MerahPutih.com - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengkliam keputusannya menerima pinangan jadi ketua umum Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, 5 Maret, upaya menyelamatkan partai dan bangsa.
Menurutnya, ada sebuah situasi khusus dalam perpolitikan nasional, yaitu telah terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali serta menjadi ancaman cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.
Baca Juga:
Ini Proyek yang Rontokkan Elektabilitas Partai Demokrat Versi Moeldoko Cs
"Ada kecenderungan tarikan ideologis juga terlihat di tubuh Demokrat. Jadi, ini bukan sekadar menyelamatkan bangsa dan negara,” kata Moeldoko dari rekaman video yang ia bagikan lewat akun Instagram pribadinya @dr_moeldoko, Minggu (2*/3).
Dalam tayangan berdurasi lebih dari dua menit itu, Moeldoko buka suara mengenai alasannya bergabung sebagai bagian dari Partai Demokrat melalui kongres luar biasa di Sibolangit.
“Saya ini orang yang didaulat untuk memimpin Demokrat, dan kekisruhan sudah terjadi. Arah demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Demokrat. Untuk itu, semua berujung kepada keputusan saya menerima permintaan untuk memimpin Demokrat,” katanya.
Ia menegaskan, dirinya tidak perlu meminta izin kepada Presiden Joko Widodo terkait keputusannya menerima tawaran Ketua Umum Partai Demokrat serta tidak perlu membawa-bawa presiden dalam persoalnya. Moeldoko pun meyakini jika keputusan tersbut, diyakininya benar.
"Dan itu atas otoritas pribadi yang saya miliki, maka saya tidak mau membebani presiden. Saya juga khilaf sebagai manusia biasa tidak memberi tahu istri dan keluarga saya atas keputusan yang saya ambil,” terang Moeldoko.
Kepala Badan Hukum dan Pengamanan Partai Demokrat Ardy Mbalembout mengatakan, upaya menyelamatkan bangsa tidak dapat dilakukan dengan terlibat kegiatan KLB yang ilegal.
“Kalau ingin menyelamatkan bangsa dan negara bukan kemudian jadi bagian dari begal politik yang merebut paksa Partai Demokrat secara ilegal,” kata Ardy lewat pesan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu.
Ia mengomentari pernyataan Moeldoko yang mengatakan ada “pertarungan ideologi” di internal Partai Demokrat. Menurut Ardy, perbedaan sikap dan pendapat tidak menunjukkan ada pertarungan ideologis dalam tubuh partai.
“Perbedaan itu berkah bagi kader Demokrat, karena (kami) sama-sama mengedepankan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan kami dalam berorganisasi, berbangsa, dan bernegara,” kata Ardy. (Pon)
Baca Juga:
Alasan Partai Demokrat Versi KLB Gelar Konpers di 'Candi' Hambalang