Pengaruh Budaya Eropa terhadap Kebiasaan Makan Orang Indonesia

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Rabu, 18 April 2018
Pengaruh Budaya Eropa terhadap Kebiasaan Makan Orang Indonesia

Ilustrasi sajian makan. (http://www.annashihah.org)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MESKI berbagai kekejaman terkait kemanusiaan tak bisa lepas dari masa kolonial Belanda. Namun, ada juga hal lain yang bisa dikenang dan bahkan tanpa disadari masih dapat dirasakan masyarakat Indonesia hingga kini.

Salah satu hal menarik dari masa penjajahan kolonial Belanda adalah mengenai akulturasi budaya masyarakat lokal dengan Eropa. Persentuhan itu sangat kentara dalam pengaruh cita rasa Belanda terhadap khazanah kuliner Indonesia.

Sebagaimana tampak dalam wajah kuliner bangsa, persentuhan budaya itu justru kini menjadi kebiasaan kolektif masyarakat luas. Fadly Rahman dalam bukunya Rijsttafel menjelaskan, gaya prasmanan sebagai gaya penyajian makanan yang sangat lumrah bagi masyarakat Indonesia justru merupakan gaya Eropa. "Menggantikan kebiasaan makan pribumi duduk berlesehan di lantai," kata Fadly dalam bukunya.

Selain itu, kata Fadly, penggunaan sendok dan garpu juga merupakan bagian dari kebiasaan orang-orang Eropa. "Pada abad ke-19 di Indonesia dan Asia Tenggara lazimnya masyarakat menggunakan tangan telanjang yang sudah dibasuh air sehingga nasi tidak akan lengket di jari," katanya.

Sementara itu, Djoko Soekiman dalam buku Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX) menjelaskan, perpaduan budaya Eropa dan masyarakat lokal sudah mulai menggejala deras sejak abad ke-19. "Suatu perpaduan yang kemudian dikenal dengan istilah Indis," kata Soekiman.

Pengguaan kata Indis sendiri, dijelaskan Soekiman berkaitan dengan kebudayaan dan gaya hidup masyarakat pendukungnya yang terbentuk semasa kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Soekiman juga mengatakan, kelestarian budaya Indis pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat yang mewujudkan gaya hidup, yang meliputi seni bangunan, cara berpakaian, bahasa, dan kebiasaan makan.

"Keberadaan budaya Indis adalah saling membutuhkan, tergantung, dan menghidupi antar-keduanya (symbiotic relation)," katanya.

Sementara itu, Rob Nieuwenhuys dalam buku Tempo Doeloe-een Verzonken Wereld Fotografische Documenten Uit het Oude Indie 1870-1920 menjelaskan, cermin potret kehidupan orang Belanda dan Indonesia merupakan bingkai kehidupan masyarakat Hindia Belanda pada masa 1870-1920, yang disebutnya sebagai masa 'tempo doeloe'.

"Tempo doeloe merupakan konsep ketika orang-orang Belanda membawa perubahan-perubahan besar bagi kehidupan di Negeri Hindia," kata Rob dalam bukunya.

Penulis buku The Emergence of the Modern Indonesian Elite Robert van Niel mengemukakan, hubungan orang Belanda dan Indonesia pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari kebijakan politik pemerintah pada saat itu. Sesudah tahun 1800, sikap acuh tak acuh pihak kolonial Belanda, juga sikap Inggris yang menguasai Pulau Jawa pada 1811-1816 mulai berubah.

"Perubahan tersebut di antaranya dapat dilihat dari harapan pemerintah kolonial untuk bisa berhubungan langsung dengan rakyat pribumi. Namun, pada kenyataannya harapan untuk berhubungan secara langsung dengan rakyat tidak pernah berhasil," tulis Niel.

Sementara, peneliti sejarah kuliner Heri Priyatmoko menjelaskan, pergumulan budaya Belanda lainnya yang memengaruhi masyarakat lokal adalah rijsttafel. Secara harfiah, kata Heri, rijst berarti nasi, sedangkan tafel adalah meja.

"Dua kata ini dipadukan menjadi 'hidangan nasi'. Komunitas Belanda mencomot istilah itu guna menyebut jamuan hidangan Indonesia yang ditata komplet di atas meja makan," kata Heri saat dihubungi Merahputih.com, Rabu (18/4).

Lebih lanjut, Heri mengatakan bahwa penulis roman Belanda, Victor Ido (1948) menjelaskan, rijsttafel diartikan sebagai "...eten van de rijsmaaltijd een speciale tafel gebruikt"; sajian nasi yang dihidangkan secara istimewa. "Yang dianggap spesial dari rijsttafel ialah perpaduan budaya makan pribumi dan Belanda seperti tertampil dari pelayanan, tata cara makan, dan hidangannya," katanya.

