Politisi liberal Moon Jae-in menang dalam Pemilihan Presiden Korea Selatan, Selasa (9/5). Kemenangan Moon akan mengakhiri pergolakan politik selama beberapa bulan yang mengarah kepada pemakzulan mantan Presiden Park Geun-hye oleh parlemen terkait skandal korupsi.
Dalam sambutan di panggung yang telah disediakan di alun-alun utama di Seoul, Moon yang dikelilingi para pemimpin Partai Demokratik, berjanji akan mengantarkan era baru bagi sebuah negara yang "babak belur" dilanda skandal.
"Saya akan membuat sebuah negara yang adil dan bersatu," kata Moon seperti dikutip Antara. Moon unggul dengan perolehan suara 39,6 persen.
Pesaingnya yang konservatif, mantan jaksa Hong Joon-pyo, berada di posisi kedua dengan perolehan suara 26,3 persen, disusul kandidat yang bergaris tengah Ahn Cheol-soo dengan 21,3 persen.
Lalu sosok seperti apa Moon Jae-in? Park sebelumnya pada tahun 2012 kalah dalam pemilihan Presiden Korea Selatan oleh Park Geun-hye.
Seperti dilansir Guardian, Korea Utara--rival negara Moon--mengindikasikan bahwa Moon adalah kandidat favorit mereka. Pernyataan Korea Utara melalui media pemerintah, menyerukan pemilih Korea Selatan untuk "menghukum kelompok beneka konserfativ" yang merujuk pendahulu Moon, Park Geun-hye.
Moon lahir 24 Januari 1953 di Geoje, Korea Selatan. Ia adalah putra sulung dari lima bersaudara pasangan Moon Yong-hyung dan Kang Han-ok. Ayah-ibunya merupakan pengusi dari Korea Utara. Ayah Moon mengungsi dari Provinsi Hamgyeong Selatan, Korea Utara. Ia masuk ke Korea Selatan saat Perang Korea, tahun 1953.
Asal muasal keluarga Moon ini yang menjadi perhatian banyak pihak, terutama ketika ketegangan dua negara itu akhir-akhir ini semakin meningkat. Moon diprediksi mempunyai pendekatan berbeda dengan para pendahulunya dalam menyikapi ketegangan dengan negera tetangga--sekaligus tanah leluhurnya--dalam persoalan nuklir yang tak kunjung selesai.
Meski demikian, Moon menampilkan dirinya di hadapan pemilih tua konservatif bahwa ia seorang pragmatis. Moon setelah kekalahannya dalam Pemilihan Presiden lima tahun lalu, ia menahan diri untuk terang-terangan mengkritik Presiden AS Donald Trump selama krisis di Semenanjung Korea. Bahkan, ia menyatakan satu "arah" dengan Trump soal kebijakan Obama menganai "kesabaran strategis" sebagai sebuah kegagalan.
Sebagai anak yang berasal dari keluarga pengungsi, Moon kecil hidup dalam kemiskinan. Namun, ia unggul di bangku sekolah dan bisa masuk universitas di Souul pada 1970. Moon mengambil jurusan hukum.
Saat ia mahasiswa, Korea Selatan berada di bawah kediktatoran penguasa militer Park Chung-hee yang merupakan ayah dari Presiden Park Geun-hye. Ia juga tampil dalam demonstrasi di jalan-jalan menuntut kebebasan sipil dan politik. Moon sempat ditangkap dan dikeluarkan dari kampus, namin kemudian diizinkan kembali dan menyelesaikan studinya.
Moon bersumpah untuk menghidupkan hubungan Korea Selatan yang membeku dengan Korea Utara. Ia menyatakan mendukung untuk mengadakan pembicaraan langsung dan memulai kembali proyek kerja sama ekonomi. Demikian seperti dikutip Aljazeera.
Asisten Profesor Kajian Asia Timur di Universitas Sheffield Markus Bell menyatakan bahwa Moon akan merayakan kemenangan dengan singkat. Itu karena Moon akan langsung menghadapi uji coba nuklir Korea Utara. "Kim (Jong Un) dan Trump cenderung mengujinya sejak awal," katanya.
Baca juga berita tentang ketegangan di Semenanjung Korea dalam artikel: Korea Utara Uji Coba Peluru Kendali Balistik