TENTU bukan tanpa alasan novel berjudul September dipilih untuk acara Bincang Buku Bersama Anggota DPR RI di Perpustakaan MPR Gedung Nusantara IV, Senayan. Novel fiksi tersebut diilhami oleh peristiwa Tragedi September 1965 di Indonesia.
Bangsa Indonesia tentu tak bisa melepaskan diri dari catatan kelam yang membunuh tujuh perwira tinggi militer Indonesia dan beberapa orang lainnya dalam usaha kudeta. Hal tersebut kemudian membuat sang penulis,Noorca M. Massardi ingin mengabadikannya dalam bentuk tulisan.
Sebelum dibukukan novel tersebut pernah dimuat di harian Media Indonesia sejak 2004. Tema yang sensitif membuat banyak orang enggan menggali cerita tersebut. Banyak orang berspekulasi bahwa hal tersebut membuat penerbitan cerita bersambung September dihentikan secara tiba-tiba. “Penerbitan cerita tersebut dihentikan oleh pihak redaksi di tengah jalan karena hal yang tak saya ketahui secara pasti,” ucap Noorca.
Mengangkat sejarah dalam karya sastra tak bisa main-main. Meskipun ia banyak melibatkan imajinasi agar karyanya menjadi menarik, Noorca juga melakukan riset secara mendalam. Jiwa jurnalis yang mendarah daging dalam diri lulusan Ecole Superieure de Journalis, Paris, Perancis tersebut membuatnya mencari tahu banyak fakta seputar peristiwa yang terjadi pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 tersebut. Novel yang ditulis selama enam tahun tersebut didasarkan pada riset pustaka dari jurnal ilmiah baik Indonesia atau asing.
Dirinya berusaha memahami sesungguhnya apa yang terjadi pada periode itu. Dengan demikian, ia lebih bisa menjiwai karyanya tersebut. Dirinya juga piawai dalam membangun emosi para pembaca lewat deskripsi yang hidup.
Selain itu, riset mendalam juga dilakukan agar data yang ia kumpulkan valid dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Ia tak ingin menyesatkan sejarah Indonesia. “Ini bagian dari tanggung jawab saya sebagai pengarang kepada rakyat Indonesia,” tuturnya. (avia)