Pilpres 2019

Mewaspadai Penggiringan Opini dalam Jebakan Survei

Eddy FloEddy Flo - Minggu, 29 April 2018
Mewaspadai Penggiringan Opini dalam Jebakan Survei

Ilustrasi pemaparan hasil survei pilkada (MP/Fadhli)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.Com - Dalam kultur politik modern, potensi kemenangan atau peluang keterpilihan seorang kandidat bisa diperhitungkan dan diukur melalui sebuah survei. Tak heran, setiap kali menjelang pilkada atau pilpres, muncul sejumlah survei yang memaparkan tingkat elektabilitas pasangan calon atau kandidat peserta kontestasi demokrasi.

Catatan penting yang harus diperhatikan, sejauhmana hasil survei itu kredibel? Atau jangan-jangan hasil survei hanya merupakan sebuah upaya penggiringan opini untuk memenangkan paslon atau kandidat tertentu?

Lembaga-lembaga survei seperti beradu dengan waktu menyajikan rangkaian hasil temuan survei mereka.

Nama-nama seperti Presiden Joko Widodo, Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto, mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Prabowo dan Jokowi
Pertemuan dan makan siang bersama Prabowo dan Jokowi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang juga anak Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, putra mantan Presiden SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, menghiasi survei-survei tersebut.

Survei merupakan hal yang lazim dalam masyarakat demokratis. Sebuah upaya untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat.

Tentu saja yang namanya survei berbeda dengan pemilu. Survei politik biasanya hanya melibatkan sekitar 1.000 orang responden yang dianggap sebagai perwakilan masayarakat.

Muhaimin Iskandar
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (MP/Fadhli)

Sejauh mana survei tersebut mampu mendekati mewakili atau "representasi" suara hati masyarakat, tentunya tergantung dengan sejauh mana kecanggihan `"alat ukur" tersebut dibuat, mengingat, jumlah responden sebagai perwakilan masyarakat juga sangat terbatas, sekitar 1000 orang responden dari hampir 200 juta pemilih.

Sebagaimana dilansir Antara, survei untuk mengetahui suara masyarakat sebenarnya lebih ditujukan untuk kalangan elit yang mencalonkan diri, utamanya untuk membuat strategi jitu memenangi kompetisi.

Namun juga survei dapat pula digunakan sebagai alat propaganda, untuk menggiring opini dalam masayarakat.

Elektabilitas Sejauh ini, dalam survei yang dilakukan berbagai lembaga, nama petahana Joko Widodo menduduki peringkat pertama tingkat keterpilihan di masyarakat.

PDIP tempat Jokowi bernaung, dengan 18 persen kursi di parlemen, telah mendeklarasikan dukungannya kepada Presiden Indonesia ke-7 tersebut.

AHY dan Jokowi
Presiden Jokowi (tengah) berjabat tangan dengan Ketua Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono (kiri) disaksikan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) ANTARA FOTO/Yulius Satria Wija

Selain itu, dukungan juga mengalir dari partai-partai koalisi, Golkar (14 persen kursi), Nasdem (enam persen), Hanura (lima persen) dan PPP (enam persen).

Bila komitmen dukungan tersebut terwujud, secara matematika politik, saat ini, Jokowi merupakan satu-satunya calon yang dianggap telah memiliki "tiket" untuk melenggang maju dalam pemilihan presiden, mengingat syarat 20 persen kursi parlemen yang dibutuhkan untuk maju dalam pemilihan presiden, telah terpenuhi.

Sebagai petahana, Joko Widodo menjadi salah satu obyek survei para surveyor sejak ia memangku jabatan Presiden pada 2014 lalu.

Elektabilitas Jokowi dalam sejumlah survei selalu berada diurutan pertama. Survei terbaru dari litbang Kompas misalnya, yang diumumkan April 2018, memperlihatkan elektabilitas Jokowi masih teratas dengan 55,9 persen.

Litbang Kompas Kompas mencatat elektabilitas tersebut meningkat dibandingkan semester sebelumnya 46,3 persen. Survei ini dilakukan terhadap 1.200 responden.

