MerahPutih.com - Ketegangan di kawasan Teluk meningkat tajam setelah Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Garda Revolusi Iran (IRGC) merespons aksi militer AS itu ilegal. Bahkan, Iran balik mengancam tidak ada pelabuhan di Teluk maupun Laut Oman yang akan aman jika blokade terus berlanjut.
"Keamanan pelabuhan di kawasan Teluk dan Laut Oman harus berlaku bagi semua pihak atau tidak sama sekali," kata IRGC dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, dikutip Selasa ((14/4).
Baca juga:
Selat Hormuz Resmi Diblokade, Trump Perintahkan Binasakan Kapal-Kapal Iran
Ancaman Balik IRGC
IRGC menegaskan pembatasan AS terhadap pergerakan maritim di perairan internasional adalah bentuk pembajakan kedaulatan negara mereka.
Oleh karenanya, Iran itu menganggap pembelaan hak hukum negara sebagai kewajiban sah, termasuk pelaksanaan kedaulatan atas perairan teritorial. "Kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh akan dilarang melintasi Selat Hormuz," tegas IRGC, dilansir dari Antara.
Iran juga akan menerapkan mekanisme permanen untuk mengendalikan Selat Hormuz, bahkan setelah perang. "Pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap pergerakan maritim di perairan internasional adalah ilegal," tulis IRGC.
Baca juga:
AS Mulai Blokade Selat Hormuz Senin Malam 21.00 WIB, Kapal Pelabuhan Non-Iran Masih Boleh Lewat
Eskalasi Selat Hormuz Memuncak
Blokade AS mulai berlaku Senin (13/4) pukul 14.00 GMT (21.00 WIB), setelah perundingan Washington–Teheran di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Militer AS mengancam akan menghancurkan kapal Iran yang mencoba mendekati wilayah blokade.
“Jika ada kapal (Iran) yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dieliminasi, menggunakan sistem pembunuhan yang sama yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba di laut,” ungkap Presiden AS Donald Trump di Truth Social
Selat Hormuz adalah jalur vital bagi ekspor minyak dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak global melewati kawasan ini setiap harinya. Menurut data Energy Information Administration (EIA), lebih dari 17 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada 2025. (*)