Kesehatan

Pakai Database, Peneliti Prediksi Keparahan Pasien COVID-19

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 19 Juli 2021
Pakai Database, Peneliti Prediksi Keparahan Pasien COVID-19

Para peneliti menggunakan database untuk memprediksi tingkat keparahan pasien COVID-19. (foto: unpslah/martin sanchez)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SERANGAN COVID-19 yang semakin memburuk di beberapa negara. Salah satu penyebabnya ialah kemunculan berbagai varian baru virus ini yang lebih mudah menginfeksi. Hal itu membuat beberapa negara kewalahan menangani pandemi.

Sejumlah peneliti merespons kesulitan dalam menangani pandemi COVID-19 ini dengan memanfaatkan database pasien. Sebuah repositori berisikan kumpulan catatan COVID-19 terbesar hingga saat ini dibangun tim peneliti dan pakar data tahun lalu. Kumpulan catatan itu digunakan untuk membantu memahami COVID-19.

Seperti ditampilkan dalam jurnal JAMA Network Open, peneliti telah mengamati faktor risiko untuk kasus COVID-19 yang parah dan melacak perkembangan penyakit dari waktu ke waktu. Para penulis membuat model pembelajaran mesin untuk memprediksi pasien rawat inap mana yang akan mengembangkan penyakit parah. Hal itu didasarkan pada informasi yang dikumpulkan pada hari pertama mereka di rumah sakit.

BACA JUGA:

Mengenal Varian COVID-19 Lambda

Dengan menggunakan database terpusat yang disebut National COVID-19 Cohort Collaborative Data Enclave atau N3C, dikabarkan The Verge, tim peneliti dapat memasukkan ratusan ribu catatan pasien dalam analisis mereka. Studi itu menggunakan data dari 34 pusat medis dan melibatkan lebih dari 1 juta orang dewasa. Sebanyak 174.568 orang dites positif COVID-19, sedangkan 1.133.848 orang dites negatif. Database itu mencakup catatan yang panjang dari Januari 2020 hingga Desember 2020.

Kemunculan banyak varian baru COVID-19 membuat banyak negara kewalahan. (Foto: pixabay/fernandozhiminaicela)

Analisis menunjukkan bagaimana pengobatan untuk COVID-19 berubah selama 2020, ketika dokter mencoba perawatan baru dan memperoleh lebih banyak pengalaman dengan kondisi tersebut. Persentase pasien yang diobati dengan obat antimalaria hydroxychloroquine, yang dipromosikan mantan Presiden Donald Trump sebelum terbukti tidak efektif, turun menjadi hampir nol pada Mei 2020. Penggunaan steroid deksametason meningkat pada Juni, setelah penelitian menunjukkan itu bisa meningkatkan kelangsungan hidup.

Itu juga menegaskan bahwa tingkat kelangsungan hidup untuk pasien COVID-19 meningkat selama 2020. Pada Maret dan April, 16 persen orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 meninggal. Pada September dan Oktober, angka itu turun menjadi hanya di bawah 9 persen.

Pasien yang saat tiba di rumah sakit memiliki detak jantung, kecepatan napas, suhu tubuh lebih tinggi cenderung lebih butuh pertolongan drastis, seperti ventilator. Selain itu, mereka juga lebih berisiko meninggal dunia.

Jumlah sel darah putih yangtak normal, inflamasi, keasaman darah, dan fungsi ginjal juga dihubungkan dengan kasus parah infeksi COVID-19.

covid-19
Tim riset menemukan sejumlah kondisi bisa berujung kematian. (123RF/silviamoraleja)

Tim riset membuat sebuah mesin pembelajar menggunakan data dari N3C dan poin data lainnya untuk memprediksi pasien mana yang akan mengembangkan gejala parah COVID-19. Menurut penulis riset, model itu akan digunakan sebagai alat pengambil keputusan bersama dengan tes tambahan lainnya.

Sumber daya seperti N3C, yang mengumpulkan catatan dari lusinan institusi, menghindari keterbatasan data. Saat ini, N3C mencakup data dari 73 institusi kesehatan dan memiliki catatan dari lebih dari 2 juta pasien COVID-19. Lebih dari 200 proyek penelitian menggunakan data yang sedang berlangsung, termasuk penelitian yang mempelajari faktor risiko infeksi ulang COVID-19 dan dampak penyakit pada kehamilan.

Data itu belum sempurna. Faktanya, menstandarisasi informasi di seluruh rumah sakit itu sulit dan mungkin tidak ada data lengkap tentang banyak pasien. Meski demikian, memiliki data sedemikian besar amatlah berharga. "Itu membuka jalan terang atas hal-hal yang belum kita ketahui," kata ekonom kesehatan dari University of Rochester, Elaine Hill kepada The Verge.(jhn)

#Kesehatan #COVID-19
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan