Kesehatan Mental

Perbedaan Signifikan Manfaat Terapi Tatap Muka dan Teleterapi

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Senin, 14 Maret 2022
Perbedaan Signifikan Manfaat Terapi Tatap Muka dan Teleterapi

Pasien cenderung baik-baik saja dengan teleterapi, tetapi banyak terapis merasa ada sesuatu yang hilang. (Foto: freepik/master1305)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

TELEMEDICINE (layanan klinis jarak jauh) dan telehealth (layanan non-klinis jarak jauh) telah menjadi sumber daya yang banyak digunakan selama pandemi. Namun, banyak penyedia layanan dan pembuat kebijakan masih mempertanyakan masa depannya. Beberapa terus mempertimbangkan pro dan kontra dari perawatan kondisi tertentu dari jarak jauh, terutama untuk kesehatan mental, seperti teleterapi.

“Pasien cenderung baik-baik saja dengan teleterapi, tetapi banyak terapis merasa ada sesuatu yang hilang dibandingkan dengan terapi langsung,” kata Dr. John Markowitz, profesor psikiatri klinis di Universitas Columbia, AS dan psikiater penelitian untuk New York State Psychiatric Institute.

Baca juga:

Telemedicine, Andalan Masyarakat di Masa Pandemi

Perbedaan Signifikan Manfaat Terapi Tatap Muka dan Teleterapi
Beberapa pasien tidak mampu menghabiskan waktu di ponsel mereka karena keterbatasan kuota. (Foto: freepik/tirachardz)



“Keuntungan utama teleterapi adalah mempertahankan beberapa akses ke pengobatan untuk banyak pasien, tetapi tidak semua. Seberapa baik kualitas perawatan itu masih kontroversial,” kata Markowitz. Dia menambahkan, penelitian yang membandingkan telehealth dengan terapi langsung masih jarang.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry enam bulan setelah pandemi, Markowitz dan rekan-rekannya mengeksplorasi manfaat dan kerugian dari terapi virtual.

Sisi negatif tersebut termasuk mempertahankan fokus individu yang konsisten dan menyeimbangkan gangguan, tetapi juga tidak meratanya akses internet atau tingkat kemampuan untuk membayar ponsel.

Pandemi mendorong telehealth menjadi arus utama untuk semua jenis kondisi, karena pembatasan interaksi sosial dan memaksa beberapa fasilitas medis ditutup dan varian COVID-19 baru membuat pasien tetap di rumah. Meskipun telemedicine dapat membantu meningkatkan akses, kata Markowitz, dia setuju bahwa itu bukan solusi yang sempurna.

Di luar itu, kata Markowitz, beberapa pasien tidak mampu menghabiskan waktu di ponsel mereka karena keterbatasan kuota. “Ini setara dengan teknologi dari ketidakadilan ekonomi yang lebih luas dalam akses ke perawatan kesehatan,” katanya.

Baca juga:

Musik dapat Menjadi Terapi Mental Healing

Afiliatif sejenis

Perbedaan Signifikan Manfaat Terapi Tatap Muka dan Teleterapi
Secara intuitif, berada secara fisik bersama dengan orang lain itu penting. (Foto: freepik/freepik)

Sementara itu, Deborah L. Cabaniss, M.D., profesor psikiatri di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, mengatakan pentingnya berada secara fisik bersama orang lain.

"Secara intuitif, berada secara fisik bersama dengan orang lain itu penting, tetapi terapi bukan tentang sentuhan. Bisakah hanya berada di kamar dengan orang lain membuat perbedaan?" tulisnya dalam artikel di Psychology Today.

Cabaniss kemudian mengajukan pertanyaan ini kepada sekelompok ahli saraf. Mereka mengarahkan pada penelitian penyangga sosial, yang didefinisikan oleh Kiyokawa dkk. (2012) sebagai mengurangi respon stres akut dengan 'kehadiran sejenis afiliatif'.

Afiliatif sejenis merupakan anggota damai dari spesies yang sama. Dalam penelitian tersebut, itu adalah teman tikus yang baik. Pada tikus jantan, efek ini muncul karena penciuman dan dapat diblokir ketika hubungan antara penciuman otak dan pusat ketakutan terputus melalui pembedahan.

Sebagai terapis dan psikoanalis, Cabaniss menempatkan dirinya sebagai sejenis afiliatif. "Dan ini bukan hanya tentang sentuhan – sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa dua tikus jantan yang tinggal di kandang yang sama dengan penghalang memiliki hasil yang lebih baik daripada mereka yang hidup sendiri. Berada di dekat tikus lain saja sudah cukup," dia menjelaskan.

Masih terlalu dini bagi sains untuk memberi jawaban atas apa yang lebih baik: terapi tatap muka atau teleterapi. Namun, penelitian tersebut menurutnya, dapat membantu kita untuk memikirkan pertanyaan: Apakah perawatan langsung dan daring sama untuk mengurangi gejala?

Apakah keduanya bekerja melalui mekanisme yang sama? Apakah hal yang sama terjadi di otak pasien di kantor dan melalui internet? "Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk memahami bagaimana kita akan memberikan terapi di masa depan, ujarnya sambil berharap studi semacam itu dapat dilakukan. (aru)

Baca juga:

Isolasi Mandiri di Rumah dengan Bantuan Telemedicine

#Kesehatan #Info Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan