Wisata Indonesia

Peneliti Asing: Saung Angklung Udjo Harus Didukung

P Suryo RP Suryo R - Rabu, 01 Desember 2021
Peneliti Asing: Saung Angklung Udjo Harus Didukung

Saung Angklung Udjo yang kondisinya terdampak pandemi. (Foto: angklungudjo.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DUNIA baru saja melewati perayaan 11 tahun angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh Unesco. Peneliti asing merekomendasikan agar agar angklung terus lestari. Salah satu rekomendasinya agar komunitas angklung terus didukung.

“Seperti Saung Angklung Udjo dan Budi Supardiman Angklung Web Institute, harus di-support,” kata Henry Spiller, peneliti dari Departement of Music University of California, Davis Amerika Serikat, dalam webinar Internasional Angklung Heal The World diselenggarakan secara virtual dari Kota Bandung, Sabtu (27/11).

Baca Juga:

Satai Klatak dan Mie Lethek khas Bantul Jadi Warisan Budaya Tak benda

angklung
Angklung sudah menjadi warisan dunia. (Foto: Pixabay/Ribut)

Henry merekomendasikan lima hal penting untuk keberlanjutan angklung sebagai warisan tak benda dunia. Pertama, fokus pada nilai keberlanjutan yakni mencari dan memperluas bahan mentah bambu. Kedua, keberlanjutan nilai sunda yang menjunjung tinggi nilai HAM dan keadilan.

Ketiga, lebih banyak mempromosikan angklung secara massal ketimbang pertunjukan angklung solo. Keempat, dukungan pemerintah dengan membuat kurikulum di sekolah dan melatih para guru. Kelima, memperkuat organisasi mandiri sebagai simbol nilai masyarakat sunda, seperti Saung Angklung Udjo (SAU).

Dalam webinar dengan tema Angklung, The Potential Medium to Increase Cultural and Economic Resilience During the COVID-19 itu, Henry Spiller mengatakan angklung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jabar sejak era kolonialisme, kapitalisme, dan neoliberalisme.

Sebagai orang asing, ia melihat angklung adalah alat musik yang bisa meng-cover semua nada musik dengan nada Sunda yang luar biasa indah.

“Mulai dari lagu Indonesia Raya, lagu latih, lagu klasik, sampai global pop musik. Nada diatonik angklung memperkuat masyarakat Sunda,” papar Henry.

Sebagai orang yang mempelajari tokoh angklung, Henry sangat kagum dengan prinsip 5M yang dicetuskan Daeng Soetigna, penemu angklung modern. “5M adalah murah, mudah, menarik, massal, dan mendidik,” jelasnya.

Sementara itu, antropolog musik etnis Dr Paphutsorn Koong Wongratanapitak dari Thailand telah lama mengaplikasikan angklung untuk anak dan remaja di dalam tahanan polisi. Melalui terapi angklung, Koong yang juga lama bergelut dengan angklung di Indonesia, membantu anak- anak menemukan kembali jati dirinya dan pada gilirannya nanti siap berbaur dengan masyarakat.

Baca Juga:

Tren Berwisata Selama Pandemi Berubah

angklung
Saung Angklung Mang Udjo yang melestarikan eksistensi angklung. (Foto: angklungudjo.com)

Tujuan dari terapi angklung di tahanan remaja ini adalah untuk memberi rasa percaya diri bahwa hidup belum berakhir, sekaligus menunjukkan kepada orang tua potesi anak sebenarnya. “Saatnya orang tua mendengarkan anaknya melalui angklung,” kata Koong.

Selain di rumah tahanan, Koong juga mempergunakan angklung untuk merehabilitasi para lansia agar di usia senja masih merasa bahagia dan berguna dengan keahlian angklung.

Angklung juga ternyata berkembang pesat di Amerika Serikat. Diawali dengan pencatatan rekor dunia permainan angklung terbanyak yang dilakukan di Washington DC pada 2011, komunitas- komunitas angklung terus bermunculan sejak itu.

