MERAHPUTIH.COM — PEMERINTAH rencanakan penghematan di tengah tekanan harga akibat perang Iran. Salah satu rencana penghematan dilakukan dengan mengurangi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari pengurangan ini, pemerintah memproyeksikan penghematan hingga Rp 40 triliun.
Dalam skema penghematab ini, MBG yang terutama ditujukan bagi anak-anak sekolah akan didistribusikan lima hari dalam seminggu, alih-alih enam hari. Penghematan akan dimulai 31 Maret.
“Langkah ini diperkirakan dapat menghemat sekitar Rp40 triliun,” kata Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang, dikutip AFP.
Nanik mengatakan kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk melindungi ekonomi Indonesia dari dampak perang di Timur Tengah, yang telah mendorong lonjakan harga minyak global.
Dalam pernyataan pada 29 Maret, BGN mengumumkan penyesuaian distribusi makanan agar sejalan dengan jadwal sekolah lima hari bagi siswa. Meski begitu, penerima di daerah terpencil atau wilayah dengan tingkat stunting tinggi tetap akan menerima makanan selama enam hari dalam seminggu.
“Penyediaan makanan bergizi gratis pada hari Sabtu untuk wilayah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup setiap hari,” ujar Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana.
Ia menambahkan badan tersebut akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan program ini tepat sasaran.
Baca juga:
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah berupaya menyiapkan Rp 80 triliun untuk melindungi ekonomi dari dampak situasi di Timur Tengah. Namun, ia tak merinci lebih lanjut rencana tersebut.
Presiden Prabowo sebelumnya menegaskan program makan gratis, yang awalnya dianggarkan sebesar Rp 335 triliun pada 2026, tidak akan terganggu. Presiden menyatakan masih banyak langkah penghematan lain yang dapat diambil pemerintah seiring mempertimbangkan respons terhadap tekanan harga. Pemerintah juga tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan pekerja bekerja dari jarak jauh satu hari dalam seminggu guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Di lain sisi, MBG telah menuai kritik setelah terjadi sejumlah kasus keracunan makanan sejak diluncurkan pada 2025. Banyak masyarakat menyerukan penghentian program karena kekhawatiran terkait dengan kebersihan.
Menurut BGN, program ini telah menjangkau 61 juta orang, dengan anak-anak, balita, serta ibu hamil dan menyusui sebagai penerima utama.(dwi)
Baca juga:
BGN Tepis Isu Hoaks Siswa Dipaksa Ambil MBG Saat Sekolah Daring