Pengebom Saint Petersburg Pernah Dideportasi dari Turki

Zulfikar SyZulfikar Sy - Kamis, 13 April 2017
Pengebom Saint Petersburg Pernah Dideportasi dari Turki

Seorang yang terluka ditolong oleh layanan darurat di luar stasiun metro Sennaya Ploshchad, menyusul ledakan di dua kereta di stasiun metro di St. Petersburg, Rusia, Senin (3/4). (ANTARA FOTO/REUTERS/

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Tersangka pengebom di Saint Petersburg Akbarzhon Jalilov pernah dideportasi dari Turki setahun setelah kunjungannya pada 2015. Turki menyebut deportasi dilakukan karena pelanggaran migrasi.

Keterangan itu diungkapkan seorang pejabat tinggi Turki kepada Reuters, Rabu (12/4). Serangan 3 April di stasiun Saint Petersburg menewaskan 14 orang, termasuk si pengebom, dan melukai puluhan lainnya.

Insiden itu muncul pada saat Presiden Rusia Vladimir Putin sedang melakukan kunjungan di Saint Petersburg.

Pejabat Turki, yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa selama di Turki Jalilov dianggap mencurigakan karena sejumlah kaitan yang dimilikinya. Tapi, tidak ada tindakan yang dikenakan terhadapnya karena ia tidak melakukan perbuatan ilegal dan tidak ada bukti bahwa ia melakukan kesalahan.

"Namun masalah itu tidak dibiarkan dan orang ini sudah dikeluarkan dari Turki pada Desember 2016 karena melanggar visa dan izin tinggal. Pada akhirnya, (orang yang bersangkutan) didenda dan dideportasi serta dilarang masuk (ke Turki, red)," kata pejabat itu.

Setelah meninggalkan Turki, perjalanan Jalilov menuju Rusia menjadi mudah, "tampaknya (Jalilov) tidak menemui masalah apa pun," ujar pejabat tersebut.

Pernyataan sang pejabat Turki menguatkan kabar yang diterima Reuters menyangkut dua kenalan Jalilov. Mereka mengatakan bahwa Jalilov telah menunjukkan ketertarikan terhadap Islam dan meninggalkan Rusia menuju Turki pada akhir 2015. Setelah itu, kedua kenalan kehilangan kontak dengan Jalilov.

Jalilov adalah warga negara Rusia yang lahir di negara bekas anggota Soviet yang berpenduduk mayoritas Muslim, Kirgizstan.

Pria tersebut tidak pernah menunjukkan tanda-tanda radikalisme, kata kedua kenalannya, dan tidak ada bukti bahwa ia merupakan anggota kelompok militan Islamis apa pun.

Keterangan itu membuat badan-badan keamanan Rusia semakin sulit untuk mengetahui bagaimana ia melancarkan serangan di gerbong kereta dan apakah ia memiliki kaitan dengan kelompok-kelompok yang sedang merencanakan serangan pada masa depan.

Sebelum pergi ke Turki, Jalilov tinggal di Saint Petersburg dan bekerja di kota itu di sebuah bengkel mobil dan sebagai tukang masak di restoran.

Tak lama setelah ia dideportasi dari Turki, ia pergi ke kota asalnya, Osh, di Kirgizstan, kata beberapa pejabat setempat kepada Reuters.

Dari Osh, Jalilov kembali ke Saint Petersburg dan tinggal di apartemen baru pada awal Maret tahun ini.

Kejaksaan mengatakan gambar kamera pengawas keamanan menunjukkan Jalilov sedang keluar dari apartemen dengan membawa sebuah ransel dan satu tas lainnya pada hari serangan di stasiun terjadi.

Sumber: ANTARA

#Teroris #Ancaman Teroris #Rusia #Turki
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Dunia
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Seorang pekerja laboratorium di Rusia meninggal dunia. Ia diduga terinfeksi virus Pes. Namun, penyebabnya masih misterius.
Soffi Amira - Senin, 05 Oktober 2026
Pekerja Lab di Rusia Meninggal Diduga Terinfeksi 'Pes', Hampir 200 Orang Dikarantina
Dunia
Putin Tambah 15.500 Personel Militer Rusia, Zelensky Klaim Rencana Korut Kirim 10.000 Tentara
Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani dekret yang menambah 15.500 personel ke dalam struktur resmi Angkatan Bersenjata Rusia.
Yusuf Abdillah - Selasa, 29 September 2026
Putin Tambah 15.500 Personel Militer Rusia, Zelensky Klaim Rencana Korut Kirim 10.000 Tentara
Dunia
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Pemanasan global menyebabkan bagian depan gletser, yang dikenal sebagai gletser outlet, mengalami penyusutan
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
15 Pulau Anyar Muncul Kawasan Arktik Akibat Pemanasan Global
Olahraga
Prediksi Turki vs Italia: Misi Bangkit Setelah Kalah di Laga Pembuka
Prediksi Turki vs Italia di UEFA Nations League 29 September 2026 pukul 01.45 WIB. Simak kondisi tim, susunan pemain, dan prediksi skor.
ImanK - Minggu, 27 September 2026
Prediksi Turki vs Italia: Misi Bangkit Setelah Kalah di Laga Pembuka
Indonesia
Luncurkan 16 Satelit Setiap Tahun, Rusia Inggin Gandeng Indonesia
AI menjadi bagian dari agenda transformasi digital yang dibahas dalam pertemuan, termasuk pemanfaatannya untuk pendidikan dan penguatan literasi digital masyarakat.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
Luncurkan 16 Satelit Setiap Tahun, Rusia Inggin Gandeng Indonesia
Dunia
Pesawat Presiden Ukraina Nyaris Tertabrak Drone di Moldova, Memicu Kebakaran Dekat Bandara
Pesawat Zelenskyy nyaris terkena drone saat lepas landas dari Moldova dalam perjalanan menuju Oslo untuk menghadiri pemakaman Raja Harald V.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Pesawat Presiden Ukraina Nyaris Tertabrak Drone di Moldova, Memicu Kebakaran Dekat Bandara
Indonesia
8 Orang WNI Bergabung di Perang Ukraina-Rusia, Pemerintah Bakal Dengarkan Rusia
Dalam proses verifikasi itu, perlu mendengarkan keterangan dari pihak Rusia, pihak terkait, dan WNI yang bersangkutan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 09 September 2026
8 Orang WNI Bergabung di Perang Ukraina-Rusia, Pemerintah Bakal Dengarkan Rusia
Indonesia
Kemenlu Dalami Klaim Ukraina soal 8 WNI Direkrut Jadi Militer Rusia
Kemenlu memiliki tugas memberikan pelindungan kepada WNI di luar negeri.
Dwi Astarini - Sabtu, 05 September 2026
Kemenlu Dalami Klaim Ukraina soal 8 WNI Direkrut Jadi Militer Rusia
Indonesia
Indonesia Rayu Rusia Garap 138 Blok Eksplorasi Migas di Indonesia
Indonesia sedang membahas kerja sama dengan kelompok-kelompok perusahaan Rusia untuk mengembangkan sejumlah proyek bersama di bidang energi, termasuk kilang dan terminal penyimpanan.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 04 September 2026
Indonesia Rayu Rusia Garap 138 Blok Eksplorasi Migas di Indonesia
Bagikan