Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Merajut Romantisme Tionghoa dan Pribumi Berdasarkan Arus Sejarah

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Jumat, 27 Januari 2017
Merajut Romantisme Tionghoa dan Pribumi Berdasarkan Arus Sejarah

Tokoh Tionghoa peranakan, David Kwa. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Ketika mendengar kata 'Tionghoa', mungkin yang terbesit dalam pikiran kita adalah salah satu etnis yang telah beranak-pinak di tanah Indonesia. Bahkan, masih banyak pula dari kita yang berasumsi bahwa kehadiran orang-orang Tionghoa hanya melulu memikirkan bisnis belaka.

Namun, di balik itu semua, mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa ada sebuah jalinan romantisme yang terjalin begitu erat antara peranakan Tionghoa bersama pribumi.

Lantas, seperti apa saja kedekatan yang terjalin antara etnis Cina peranakan dengan warga pribumi itu? Bagaimanakah perjuangan mereka jika dilihat dari catatan sejarah yang ada? Berikut ini adalah hasil wawancara eksklusif wartawan merahputih.com Luhung Sapto Nugroho dan Noer Ardiansjah dengan tokoh peranakan Tionghoa, David Kwa di kediamannya yang asri di Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/1).

Bagaimana sejarah kedekatan warga Tionghoa bersama pribumi dahulu?

Sejak zaman dulu, antara orang Tionghoa dan pribumi sangat dekat. Kalau pas zaman Belanda, bukan hanya dekat, akan tetapi juga turut membantu perjuangan. Pada peristiwa Angke dan Geger Pecinan, tahun 1740, orang Tionghoa habis dibantai oleh kolonial Belanda yang pada masa itu merupakan imbas dari persaingan ekonomi. Pada zaman itu, bisnis orang-orang Tionghoa sangat meningkat. Belanda tidak menyukai hal tersebut.

Akhirnya, banyak penindasan di mana-mana. Orang-orang Tionghoa, dari Batavia kemudian melarikan diri ke timur untuk menghindari kejaran orang-orang Belanda. Ketika sampai di Lasem, Jawa Tengah, orang-orang Tionghoa bersama pribumi bersatu melawan penindasan itu.

Tokoh Peranakan Tionghoa, David Kwa. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Kedekatan Pribumi dan Tionghoa tergambar dalam peristiwa Perang Kuning atau Geger Pecinan di Lasem. Bisa Anda ceritakan?

Ya, dari Jawa Tengah memang meluas. Ketika sampai di Lasem, mereka menyatukan pribumi. Di Lasem sendiri masih ada kelenteng yang menjadi saksi bisu perjuangan itu, Kelenteng Gie Yong Bio. Di altar utama adalah Kongco Tan Kee Wie dan Mayor Oei Ing Kiat. Kedua Kongco ini bersama Raden Panji Margono, bersama-sama berjuang melawan penjajah Belanda pada tahun 1742, yang terkenal dengan nama Perang Godo Balik atau Perang Kuning.

Bersama Raden Ngabehi Widyadiningrat (Oei Ing Kiat) dan Tan Kee Wie, mereka bertiga mengangkat senjata untuk melawan pasukan VOC dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Kuning. Tan Kee Wie akhirnya gugur di selat Mandalika pada tahun 1742, sementara Raden Panji Margono dan Mayor Oei Ing Kiat gugur pada tahun 1750. Meskipun kalah dalam perang melawan Belanda, kisah heroik ketiganya dimonumenkan dalam bentuk Kelenteng Gie Yong Bio yang dibangun oleh warga Tionghoa Lasem pada tahun 1780.

Untuk mengenang jasa-jasa dari kepahlawanan, menghormati leluhur serta meneladani sifat-sifat agungnya Kongco Gie Yong Kong dan Raden Panji Margono, dibuatlah patung serta mendirikan kelenteng Gie Yong Bio di Babagan Lasem.

Siapakah Raden Mas Panji Margono yang patungnya terdapat di klenteng Gie Yong Bio di Lasem?

Raden Mas Panji Margono merupakan putra dari seorang Adipati Lasem bernama Tejakusuma V (Raden Panji Sasongko). Pada saat Perang Kuning, ia menggunakan nama samaran Tan Pan Ciang dan dicatat dalam Babad Tanah Jawi sebagai Encik Macan.

Masyarakat Lasem pada masa itu sangat berduka karena gugurnya Raden Panji Margono. Penduduk Tionghoa di Lasem menghormatinya dan membuat patungnya (kimsin) untuk diletakkan di atas altar pada kelenteng Gie Yong Bio di Lasem. Penghormatan Raden Panji Margono sebagai seorang Jawa-muslim oleh komunitas Tionghoa di Lasem dapat disebut unik di seluruh Indonesia, selain menjadi bukti persahabatan leluhur kedua komunitas.

Sebagai tanda sudah berbaurnya antara masyarakat Tionghoa dan pribumi. Setiap hari ulang Thian Siang Seng Bo, yang juga jatuh sebagai hari ulang tahun kelenteng, yakni pada tanggal 23 bulan 3 penanggalan Cina, kelenteng akan merayakan sejumlah pergelaran wayang kulit, klonengan, dan gamelan.

Mengapa patung Raden Mas Panji Margono ditempatkan di klenteng?

Selain menjadi tempat untuk beribadah, fungsi daripada kelenteng sendiri adalah yang pertama sebagai monumen atau penghormatan bagi mereka yang berjasa, tidak melihat agama, suku, maupun ras. Selama ia bisa memberikan jasa yang besar bagi Tionghoa dan pribumi, pasti akan dibuatkan monumen untuk menghormati jasa-jasanya.

Tidak hanya di Lasem, seperti di Vihara Dhanagun, mungkin pada awalnya juga sama. Merupakan tempat pelarian orang-orang suku Hokkian dari kejaran kolonial Belanda. Namun, saya belum tahu persis. Akan tetapi ada kemungkinan seperti itu.

Kapan puncak gelombang kedatangan orang Hokkian (Tionghoa) ke Nusantara?

Kalau puncaknya saya belum tahu persis. Namun, sampai tahun 40-an, masih banyak terjadi imigrasi. Nah, tujuan dari orang-orang Tionghoa datang ke Nusantara sebenarnya selain berdagang adalah juga bertani bersama pribumi.

Tidak semuanya berdagang. Di daerah Tangerang, misalnya, orang-orang Tionghoa tidak ada yang berdagang selain bertani bersama pribumi.

Ada contoh lain kedekatan atau harmonisasi lainnya antara Tionghoa dan pribumi?

Romantisme atau kedekatannya bisa dilihat dari kulinernya seperti mie, tauco, ebi (udang kering), sayur asin, tahu, dan beberapa makanan lainnya. Itu kalau dari kuliner. Sedangkan kesenian dan budaya, justru lebih banyak. Akulturasi dari Tionghoa dan pribumi adalah gambang kromong yang mengkombinasikan musik Tionghoa dengan pribumi. Belum lagi, tehyan, sukong, dan beberapa lainnya.

Ada sejarawan yang mungkin tidak saya sebut namanya yang mengatakan bahwa tehyan, sukong, gambang kromong merupakan asli Betawi. Padahal kalau dilihat dari sejarah, itu merupakan akulturasi budaya. He he he.

Namun, biar saja. Kami, peranakan Tionghoa selalu menjaga perasaan. Jadi, tidak mau dibahas lebih jauh. Biar saja ini menjadi khazanah bangsa kita. Tapi tetap, dalam hal ini tidak bisa dipungkiri kalau tradisi Betawi merupakan akulturasi dari budaya Tionghoa dan Arab.

Untuk sosial, kita bisa lihat langsung di Bogor ketika merayakan Cap Gomeh. Kamu bisa melihat sendiri di Jalan Suryakencana. Cap Gomeh merupakan pesta rakyat. Bahkan, panitia untuk acara itu juga banyak melibatkan orang-orang pribumi.

Dan penting menjadi catatan, pada masa kolonial Belanda, orang-orang Tionghoa seperti dipaksa untuk mandiri. Mereka mendirikan sekolah sendiri seperti yang ada di Serpong, Sekolah Pahoa yang didirikan pada tahun 1901. Namun, kemudian pada zaman orde baru, sekolah itu ditutup.

Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Harapan sebagai peranakan Tionghoa untuk Indonesia?

Keharmonisan harus tetap terjaga. Jangan sampai ada lagi isu anti-China. Kalau kita lihat sejarah, banyak perjuangan orang Tionghoa bersama pribumi melawan kolonial Belanda, tapi tidak tertulis oleh sejarah. Sejarah ditulis berdasarkan siapa yang berkuasa.

#Tionghoa #Bhinneka Tunggal Ika
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
Cara Unik Rayakan Imlek, 3 Film Horor Pilihan Bertema Budaya Tionghoa
Film-film horor ini menghadirkan nuansa mistis, kutukan, hingga tradisi leluhur kental Tionghoa, sehingga cocok menjadi hiburan menegangkan.
Wisnu Cipto - Senin, 16 Februari 2026
Cara Unik Rayakan Imlek, 3 Film Horor Pilihan Bertema Budaya Tionghoa
Lifestyle
Makna Imlek 2026: Tahun Shio Kuda Api yang Bawa Energi Perubahan Kuat
Makna Imlek 2026 menandai tahunnya Shio Kuda. Shio ini membawa energi perubahan kuat dan membuka era baru.
Soffi Amira - Kamis, 12 Februari 2026
Makna Imlek 2026: Tahun Shio Kuda Api yang Bawa Energi Perubahan Kuat
Lifestyle
7 Tradisi Imlek yang Masih Lestari di Indonesia, Jadi Simbol Harapan dan Kebersamaan
Tradisi Imlek di Indonesia ini masih biasa dilakukan oleh masyarakat Tionghoa. Tradisi itu menjadi simbol harapan dan kebersamaan.
Soffi Amira - Kamis, 12 Februari 2026
7 Tradisi Imlek yang Masih Lestari di Indonesia, Jadi Simbol Harapan dan Kebersamaan
Berita Foto
Ornamen Tionghua Hiasi Pusat Perbelanjaan Jelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Jakarta
Pengunjung berfoto bersama dengan latar belakang Ornamen Oriental Khas Imlek di Pusat Perbelanjaan Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 11 Februari 2026
Ornamen Tionghua Hiasi Pusat Perbelanjaan Jelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Jakarta
Tradisi
Warna Merah dan Imlek, Simbol Perayaan dan Harapan Keberuntungan
Warna merah dalam kebudayaan Tionghoa merupakan salah satu budaya yang paling kaya akan simbol.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Februari 2026
 Warna Merah dan Imlek, Simbol Perayaan dan Harapan Keberuntungan
Berita Foto
Umat Buddha Gelar Buka Puasa Bersama untuk Umat Muslim saat Ramadan 1446 H di Vihara Dharma Bakti
Umat membagikan makanan untuk buka puasa bagi umat muslim di Vihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Jakarta Barat, Senin (10/3/2025).
Didik Setiawan - Senin, 10 Maret 2025
Umat Buddha Gelar Buka Puasa Bersama untuk Umat Muslim saat Ramadan 1446 H di Vihara Dharma Bakti
Berita Foto
Warga Etnis Tionghoa Berburu Pernak-pernik Jelang Perayaan Imlek 2025
Warga Etnis Tionghoa memilih berbagai pernak-pernik Imlek di Kawasan Pecinan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (20/1/2025).
Didik Setiawan - Senin, 20 Januari 2025
Warga Etnis Tionghoa Berburu Pernak-pernik Jelang Perayaan Imlek 2025
Indonesia
Komunitas Tionghoa Curhat ke RIDO, Jakarta Harus Punya Gedung Opera Kesenian
Ridwan Kamil dan Suswono (RIDO), menerima masukan dari Komunitas Tionghoa terkait gedung Chinese Opera
Frengky Aruan - Rabu, 23 Oktober 2024
Komunitas Tionghoa Curhat ke RIDO, Jakarta Harus Punya Gedung Opera Kesenian
Indonesia
Bertemu Komunitas Tionghoa, Ridwan Kamil Pamer Punya 20 Karya di China
Ridwan Kamil (RK) atau Bang Emil blusukan di Kawasan Glodok, Jakarta Barat, Rabu (23/10).
Frengky Aruan - Rabu, 23 Oktober 2024
Bertemu Komunitas Tionghoa, Ridwan Kamil Pamer Punya 20 Karya di China
Indonesia
Paus Fransiskus Terkesan dengan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Paus Fransiskus menilai semboyan itu tak tergantikan karena menyatukan seluruh elemen di Indonesia.
Frengky Aruan - Rabu, 04 September 2024
Paus Fransiskus Terkesan dengan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Bagikan