Menilik Lebih Jauh tentang Perbudakan Belanda di Indonesia

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Rabu, 21 Desember 2022
Menilik Lebih Jauh tentang Perbudakan Belanda di Indonesia

Perbudakan Belanda di Tanah Air bermula ketika VOC datang ke Kepulauan Banda di Maluku pada 1621 (Foto: Geheugen)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

NEGERI Belanda menjadi bahan perbincangan di media massa dan sosial. Negara yang beribukotakan Amsterdam itu baru saja meminta maaf atas tindak perbudakan yang yang dilakukan oleh leluhur mereka ratusan tahun lalu. Permohonan maaf disampaikan oleh Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda, secara langsung melalui pidatonya di Nationaal Archive, Den Haag, Senin (19/12).

“Hari ini, sebagai perwakilan dari pemerintahan Belanda, saya meminta maaf atas tindakan masa lalu belanda yang telah memperbudak banyak orang di masa lalu dan di seluruh dunia,” tuturnya kepada korban di masa lalu sekaligus kepada seluruh keturunan yang masih hidup hingga saat ini.

Seperti telah banyak disampaikan dalam buku sejarah sekolah, Belanda dianggap menjajah dan mendominasi ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia selama ratusan tahun.

Menurut Erik van Zwam dalam "Waarom Nederland geen excuses aanbiedt voor de grootscheepse slavernij in Indonesië" di laman Trouw, perbudakan Belanda di Tanah Air bermula ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)/Kongsi Dagang Hindia Timur datang ke Kepulauan Banda di Maluku pada 1621.

VOC adalah perusahaan dagang multinasional yang mempekerjakan orang dari berbagai kebangsaan. Saham VOC dimiliki oleh orang-orang kaya dan beberapa anggota Kerajaan Belanda.

Mereka ingin memonopoli seluruh perdagangan rempah-rempah di Nusantara, seperti buah pala, lada, dan cengkeh. Ini membuat ribuan penduduk lokal terbunuh dan ratusan lainnya disandera serta dikirim ke Batavia, yang kini disebut sebagai Jakarta.

Proses ini hanyalah awal dari tindakan tak manusiawi yang dilakukan Belanda pada orang Indonesia dan penduduk di belahan bumi Timur lainnya. Perbudakan di Nusantara oleh Belanda diperkirakan sama besarnya dengan yang terjadi di Suriname serta Kepulauan Karibia.

Baca juga:

Perdana Menteri Belanda Minta Maaf Atas Perbudakan Masa Lalu

banda
Ribuan penduduk lokal Banda terbunuh dan ratusan lainnya disandera serta dikirim ke Batavia, yang kini disebut sebagai Jakarta. (Foto: Geheugen)

Demikian diungkap oleh Matthias van Rossum, peneliti International Institute of Social History, yang berfokus pada sejarah perbudakan di Indonesia. Diperkirakan ada 660 ribu hingga 1,1 juta orang yang dijadikan budak oleh VOC. Perbudakan ini juga tak lepas dari andil penguasa lokal yang membuat perjanjian dengan VOC.

Orang-orang ini ditangkap dan dijadikan budak untuk bekerja secara paksa di berbagai lokasi. Misalnya di perkebunan tebu di Batavia dan pertambangan perak serta emas di Sumatera Utara.

Pada abad ke-18 dan 19 (sekitar tahun 1700 hingga 1800-an) pula, para budak dipaksa untuk bekerja menghasilkan rempah-rempah, menanam padi, dan mengurusi bongkar-muat kapal di pelabuhan dan galangan kapal.

Pada masa itu juga, banyak budak yang diperkerjakan sebagai asisten rumah tangga (sebutan lampaunya babu) di kediaman orang Belanda. Para babu dianggap 'lebih beruntung' daripada mayoritas budak yang ada di Suriname.

Tak jarang, akhirnya orang yang diperbudak tadi memiliki anak hasil hubungan dengan lelaki Belanda. Keturunan mereka disebut Indo, sedangkan ibu dari si Indo dan istri orang Belanda disebut Nyai. Dari percampuan ini pula muncul kebudayaan Indis, sebuah campuran antara kebudayaan setempat dan Eropa.

