Menuju Industri Penerbangan 3.0

Zaimul Haq Elfan HabibZaimul Haq Elfan Habib - Minggu, 14 Juli 2019
Menuju Industri Penerbangan 3.0

Menuju Industri Penerbangan 3.0. (Antaranews)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Agen tiket, tour and travel, bahkan jadwal penerbangan nampaknya akan menjadi hal usang di industri penerbangan. Padahal komponen-komponen rantai usaha tersebut merupakan bagian penting dari sebuah proses industri penerbangan. Bagaimana bisa menyublim begitu saja?

Teknologi, itu adalah kata yang tempat untuk mewakili bagaimana rantai-rantai pendulang ekonomi penerbangan tersebut perlahan menyublim dari benak masyarakat. Semua sektor bahkan turut termakan akan adanya kemajuan teknologi, seakan seperti “si waktu” yang menjadi pemakan segala yang ada.

Baca Juga: Awal Beroperasi Bandara Kulon Progo Hanya Layani Penerbangan Internasional

Namun, semua hal nampaknya harus beradaptasi jika tidak ingin tergilas peradaban. Tidak terkecuali industri penerbangan yang mulai mengusung konsep 3.0. Kajian ilmu pengetahuan dan teknologi ini mulai menemukan masa puncak jayanya ketika ditemukannya nilai tambah secara ekonomis dari apa yang disebut “Big Data”.

Seolah “Big Data”, saat ini adalah emas yang memiliki kandungan tertingginya diantara unsur logam mulia lainnya. Barang siapa menguasai pengolahan statistik big data, maka ia akan menguasai pasar. Formula tersebut yang sedang terjadi di revolusi industri penerbangan.

Salah satu peneliti big data di perusahaan penerbangan internasional, AirAsia, bahkan sudah memunculkan diversifikasi bisnis akibat olahan data-data yang dapat mampu berbicara tersebut. Head of Data Science and Insights AirAsia, Sadesh Manikam bahkan mampu menyimpulkan jika bisnis transportasi penerbangan, hanya akan menjadi salah satu bagian kecil dari usaha AirAsia Group.

Perusahaan yang berbasis di Malaysia tersebut, sudah mampu membaca tren bisnis ke depan, transformasi yang dilakukan tidak sembarangan, dari bisnis transportasi menjadi fintech atau finansial teknologi yang berbasis aplikasi. Melalui laman utamanya di dunia maya, AirAsia akan menjadi aplikasi yang bersarang di gawai para konsumen.

Baca Juga: Lebaran, Penerbangan Luar Jawa Bakal Dipindah ke Bandara Yogyakarta International Airport

Dompet elektronik (e-wallet), akan menjadi konsep utama yang disebut dengan “Big Pay”, mengusung transaksi nontunai yang sudah menebar di segala sektor. Dengan olahan data-data algoritma kebiasaan para pelanggannya, AirAsia membaca peluang di sektor fintech.

Konsumen tidak perlu repot mencari konsep liburan seperti apa yang mereka inginkan, karena dengan kebiasaan personal sendiri, aplikasi dari perusahaan penerbangan tersebut akan menawarkan lokasi serta konsep liburan yang sesuai untuk konsumen melalui tawaran promosi liburan lewat aplikasi AirAsia. Dalam konteks pembacaan algoritma mengenai promosi liburan tersebut telah menghilangkan rantai jasa perencanaan liburan dari “tour and travel”.

Lebih lanjut, Group Head Communication Audrey Progastama Petriny kedepannya akan menawarkan konsep liburan yang mengutamakan gaya hidup (lifestyle) dengan menyediakan wifi dalam kabin pesawat terbang yang selama ini tabu untuk dinyalakan selama mengudara.