Gatot Nurmantyo
Mantan Panglima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (ke tiga kiri) berjalan bersama sejumlah tokoh masyarakat (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)

Sementara survei dari Polcomm Institute yang diberitakan pada Maret 2018 menyebutkan, tingkat keterpilihan Joko Widodo 49,05 persen. Survei ini dilakukan terhadap 1.200 responden.

Survei oleh Median yang dijelaskan April 2018, tingkat keterpilihan Jokowi tetap berada di tingkat pertama dengan 36,2 persen, naik dibandingkan Februari sebesar 35 persen. Survei tersebut dengan responden 1.200 orang.

Pesaing terdekat Jokowi adalah Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto yang juga merupakan rivalnya saat pemilihan presiden 2014.

Prabowo sendiri juga telah dideklarasikan oleh Partai Gerindra untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2019.

Namun demikian, sejauh ini, belum ada partai lain di Parlemen, selain Gerindra yang juga menyatakan dukungannya secara resmi kepada Prabowo.

Infografis Hasil Survei
Rangkuman hasil survei Pilpres

Secara matematika politik, Prabowo dengan Gerindra sebanyak 11 persen kursi di Parlemen, masih membutuhkan sembilan persen kursi. Hal ini dapat terpenuhi, misalnya dengan merapatnya PKS (enam persen) dan PAN (tujuh persen).

Prabowo dalam survei Litbang Kompas meraih tingkat keterpilihan 14,1 persen, menurun bila dibandingkan enam bulan lalu 18,2 persen.

Sementara menurut Polcomm Institute tingkat keterpilihan Prabowo 26,67 persen. Sedangkan Median, Prabowo meraih 20,4 persen turun dibandingkan Februari 2018 yang sebesar 21,2 persen.

Survei Litbang Kompas, mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo yang berada diurutan ketiga, elektabilitasnya masih 1,3 persen bergerak turun dari sebelumnya 3,3 persen.

Sedangkan berdasarakan survei Polcomm Instute, elektabilitas Gatot 3,5 persen, sementara survei Median mencatat tujuh persen.

Meski demikian, survei yang dilakukan, bukan tolok ukur kemenangan pemilihan presiden 2019 nanti, mengingat masih ada setahun sebelum pemilihan.

Anies dan Ahok
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) saat mengunjungi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (ANTARA/Hafidz Mubarak A)

Keputusan siapa pendamping Jokowi dalam kontestasi nantinya juga akan menentukan dukungan.

Begitu pula dengan Prabowo, meski merupakan ketua umum partai, tidak bisa serta merta menjadi calon presiden mengingat suara partainya di Parlemen tidak sampai 20 persen.

Prabowo butuh koalisi dari partai politik lain. Keberhasilan negosiasi dalam koalisi diperlukan untuk mendukungnya maju dalam pemilihan presiden.

Selain itu, elektabilitas saat ini, tidak bisa mengukur kemungkinan terjadinya isu yang mengubah persepsi masyarakat di masa mendatang. Hal karena, pemilihan presiden masih sekitar setahun, April 2019.

Pilkada DKI yang dilaksanakan pada 2017 misalnya, menjadi salah satu contoh. Tak butuh setahun bagi petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat dari PDIP tumbang, meskipun di dalam survei memiliki elektabilitas tinggi.

Pernyataan Ahok yang tidak perlu terkait agama yang dilakukannya di Kepulauan Seribu, menjadi kesalahan fatal alias blunder, setelah isu tersebut membesar.