Beberapa anak Indo cenderung dianggap oleh kaum Anak Negeri (Pribumi) sebagai kelompok yang memiliki privilege atau keuntungan sosial. Namun, beberapa anak Indo lainnya justru menerima perlakukan buruk dari kelompok Eropa.

Kehidupan sebagai anak Indo tidak menyenangkan seperti yang terlihat. Mereka ditolak oleh kelompok Anak Negeri, juga kelompok Eropa, dan sering menjadi sasaran perbudakan di rumah sendiri. Terkadang diperlakukan kasar, seperti dicambuk.

Baca juga:

Ragam Menu Rijsttafel, Sajian Lengkap Tiga Budaya

kuli tiongkok
Kuli akhirnya menjadi budak versi modern pada abad ke-19 dan awal 20-an. (Foto: Universiteit Leiden)

Seiring berjalannya waktu, pada akhir abad ke-18, VOC bangkrut. Perusahaan ini akhirnya diambil-alih oleh pihak Kerajaan Belanda. Namun perbudakan berlanjut. Aktornya kali ini adalah negara Belanda.

Mereka memberlakukan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada 1830. Melalui sistem ini, para petani dipaksa untuk menanam tanaman yang laku di pasaran dunia seperti kopi, tembakau, dan nila.

Karena kritik keras dari kelompok Liberal di Belanda, Pemerintah Belanda menghapus Sistem Tanam Paksa pada 1870-an. Masa setelah tanam paksa, perbudakan kembali dilakukan oleh perusahaan swasta berbentuk perkebunan. Mereka memperbudak pekerja lewat sistem kuli kontrak (Koelie Ordonnantie).

Perkebunan menawarkan sejumlah kontrak kerja yang ditandatangani oleh pekerja lokal dan pendatang dari Tiongkok. Sayangnya, pekerja tidak tahu kontrak jenis apa yang mereka ambil karena mayoritas buta huruf. Kuli akhirnya menjadi budak versi modern pada abad ke-19 dan awal 20-an.

Jumlah kuli yang direkrut dari Tiongkok sekira 20 ribu orang sejak 1880. Kuli dari Indonesia rata-rata berasal dari pulau Sumatera dan Jawa. Sistem kuli berlanjut sampai akhir tahun 1920-an. Data ini disampaikan oleh Budiman Minasny, seorang Professor of Land Use di University of Sydney, seperti dikutip dari Trouw.

Budiman juga menyampaikan kondisi hidup para kuli yang mengenaskan. Gambaran kuli ini juga tersua dalam buku Jan Bremen Menjinakkan Sang Kuli dan novel berjudul Coelie karya M.H. Székely-Lulofs. Perkebunan swasta bertindak semau sendiri. Tak ada pengawasan dari pemerintah.

Menurut Van Rossum, rentetan perbudakan ini meninggalkan luka besar yang membekas bagi para korban serta keturunan mereka. Di Indonesia, tidak banyak pihak yang melakukan penelitian terkait perbudakan ini sejak awal. Penderitaan korban pun kurang muncul di masyarakat umum.

Budiman menilai ada sejumlah pihak di Indonesia yang menganggap 'banyak hal lebih penting daripada masa lalu'. Meskipun sejarah penting, kebanyakan anak muda saat ini lebih terfokus untuk menata masa depan.

Sedangkan tuntutan permintaan maaf untuk kejahatan pada masa lalu mayoritas datang dari penduduk yang berusia dewasa hingga lanjut. Pemerintah dan media Indonesia juga tidak terlalu sering membahas topik soal perbudakan dari Belanda ini. (mcl)

Baca juga:

'Emancipation', Film tentang Perbudakan Pertama dari Will Smith

#Belanda #Sejarah Indonesia
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Dunia
Transportasi Umum Belanda Lumpuh akibat Pemogokan Tolak Pemotongan Anggaran Kesejahteraan
Transportasi umum di Belanda nyaris lumpuh pada Rabu (9/9) akibat pemogokan nasional.
Yusuf Abdillah - Rabu, 09 September 2026
Transportasi Umum Belanda Lumpuh akibat Pemogokan Tolak Pemotongan Anggaran Kesejahteraan
Fun
Drumer Van Halen Dapat Gelar Bangsawan Belanda, Masuk Ksatria Ordo Singa
Drummer Van Halen, Alex Van Halen, menerima gelar kebangsawanan Ordo Singa Belanda di Nijmegen.
Wisnu Cipto - Minggu, 06 September 2026
Drumer Van Halen Dapat Gelar Bangsawan Belanda, Masuk Ksatria Ordo Singa
Olahraga
Verstappen Alami Kecelakaan di Saat Lap Pertama, Lando Norris Juara F1 GP Belanda 2026
Verstappen memastikan dirinya dalam kondisi baik setelah insiden tersebut. Kecelakaan itu sekaligus mengakhiri balapan pembalap Red Bull di hadapan publiknya sendiri.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Verstappen Alami Kecelakaan di Saat Lap Pertama, Lando Norris Juara F1 GP Belanda 2026
Olahraga
Legenda Spanyol Xavi Hernandez Ditunjuk Tangani Timnas Belanda Setelah Tampil Mengecewakan di Piala Dunia 2026
Xavi mendapat tantangan baru bersama Belanda setelah Oranje menjalani Piala Dunia 2026 yang mengecewakan.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 13 Agustus 2026
Legenda Spanyol Xavi Hernandez Ditunjuk Tangani Timnas Belanda Setelah Tampil Mengecewakan di Piala Dunia 2026
Olahraga
Reiziger Digantung KNVB, Rumor Kembalinya Louis van Gaal Bikin Gaduh Sepak Bola Belanda
Isu tersebut mengemuka saat KNVB sebenarnya hampir mencapai kesepakatan akhir bersama Michael Reiziger
Angga Yudha Pratama - Rabu, 12 Agustus 2026
Reiziger Digantung KNVB, Rumor Kembalinya Louis van Gaal Bikin Gaduh Sepak Bola Belanda
Olahraga
Link Streaming Belanda vs Maroko, Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Ketajaman lini depan skuad Oranje sejauh ini menyamai produktivitas gol Jerman dan Prancis
Angga Yudha Pratama - Selasa, 30 Juni 2026
Link Streaming Belanda vs Maroko, Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Olahraga
Belanda vs Maroko: Singa Atlas Siap Terkam De Oranje di Monterrey
Kedua tim melangkah ke fase gugur berbekal catatan impresif sepanjang babak penyisihan grup
Angga Yudha Pratama - Senin, 29 Juni 2026
Belanda vs Maroko: Singa Atlas Siap Terkam De Oranje di Monterrey
Olahraga
Melaju ke 16 Besar, Kanada Bersiap Hadapi Belanda atau Maroko
Eustaquio menjadi pahlawan kemenangan lewat gol spektakuler pada menit ke-90+2 yang mematahkan perlawanan Afrika Selatan.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 29 Juni 2026
Melaju ke 16 Besar, Kanada Bersiap Hadapi Belanda atau Maroko
Olahraga
Umpan Silang Klasik Jajah Piala Dunia 2026, Gaya Main Zaman Purba Laris Manis Diterapkan di Era Sepak Bola Modern
Para pemain sayap kini bisa berlari bebas membelah garis pertahanan tanpa perlu cemas terhadap kesalahan keputusan hakim garis
Angga Yudha Pratama - Rabu, 24 Juni 2026
Umpan Silang Klasik Jajah Piala Dunia 2026, Gaya Main Zaman Purba Laris Manis Diterapkan di Era Sepak Bola Modern
Olahraga
Belanda vs Swedia: Oranje Diprediksi Jinakkan The Yellow Blue, Pasukan Graham Potter Tebar Ancaman Maut
Berbekal reputasi finalis tiga kali, Belanda wajib membenahi fokus lini belakang pada menit-menit krusial pertandingan
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 20 Juni 2026
Belanda vs Swedia: Oranje Diprediksi Jinakkan The Yellow Blue, Pasukan Graham Potter Tebar Ancaman Maut
Bagikan