Mengumpulkan statistik data pelanggan akan memunculkan kesimpulan baru untuk tiap personal konsumen, bahkan pilihan makanan pun akan dapat ditawarkan seperti restoran ketika berada di pesawat. Selain itu, untuk mengutamakan pelayanan, setiap keluhan pelanggan selama penerbangan atau pasca mengudara akan terbalas otomatis melalui “Chabot”, atau tulisan yang terjawab otomatis melalui kecerdasan buatan.

“Begitulah luar biasanya riset data, bahkan robot pun sudah dapat kami latih menangani keluhan pelanggan,” kata Audrey seperti dilansir Antara. Selain itu, maskapai ber-plat merah Garuda Indonesia juga sedang terjun ke jalur nirkabel, dengan menghadirkan wifi di kabin burung besi.

Setidaknya 30 pesawat tengah dipersiapkan untuk mendapatkan layanan selancar di dunia maya ketika lepas landas. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Juliarto.

Kecerdasan buatan dan big data akan menjadi kunci sebagai pintu revolusi dunia industri, bahkan 95 persen usaha retail sudah beralih ke tingkat on line setelah memhami peluang tersebut, menurut data Aprindo.

Memahami kebiasaan konsumen adalah langkah paling ideal dalam memberikan pelayanan bisnis jasa, karena tidak akan membuang waktu dalam memberikan program serta pilihan promosi yang sesuai.

Dengan adanya konsep traveling yang mengutamakan pengalaman, maka liburan akan menjadi kebutuhan, bukan hanya sebagai komplementer atau pelengkap. AirAsia dan Garuda Indonesia mulai menunjukkan pola perubahan industri penerbangan yang kini lebih mudah dijangkau semua kalangan denga berbagai fasilitas penunjang.

Baca Juga: Mulai Juni Akan Dibuka Penerbangan Langsung Jakarta-Phnom Penh

Pelanggan juga akan dipermudah dengan beragamnya tawaran yang bisa diakses dalam genggaman tangan, seperti tukar menukar mata uang yang sebelumnya merepotkan pelancong, ternyata bisa dilakukan dengan aplikasi secara cashless atau nontunai bahkan biaya konversinya lebih murah dibandingkan jika menuju gerai jasa penukaran uang.

Pembacaan algoritma dari kebiasaan konsumen adalah serapan dari riset pemasaran yang dilakukan memanfaatkan teknologi. Dari sebanyak ratusan ribu orang yang melakukan transaksi penerbangan.

Per individu dianalisa untuk meruncingkan pilihan-pilihan yang paling sesuai dengan pribadi masing-masing, sehingga akan lebih efisien bagi kedua pihak, baik korporasi ataupun konsumen.

Di sisi lain revolusi Industri penerbangan tersebut akan memiliki dua mata pisau yang menurunkan peran serta sumber daya manusia dengan mengatasnamakan efisiensi. Tidak dapat dihindari adaptasi yang dilakukan akan mengurangi jumlah pekerja yang ada, karena akan memaksimalkan peran robot dan teknologi.

Tetapi, adaptasi dari kemampuan korporasi dalam memanajemen skill sumber daya manusia dapat menghindarkan efek negatif tersebut. Salah satu contoh, AirAsia yang akan bertransformasi menjadi fintech, juga akan memiliki bisnis kargo serta retail restauran yang masih menjadi setali tiga uang dalam industri penerbangan.

Saat ini ekspansi fintech di Indonesia pun masih menunggu persetujuan dari Ototitas Jasa Keungan (OJK) yang memiliki wewenang di ranah usaha tersebut. Nampaknya, akan semakin banyak dibutuhkan para ilmuwan serta pakar dibidang statistik dan data teknologi yang mampu memberikan probabilitas terbaik dari setiap hal. (*)

Baca Juga: Meski Berstatus Internasional, Penerbangan Luar Negeri Bandara YIA Ditunda