Sementara Anies Baswedan, menjadi kuda hitam yang mampu mengungguli petahana setelah bersaing dalam dua putaran.(*)

#Pilpres 2019 #Hasil Survei #Prabowo Subianto #Presiden Jokowi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Eddy Flo

Simple, logic, traveler wanna be, LFC and proud to be Indonesian
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Surpres Destry Damayanti Sudah Masuk, Komisi XI DPR Segera Proses Calon Gubernur BI
Komisi XI DPR segera memproses pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI. Supres tersebut sudah masuk ke DPR.
Soffi Amira - 2 jam, 21 menit lalu
Surpres Destry Damayanti Sudah Masuk, Komisi XI DPR Segera Proses Calon Gubernur BI
Indonesia
107 Ribu Hektar Hutan Indonesia Terbakar, Ini Arahan Presiden Prabowo 
El Nino kuat memicu kebakaran hutan seluas 107.000 hektar. Presiden Prabowo instruksikan penanganan karhutla maksimal dengan koordinasi lintas lembaga, armada udara, dan opsi modifikasi cuaca.
Wisnu Cipto - Senin, 10 Agustus 2026
107 Ribu Hektar Hutan Indonesia Terbakar, Ini Arahan Presiden Prabowo 
Indonesia
Surpres Prabowo Mendarat di DPR, Destry Damayanti Siap Pegang Kendali Bank Indonesia
Pengalaman komprehensif mulai dari akademi, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga bank sentral menjadi modal utama memimpin BI
Angga Yudha Pratama - Senin, 10 Agustus 2026
Surpres Prabowo Mendarat di DPR, Destry Damayanti Siap Pegang Kendali Bank Indonesia
Indonesia
Prabowo Kirim Surat ke DPR, Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur BI
Presiden RI, Prabowo Subianto, mengusulkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI. Surat tersebut sudah dikirim ke DPR.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
Prabowo Kirim Surat ke DPR, Destry Damayanti Diusulkan Jadi Gubernur BI
Berita
Prabowo Ajukan Destry Damayanti sebagai Calon Tunggal Gubernur BI ke DPR
Presiden Prabowo mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI ke DPR. Ini profil dan proses penetapan Gubernur BI definitif.
ImanK - Senin, 10 Agustus 2026
Prabowo Ajukan Destry Damayanti sebagai Calon Tunggal Gubernur BI ke DPR
Indonesia
Rencana Evaluasi Buku Pelajaran, Pengamat Ingatkan Juga Pembenahan Mutu Pendidikan
Evaluasi buku pelajaran memang diperlukan agar materi yang digunakan siswa tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan pembelajaran.
Dwi Astarini - Senin, 10 Agustus 2026
Rencana Evaluasi Buku Pelajaran, Pengamat Ingatkan Juga Pembenahan Mutu Pendidikan
Indonesia
Prabowo Mau BUMN Lebih Gesit, Minta Anak-Cucu PLN dan Pertamina Dipangkas
Presiden RI, Prabowo Subianto, meminta PLN dan Pertamina memangkas anak perusahaannya.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
Prabowo Mau BUMN Lebih Gesit, Minta Anak-Cucu PLN dan Pertamina Dipangkas
Indonesia
Gerindra Klaim Kinerja Pemerintahan Prabowo Oke, Kepuasan Publik Capai 63 Persen
Gerindra mengklaim kinerja pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang dinilai oke.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
Gerindra Klaim Kinerja Pemerintahan Prabowo Oke, Kepuasan Publik Capai 63 Persen
Indonesia
Prabowo Heran Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026, Bandingkan dengan Cape Verde
Presiden RI, Prabowo Subianto, menyinggung timnas Indonesia gagal ke Piala Dunia 2026. Ia membandingkannya dengan Cape Verde.
Soffi Amira - Kamis, 06 Agustus 2026
Prabowo Heran Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026, Bandingkan dengan Cape Verde
Indonesia
Jejak AI di Makalah Ilmiah Pengusung MBG Nominasi Nobel Perdamaian 2026
Makalah Nobel Peace Prize 2026 yang mengusung Program MBG diduga menggunakan AI. Publik menemukan jejak prompt AI dalam dokumen, sementara pemerintah menginvestigasi pencatutan nama Presiden Prabowo.
Wisnu Cipto - Kamis, 06 Agustus 2026
Jejak AI di Makalah Ilmiah Pengusung MBG Nominasi Nobel Perdamaian 2026
Bagikan