House of Angklung Washington DC salah satu komunitas yang konsisten mendorong angklung lebih dikenal lagi masyarakat AS. Diawali dengan inisiatif sendiri, dukungan dari Kedutaan Besar dan stakeholders lain kemudian terus bermunculan hingga kini.

House of Angklung juga memiliki program Angklung Goes to School yang terlah berjalan bertahun-tahun dan mendapat respons posistf dari kalangan pendidik di sana.

“Mereka bilang angklung sangat tepat untuk anak kelas 4 dan 5 SD karena sifatnya yang sangat sophisticated. Di Negara Bagian County Mariland angklung sudah masuk daftar kurikulum pendidikan di sana,” sebut Trizia Sumaryanto, conductor House of Angklung Washington DC.

Melalui bantuan Kedutaan Besar RI di Amerika, pada 2021 Angklung goes to School diperluas menjadi Angklung goes to America dengan kerja sama organsiasi lokal di sana.

“Bantuan rutin yang diberikan adalah angklung interaktif empat set setiap kelompok, pelatihan, buku pandua, partitur, musik MP3 lagu Indonesia dan Amerika,” sebut Tricia.

Baca Juga:

Ragam Seni Gambar Prasejarah Indonesia, Salah Satunya Manusia Jadi-jadian

angklung
Instrumen asal Pasundan ini sudah mengalami modifikasi untuk dapat memainkan komposisi kontemporer. (Foto: Pixabay/triyugowicaksono)

Saat ini, kata Tricia, makin banyak orang Amerika Serikat ingin tahu angklung bahkan pada yang originalnya yakni angklung tradisional pentatonik.

Angklung pentatonik merupakan angklung asli yang dikembangkan leluhur dan hanya bisa memainkan lagu Sunda dan Jawa. Oleh almarhum Daeng Soetigna, nada angklung diubah dimodifikasi menjadi diatonik sehingga bisa memainkan dana do – re – mi – fa – so – la si – do.

Angklung diatonik berkembang pesat di Kota Bandung dengan SAU yang didirikan Udjo Ngalagena ayau yang biasa disebut Mang Udjo. SAU menemukan kejayaannya dengan kunjungan wisatawan 2 ribu per hari dan pertunjukan 3-4 kali sehari.

Namun saat pandemi COVID-19 datang, semuanya berubah. SAU nyaris bangkrut karena tidak ada wisatawan yang datang akibat pembatasan aktivitas dan mobilitas.

Dengan tekad kuat dan komitmen semua stakeholders mulai dari pemerintah daerah dan pusat, SAU kini perlahan bangkit. Dalam menemukan kebangkitannya, SAU kembali ke filosofi kebersamaan dengan pola pentaheliks merangkul semua stakeholders.

“Kami sudah mulai lagi mengadakan konser bersama di tujuh ruang, virtual pelatihan, virtual angklung for therapy and for motivation. SAU masih tetap ada dan harus lebih bangkit lagi,” kata Taufik Hidayat Direktur Utama PT Saung Angklung Udjo yang juga anak kesembilan Udjo Ngalagena.

“Keep the old one create the new one,” katanya menuturkan filosofi ayahnya.

Seperti diketahui, 16 November 2010 menjadi tanggal bersejarah bagi dunia dan membanggakan Indonesia, di mana angklung ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco, organisasi PBB yang mengurusi kebudayaan. (Imanha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Cap Negatif Penari Ronggeng dari Kolonialis