#Penerbangan
Bagikan
Ditulis Oleh

Zaimul Haq Elfan Habib

Low Profile

Berita Terkait

Indonesia
3 Gunung Api di Indonesia Timur Meletus Hampir Bersamaan, Abunya Berpotensi Ganggu Penerbangan
Gunung Dukono, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-laki meletus pada Jumat pagi. Badan Geologi menetapkan status Siaga di Lewotobi dan Waspada di Dukono serta Ibu.
Wisnu Cipto - Jumat, 12 Juni 2026
3 Gunung Api di Indonesia Timur Meletus Hampir Bersamaan, Abunya Berpotensi Ganggu Penerbangan
Indonesia
Indonesia Diyakini Bakal Layani 690 Juta Penumpang Pesawat di 2045
Indonesia menurut IATA diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada tahu2030.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Indonesia Diyakini Bakal Layani 690 Juta Penumpang Pesawat di 2045
Indonesia
Blanket Overflight dalam Perspektif Hukum Udara
Blanket overflight sudah lama dipraktikkan dalam dunia penerbangan, bahkan jauh sebelum adanya hukum udara internasional.
Soffi Amira - Selasa, 14 April 2026
Blanket Overflight dalam Perspektif Hukum Udara
Indonesia
Harga Avtur Naik, Pemerintah Nolkan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat
Pemerintah nolkan bea masuk suku cadang pesawat untuk tekan biaya maskapai akibat kenaikan harga avtur. Tiket pesawat dijaga tetap terjangkau.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 07 April 2026
Harga Avtur Naik, Pemerintah Nolkan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat
Indonesia
Pemerintah Setop Penerbangan Luar Negeri Adalah Misleading Information, ANTARA Minta Maaf
Kami sampaikan klarifikasi ini sebagai bentuk transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab profesional selaku jurnalis
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 18 Maret 2026
Pemerintah Setop Penerbangan Luar Negeri Adalah Misleading Information, ANTARA Minta Maaf
Dunia
Bawa 268 Orang, United Airlines Terpaksa Balik Kanan Mendarat Darurat
Pesawat United Airlines penerbangan 2127 terpaksa kembali ke Bandara Internasional Los Angeles (LAX) untuk melakukan pendaratan darurat
Wisnu Cipto - Rabu, 04 Maret 2026
Bawa 268 Orang, United Airlines Terpaksa Balik Kanan Mendarat Darurat
Indonesia
Eskalasi Konflik Timur tengah, Angkasa Pura Laporkan Pembatalan dan Penundaan Penerbangan Kedatangan dan Keberangkatan
Peningkatan keamanan membuat sejumlah negara di Timur Tengah tersebut melakukan penutupan wilayah udara (airspace closed).
Frengky Aruan - Minggu, 01 Maret 2026
Eskalasi Konflik Timur tengah, Angkasa Pura Laporkan Pembatalan dan Penundaan Penerbangan Kedatangan dan Keberangkatan
Indonesia
Video Penumpang Super Air Jet Delay 5 Jam Viral, YLKI Soroti Hak Konsumen
Video penumpang Super Air Jet delay hingga lima jam viral di media sosial. YLKI meminta audit maskapai dan transparansi layanan kepada konsumen.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 15 Februari 2026
Video Penumpang Super Air Jet Delay 5 Jam Viral, YLKI Soroti Hak Konsumen
Indonesia
Cuaca Ekstrem, AirNav Lakukan Divert dan Holding di Bandara Soetta
Cuaca ekstrem di Jakarta menyebabkan gangguan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. AirNav mencatat 15 pesawat holding dan 16 dialihkan demi keselamatan.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 13 Januari 2026
Cuaca Ekstrem, AirNav Lakukan Divert dan Holding di Bandara Soetta
Indonesia
Gelapan Ditanya Pendidikan, Pramugari ‘Gadungan’ Batik Air Tertangkap Basah
KN berhasil naik ke pesawat dengan berpakaian mirip pramugari tanpa dicurigai. Dia baru dicurigai saat duduk di kursi penumpang.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Januari 2026
Gelapan Ditanya Pendidikan, Pramugari ‘Gadungan’ Batik Air Tertangkap Basah
Bagikan