MERAHPUTIH.COM — SEORANG pelari berusia 24 tahun meninggal dalam ajang New York City Marathon. Sang pelari pingsan dan meninggal dunia hanya 3,2 km sebelum garis finis. Sang ayah menyebut anaknya dalam kondisi kesehatan sempurna dan bentuk fisik yang prima.
Rachel Apa, dari Lewisberry, Pennsylvania, berlari pada Minggu (1/11) bersama tim Parkinson's Foundation Champions untuk menggalang dana dan memberikan penghormatan kepada kakeknya yang mengidap penyakit tersebut. Ini merupakan maraton pertama Apa. Meskipun demikian, menurut sang ayah, Steve Apa, Rachel ialah seorang atlet dan telah berlatih selama berbulan-bulan.
Seperti dikabarkan New York Times, sang ayah mengatakan Rachel meninggal akibat rhabdomyolysis, sebuah kondisi langka ketika jaringan otot rusak dan meracuni aliran darah. Kondisi itu yang dapat dipicu aktivitas fisik berlebihan (overexertion).
Penyelenggara lomba New York Road Runners, dikutip CBS, mengabarkan Rachel pingsan di Central Park dan seorang warga sekitar sempat memberikan pertolongan pertama (CPR) sebelum tim medis perlombaan tiba. Menurut pernyataan dari Kepolisian New York (NYPD), yang tidak menyebutkan nama Rachel secara langsung, ia dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Ia meninggal dunia pada malam harinya. Kantor pemeriksa medis kota menyatakan masih menyelidiki penyebab pasti kematian Apa.
Baca juga:
Sepatu Lari Adidas Bantu Sabastian Sawe Pecahkan Rekor Dunia di London Marathon 2026
Rachel sempat mengirim pesan singkat kepada ayahnya bertuliskan ‘Aduh’, lalu satu mil kemudian ‘Aduh aduh’, sebelum mengirim pesan ‘final stretch’ (tahap akhir) pada mil ke-23.
"Kami sangat berduka atas wafatnya Rachel setelah berpartisipasi dalam perlombaan pada Minggu. Pikiran dan simpati mendalam kami sampaikan kepada keluarga, teman-teman, serta seluruh komunitas pelari," kata New York Road Runners dalam pernyataan yang disiarkan CBS.
Sebelum perlombaan, Rachel menulis di halaman penggalangan dana maratonnya tentang betapa berartinya sang kakek, yang ia hormati melalui lari ini.
"Kakek saya ialah panutan saya sejak kecil. Beliau mengajari saya untuk tetap aktif, melampaui batas kemampuan, dan menghadapi tantangan, yang membentuk kecintaan saya pada olahraga dan aktivitas fisik,” ujarnya.
Ia menceritakan kakeknya terdiagnosis penyakit Parkinson. "Saya menyaksikan bagaimana penyakit itu secara perlahan merenggut kebebasannya untuk bergerak yang dulu sangat ia cintai. Pelajaran yang beliau ajarkan kepada saya terus mendorong saya untuk maju,” lanjutnya.
Lebih dari 61.000 orang berpartisipasi dalam New York City Marathon tahun ini, yang untuk tiga tahun berturut-turut memecahkan rekor dunia sebagai maraton terbesar.(dwi)
Baca juga:
4 Pelari Indonesia Berhasil Taklukkan 'Tokyo Marathon 2025' dengan S4+ YOGIRI