#Musik
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

ShowBiz
JBL Hadirkan Pengalaman Audio Interaktif dalam Perayaan 80 Tahun di Jakarta
JBL menggelar showcase interaktif yang berlangsung di Main Atrium, East Mall Level 1, Grand Indonesia, pada 21–25 Oktober 2026.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
JBL Hadirkan Pengalaman Audio Interaktif dalam Perayaan 80 Tahun di Jakarta
ShowBiz
Jeff Satur Perluas Kiprah Global lewat Kerja Sama dengan Universal Music
Jeff Satur menyambut kemitraan ini sebagai kesempatan melanjutkan perjalanan kreatifnya tanpa mengesampingkan identitas artistik yang selama ini ia bangun.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
Jeff Satur Perluas Kiprah Global lewat Kerja Sama dengan Universal Music
ShowBiz
John Mayer Kembali dengan 'Tom and Jerry' Setelah Lima Tahun Tanpa Single Baru
John Mayer mendirikan Sob Rock Records bersama Mercury Records dan bersiap merilis 'Tom and Jerry', single pertamanya dalam lima tahun.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 23 Oktober 2026
John Mayer Kembali dengan 'Tom and Jerry' Setelah Lima Tahun Tanpa Single Baru
ShowBiz
Giant Jay dan Dewanda Pratama Rilis 'Kalau Aku Lebih Darinya', Kisah Pengorbanan Ayah
Giant Jay feat. Dewanda Pratama menghadirkan 'Kalau Aku Lebih Darinya', lagu tentang pengorbanan ayah, kasih sayang, dan harapan untuk masa depan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 23 Oktober 2026
Giant Jay dan Dewanda Pratama Rilis 'Kalau Aku Lebih Darinya', Kisah Pengorbanan Ayah
ShowBiz
KRTM Rilis 'Ini Belum Selesai', Kisah Berani Mengejar Mimpi yang Pernah Dilepas
KRTM merilis 'Ini Belum Selesai' bersama Chika Olivia, single tentang keberanian mengejar kembali impian sebelum album debut mereka bulan depan.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 23 Oktober 2026
KRTM Rilis 'Ini Belum Selesai', Kisah Berani Mengejar Mimpi yang Pernah Dilepas
ShowBiz
U2 Rilis 'The Greatest Show On Earth', Lagu tentang Cinta dan Kepercayaan
Secara tematis, 'The Greatest Show On Earth' mengisahkan sepasang kekasih yang berjuang mempertahankan kepercayaan satu sama lain.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
U2 Rilis 'The Greatest Show On Earth', Lagu tentang Cinta dan Kepercayaan
ShowBiz
Tak Hanya 13 Anggota, SEVENTEEN Punya 7 Sub-Unit dengan Konsep Berbeda
Kenali tujuh sub-unit SEVENTEEN hingga Oktober 2026, mulai dari BSS, JxW, HxW, CxM, DK x Seungkwan, V8, hingga JxJ.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 23 Oktober 2026
Tak Hanya 13 Anggota, SEVENTEEN Punya 7 Sub-Unit dengan Konsep Berbeda
ShowBiz
Giant Jay dan Dewanda Pratama Rilis 'Kalau Aku Lebih Darinya', Lagu tentang Pengorbanan Ayah
Menggambarkan kasih sayang seorang ayah yang tidak selalu diungkapkan melalui kata-kata.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
Giant Jay dan Dewanda Pratama Rilis 'Kalau Aku Lebih Darinya', Lagu tentang Pengorbanan Ayah
ShowBiz
PSYCHIC FEVER Bakal Sapa Penggemar Indonesia, Bawa Album Terbaru 'DIFFERENT' ke Jakarta
PSYCHIC FEVER from EXILE TRIBE kembali ke Jakarta untuk memperkenalkan album DIFFERENT. Grup ini merekomendasikan lagu 'I Got Ways' sebagai single unggulan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Oktober 2026
PSYCHIC FEVER Bakal Sapa Penggemar Indonesia, Bawa Album Terbaru 'DIFFERENT' ke Jakarta
ShowBiz
Olivia Rodrigo Gandeng Chappell Roan untuk Remix 'expectations', Simak Liriknya
Olivia Rodrigo merilis remix 'expectations' bersama Chappell Roan. Diproduseri Dan Nigro, lagu ini hadir dengan nuansa lebih ceria. Simak lirik lagunya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Oktober 2026
Olivia Rodrigo Gandeng Chappell Roan untuk Remix 'expectations', Simak Liriknya
Bagikan