Neraca Perdagangan Mei 2025 Surplus USD 4,30 Miliar

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 03 Juli 2025
Neraca Perdagangan Mei 2025 Surplus USD 4,30 Miliar

Bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (15/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - NERACA perdagangan Indonesia pada Mei 2025 mencatatkan surplus sebesar USD 4,30 miliar, naik tajam ketimbang surplus April 2025 yang hanya sebesar USD 0,16 miliar.

Sementara itu, secara kumulatif, surplus perdagangan Indonesia pada periode Januari–Mei 2025 mencapai USD 15,38 miliar, lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 13,06 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan capaian ini menandai keberlanjutan tren surplus selama 61 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. "Surplus Mei 2025 terutama didorong oleh meningkatnya surplus nonmigas, dari USD 1,51 miliar pada April menjadi USD 5,83 miliar. Sementara itu sektor migas masih mencatatkan defisit sebesar USD 1,53 miliar," ujar Mendag Budi, Rabu (2/7).

Ia mengungkap surplus nonmigas Mei 2025 sebagian besar disumbang perdagangan dengan beberapa negara mitra utama. Surplus tertinggi dicatatkan dalam perdagangan dengan Amerika Serikat sebesar USD 1,86 miliar, disusul India USD 1,32 miliar, dan Filipina USD 0,77 miliar.

Baca juga:

Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Kian Menipis


Dari segi ekspor, Mendag menyampaikan ekspor Indonesia pada Mei 2025 mencapai USD 24,61 miliar, tumbuh 18,66 persen jika dibandingkan dengan April 2025 (MoM) dan tumbuh 9,68 persen ketimbang Mei 2024 (YoY). Kenaikan ini terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 20,07 persen, meskipun ekspor migas turun 4,99 persen.

"Kinerja ekspor membaik seiring meningkatnya harga komoditas utama seperti besi baja, logam mulia, dan nikel, serta naiknya permintaan ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan nikel. Normalisasi perdagangan setelah libur Idul Fitri juga turut mendorong ekspor," terang Mendag Budi.

Sektor industri pengolahan mendominasi ekspor nonmigas dengan kontribusi 84,07 persen, disusul pertambangan dan lainnya (13,23 persen), serta pertanian (2,70 persen). Secara bulanan, ekspor pertanian naik 32,16 persen, industri pengolahan naik 23,89 persen, sedangkan pertambangan turun 1,14 persen (MoM).

Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada Mei 2025 yakni logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) yang naik 86,30 persen, lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) 42,08 persen, serta mesin dan peralatan mekanis (HS 84) 39,35 persen.

Jika dilihat dari negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga pasar utama ekspor nonmigas dengan nilai total USD 9,81 miliar, atau 41,75 persen dari total ekspor nonmigas nasional.

Sementara itu, negara tujuan ekspor dengan lonjakan tertinggi secara bulanan, antara lain Italia dengan kenaikan 78,50 persen, Australia (54,53 persen), Korea Selatan (36,76 persen), Belanda (32,05 persen), dan Amerika Serikat (31,48 persen).

Secara kumulatif, total ekspor Indonesia Januari–Mei 2025 tercatat USD 111,98 miliar, tumbuh 6,98 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ditopang ekspor nonmigas yang naik 8,22 persen menjadi USD 106,06 miliar, sedangkan ekspor migas turun 11,26 persen menjadi USD 5,92 miliar.

"Capaian ekspor ini menunjukkan ketahanan sektor perdagangan Indonesia. Kami akan terus memperkuat ekspor bernilai tambah dan memperluas akses pasar ke berbagai negara mitra," tegas
Mendag.

Di sisi lain, Mendag Busan memaparkan, kinerja impor pada Mei 2025 tercatat sebesar USD 20,31 miliar, turun 1,32 persen dibanding April 2025 (MoM), namun meningkat 4,14 persen dibanding Mei 2024 (YoY).

Penurunan secara bulanan disebabkan turunnya impor nonmigas sebesar 2,20 persen, sementara impor migas justru naik 4,93 persen. Kondisi sebaliknya terjadi secara tahunan dengan impor nonmigas naik sebesar 5,44 persen dan impor migas turun 3,80 persen (YoY).

Lebih lanjut, Mendag Budi menjelaskan struktur impor Mei 2025 masih didominasi bahan baku dan penolong dengan pangsa 69,15 persen, diikuti barang modal (21,86 persen), dan barang konsumsi (8,99 persen). Meski impor bahan baku turun 6,19 persen (MoM), impor barang modal naik 13,54 persen dan barang konsumsi naik 7,28 persen.

"Kenaikan impor barang konsumsi mencerminkan optimisme pasar domestik, sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2025 yang tinggi, yaitu 117,5," ujar Mendag.

Produk bahan baku yang mengalami penurunan terdalam meliputi emas batangan nonmoneter, bensin, dan biji kakao. Sementara itu, produk barang modal yang mengalami lonjakan impor yakni instrumen navigasi, ponsel pintar, dan perangkat transmisi telekomunikasi. Untuk barang konsumsi, peningkatan terbesar tercatat pada daging beku tanpa tulang, buah anggur, dan mobil listrik.

