatasan nasional terhadap perdagangan barang dengan permukiman Israel yang dinilai ilegal
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 09 September 2026
Bantuan Kemanusian ke Gaza Masih Dihambat Israel, 95 Persen Warga Gaza Butuh Bantuan
Dunia
Israel Gempur Gaza, 5 Orang Tewas dan Puluhan Terlukan Dalam 24 Jam
Kemungkinan masih ada korban tewas yang tertimbun di bawah reruntuhan rumah yang hancur atau di jalan-jalan yang belum dapat dijangkau tim ambulans dan pertahanan sipil.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 08 September 2026
Israel Gempur Gaza, 5 Orang Tewas dan Puluhan Terlukan Dalam 24 Jam
Indonesia
Menko Yusril Bantah Warga Palestina yang Dideportasi Ulama Gaza, Buka-bukaan Datangi MUI
Menko Hukum HAM Yusril Ihza Mahendra menegaskan Abdul Karim Raeq Miqdad bukan ulama Palestina atau aktivis Gaza. Ia akan menemui MUI untuk klarifikasi kasus deportasi.
Wisnu Cipto - Kamis, 23 Juli 2026
Menko Yusril Bantah Warga Palestina yang Dideportasi Ulama Gaza, Buka-bukaan Datangi MUI
Bagikan