Merahputih.com - Pemerintah menyatakan tidak menyiapkan intervensi khusus untuk menghadapi tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Landasan penilaian harga saham bertumpu pada fondasi ekonomi nasional yang kuat dan terus membaik.
Kalau dari saya sih nggak ada (intervensi). Yang penting adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,
Menteru Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
IHSG mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis dengan penurunan lebih dari 4 persen. Per Kamis (4/6) pukul 10.02 WIB, IHSG melemah 246,14 poin atau 4,14 persen ke level 5.694,91.
Baca juga:
Rupiah dan IHSG Terseok, Sentimen Dalam Negeri dan Duit Asing Rp 67 Triliun Keluar Jadi Pemicu
Purbaya Yudhi Sadewa menilai gejolak pasar modal saat ini merupakan kekhawatiran jangka pendek akibat isu negatif dalam negeri. Bendahara negara berkomitmen menjaga kinerja perekonomian sekaligus sentimen pasar tetap stabil.
Indikator Makroekonomi Tetap Solid
Purbaya mengungkapkan optimisme bahwa IHSG mampu berbalik menguat berkat sokongan soliditas fundamental perekonomian. Berbagai indikator perekonomian berpotensi mendorong pasar saham kembali bergerak positif.
Inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy) masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Selain itu, realisasi penerimaan pajak per 30 April 2026 mencapai Rp646,3 triliun atau tumbuh sebesar 16,1 persen secara tahunan.
Krisis Kepercayaan Pasar Modal Domestik
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai koreksi tajam bursa saham menunjukkan pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan serius. Faktor domestik memperparah pelemahan pasar saham, bukan sekadar pengaruh sentimen eksternal.
Baca juga:
"Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal," kata Hendra Wardana.
Kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu memicu pelemahan rupiah. Sentimen negatif tersebut memicu berlanjutnya arus keluar dana asing, sehingga investor mengurangi investasi pada aset berisiko di Indonesia. Kondisi pasar modal dalam negeri terlihat kontras saat sebagian besar bursa saham Asia justru bergerak menguat.