Di sisi lain, beberapa komoditas impor nonmigas yang mengalami penurunan tertinggi antara lain logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) yang turun 78,39 persen; besi dan baja (HS 72) 18,76 persen; serta barang dari besi dan baja (HS 73) 3,39 persen.

Sementara berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia pada Mei 2025 didominasi dari Tiongkok, Jepang, dan Singapura, dengan kontribusi gabungan 46,93 persen terhadap total impor nonmigas. Beberapa negara dengan penurunan impor terdalam adalah Thailand dengan penurunan 20,74 persen, Australia 13,73 persen, dan Singapura 10,61 persen.

"Secara kumulatif, impor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2025 mencapai USD 96,60 miliar, tumbuh 5,45 persen (CtC). Peningkatan ini didorong oleh impor nonmigas yang naik 7,92 persen, meskipun impor migas turun 7,44 persen," tutupnya.(Asp)

Baca juga:

Kementerian Perdagangan Lakukan Misi Dagang ke Jepang, Bawa Pengusaha Produk Energi Terbarukan dan Dekorasi Rumah

#Menteri Perdagangan #Mendag Budi Santoso #Neraca Perdagangan
Bagikan
Ditulis Oleh

Asropih

Berita Terkait

Indonesia
Surplus Dagang Indonesia Mulai Susut, Tekanan Inflasi Makin Terasa
Perhatian utama pasar saat ini bukan lagi sekadar besarnya ekspor Indonesia, melainkan kecepatan kenaikan impor migas yang mulai menggerus surplus perdagangan.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 03 Juni 2026
Surplus Dagang Indonesia Mulai Susut, Tekanan Inflasi Makin Terasa
Berita Foto
Raker Mendag dengan Komisi VI DPR Bahas Perjanjian Dagang dengan Canada
Menteri Perdagangan, Budi Santoso saat memberikan pemaparan dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 19 Mei 2026
Raker Mendag dengan Komisi VI DPR Bahas Perjanjian Dagang dengan Canada
Indonesia
Kinerja Ekspor Indonesia Maret 2026 Tumbuh 1,62 Persen
Kinerja ini terutama ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 0,98 persen yang menjadi USD 63,60 miliar.
Dwi Astarini - Rabu, 06 Mei 2026
Kinerja Ekspor Indonesia Maret 2026 Tumbuh 1,62 Persen
Indonesia
Mendag Budi Santoso Dorong Pertumbuhan Ekonomi lewat Hobi Burung Kicau
Melalui lomba tersebut, Mendag Busan mengajak masyarakat untuk menunjukkan semangat melestarikan lingkungan.
Dwi Astarini - Senin, 04 Mei 2026
Mendag Budi Santoso Dorong Pertumbuhan Ekonomi lewat Hobi Burung Kicau
Indonesia
Demi Swasembada Pangan, Kemendag Perketat Impor Sejumlah Komoditas
Kemendag resmi menerbitkan Permendag 11/2026 yang memperketat impor komoditas pangan seperti gandum, kacang, hingga beras pakan. Berlaku mulai 8 Mei 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 30 April 2026
Demi Swasembada Pangan, Kemendag Perketat Impor Sejumlah Komoditas
Indonesia
Pantau Pasar Rawasari, Mendag Budi Santoso Sebut Harga Bahan Pokok Masih Stabil Jelang Lebaran 2026
Menteri Perdagangan, Budi Santoso memastikan, harga bahan pokok masih stabil menjelang Lebaran 2026.
Soffi Amira - Senin, 16 Maret 2026
Pantau Pasar Rawasari, Mendag Budi Santoso Sebut Harga Bahan Pokok Masih Stabil Jelang Lebaran 2026
Indonesia
Mendag Pastikan Harga Bahan Pokok di Kudus Stabil Jelang Lebaran 2026
Kementerian Perdagangan turun langsung ke pasar-pasar rakyat untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga bapok menjelang Idul Fitri 2026.
Dwi Astarini - Kamis, 12 Maret 2026
Mendag Pastikan Harga Bahan Pokok di Kudus Stabil Jelang Lebaran 2026
Indonesia
Jelang Lebaran 2026, Mendag Pastikan Pasokan Bahan Pokok di Jakarta Aman
Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan harga dan pasokan bahan pokok di Jakarta masih stabil menjelang Lebaran 2026 setelah meninjau Pasar Kramat Jati.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 12 Maret 2026
Jelang Lebaran 2026, Mendag Pastikan Pasokan Bahan Pokok di Jakarta Aman
Indonesia
Menteri Perdagangan Tegaskan Minyak Goreng Melimpah di Makassar, Warga Jangan Panik
Karena stok bahan pokok cukup dan harganya stabil, Mendag mengimbau masyarakat untuk berbelanja seperti biasa.
Dwi Astarini - Rabu, 04 Maret 2026
Menteri Perdagangan Tegaskan Minyak Goreng Melimpah di Makassar, Warga Jangan Panik
Indonesia
Mendag Tegaskan Harga Bahan Pokok Stabil dan Pasokan Terjaga Jelang Idul Fitri 2026
Kemendag secara intensif memantau perkembangan harga bahan pokok melalui Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Dwi Astarini - Selasa, 03 Maret 2026
Mendag Tegaskan Harga Bahan Pokok Stabil dan Pasokan Terjaga Jelang Idul Fitri 2026
Bagikan