Kemudian, memasuki dasawarsa kedua dan ketiga abad ke-20, kebiasaan rijsttafel semakin eksis berkat sektor pariwisata. Hidangan masyarakat lokal seperti soto, nasi goreng, gado-gado, nasi rames, lunpia, dan lainnya justru dikenal mancanegara lewat sajian rijsttafel itu sendiri.

Akulturasi menandai pembentukan salah satu budaya Indis tersebut. Sebagaimana dikatakan Koentjaraningrat dalam Pengantar Antropologi, akulturasi merupakan proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing yang sedemikian rupa.

Sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan asli tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Tak pelak jika akulturasi tersebut menjadi bingkai dalam memandang budaya kuliner sebagai paduan budaya Belanda dan Indonesia. (*)

#Kuliner #Budaya Indonesia
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Olahraga
Ayu dan Daniel Bawa Merah Putih di Asian Games 2026, Busananya Punya Makna Khusus
Ayu dan Daniel menjadi flag bearer Indonesia di Opening Ceremony Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Budaya Bali, Gorga, dan Ulos turut tampil.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 19 September 2026
Ayu dan Daniel Bawa Merah Putih di Asian Games 2026, Busananya Punya Makna Khusus
Fun
Pokémon Hadirkan Poké Wayang, Gabungkan Pikachu dengan Seni Wayang Kulit Indonesia
The Pokémon Company memperkenalkan Poké Wayang, kolaborasi Pikachu dan karakter Pokémon dengan seni wayang kulit Indonesia yang tayang perdana 22 Oktober 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 16 September 2026
Pokémon Hadirkan Poké Wayang, Gabungkan Pikachu dengan Seni Wayang Kulit Indonesia
Kuliner
Gandeng G-DRAGON, McDonald's Hadirkan Menu Gochujang Butter di 13 Negara Asia
Menu gojuchang butter akan diluncurkan secara bertahap di negara-negara yang berpartisipasi mulai 17 September.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
  Gandeng G-DRAGON, McDonald's  Hadirkan Menu Gochujang Butter di 13 Negara Asia
Kuliner
Gelombang Panas di Prancis Bikin Sampanye Lebih Memabukkan
Penaikan kadar alkohol itu terkait dengan gelombang panas ekstrem yang melanda musim panas tahun ini.
Dwi Astarini - Selasa, 15 September 2026
 Gelombang Panas di Prancis Bikin Sampanye Lebih Memabukkan
Kuliner
Hoki Banget nih, Pencari Obat Temukan Ginseng Liar Senilai Rp 1,3 Miliar di Gunung Jiri
Akar-akar tersebut diidentifikasi sebagai ‘cheonjong’, ginseng liar yang tumbuh secara alami selama setidaknya 50 tahun dengan sedikit campur tangan manusia.
Dwi Astarini - Rabu, 09 September 2026
Hoki Banget nih, Pencari Obat Temukan Ginseng Liar Senilai Rp 1,3 Miliar di Gunung Jiri
Kuliner
Catat nih, Promo 9.9 2026 Ada Diskon Kuliner hingga Voucher Hemat
Beragam penawaran tersebut bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menikmati berbagai layanan dengan harga yang lebih terjangkau.
Dwi Astarini - Rabu, 09 September 2026
Catat nih, Promo 9.9 2026 Ada Diskon Kuliner hingga Voucher Hemat
Kuliner
Bertualang Kuliner di JF3 Food Festival 2026, Ada 1.000 Makanan Khas Nusantara
Dengan membawa tema Lokarasa Nusantara, JF3 Food Festival 2026 mengajak kamu menjelajahi cita rasa autentik dari berbagai daerah di Indonesia.
Dwi Astarini - Jumat, 04 September 2026
Bertualang Kuliner di JF3 Food Festival 2026, Ada 1.000 Makanan Khas Nusantara
Kuliner
Warga Korea Selatan makin Jarang Makan Kimchi, Gen Z Ternyata Kurang Doyan
Studi bersama yang dilakukan peneliti dari Chung-Ang University, Jeju National University, dan World Institute of Kimchi menunjukkan bahwa proporsi warga Korea yang mengaku tidak makan kimchi dalam 24 jam terakhir meningkat hampir dua kali lipat.
Dwi Astarini - Selasa, 25 Agustus 2026
Warga Korea Selatan makin Jarang Makan Kimchi, Gen Z Ternyata Kurang Doyan
Kuliner
Putra Galantza Wakili Indonesia di Hennessy MyWay Global Final 2026
Ia akan menjadi perwakilan Indonesia dalam Hennessy MyWay Global Final yang akan digelar di Prancis.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Putra Galantza Wakili Indonesia di Hennessy MyWay Global Final 2026
Lifestyle
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Kopi menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin tetap produktif sekaligus menjaga kesehatan.
Dwi Astarini - Selasa, 04 Agustus 2026
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Bagikan