MerahPutih.com - Indonesia membuka peluang lebih besar untuk memasok berbagai produk pangan nasional ke dalam rantai pasok katering haji di Arab Saudi.
Peluang tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf saat meninjau dua dapur katering penyedia konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas layanan konsumsi bagi jemaah haji sekaligus melihat potensi pemanfaatan produk pangan Indonesia dalam penyediaan makanan selama musim haji.
Dalam peninjauan itu, Menhaj memastikan proses pengolahan makanan berjalan sesuai standar kebersihan, kesehatan, dan keamanan pangan yang berlaku.
Komoditas Indonesia Berpotensi Masuk Pasar Saudi
Selain memeriksa kualitas layanan, Gus Irfan—sapaan akrab Mochamad Irfan Yusuf—juga mengidentifikasi peluang penggunaan bahan baku asal Indonesia yang dinilai memiliki daya saing tinggi.
Menurutnya, sejumlah komoditas yang saat ini dipasok dari negara lain sebenarnya dapat dipenuhi oleh Indonesia.
Saat meninjau dapur katering, ia menemukan berbagai bahan pangan yang memiliki kemiripan dengan produk Indonesia, mulai dari santan, ikan patin, ikan teri, hingga aneka bumbu masakan Nusantara.
Saya melihat ada santan yang kemungkinan besar bahan bakunya berasal dari Indonesia, tetapi dipasarkan melalui negara lain. Begitu juga ikan patin yang saat ini dipasok dari negara tetangga, padahal Indonesia memiliki potensi produksi yang sangat besar,
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf.
Gus Irfan mengungkapkan pemerintah sebenarnya telah mulai menjajaki pengiriman sejumlah komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi guna mendukung kebutuhan konsumsi jemaah haji.
Beberapa komoditas yang pernah dicoba untuk dikirim antara lain beras dan berbagai jenis bumbu masakan.
Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal karena terkendala situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi serta meningkatkan biaya logistik.
"Kami sudah mulai mencoba mengirim beras dan berbagai bumbu dari Indonesia. Namun karena situasi kawasan yang belum sepenuhnya kondusif, biaya transportasi menjadi tinggi sehingga tidak semua rencana pengiriman dapat terlaksana," ujarnya.
Ia berharap kondisi di kawasan Timur Tengah segera membaik sehingga distribusi logistik kembali normal dan produk-produk Indonesia dapat lebih mudah menembus pasar Arab Saudi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan katering haji.
Baca juga:
MAKI Bongkar Dugaan Pungli Kuota Haji dan Katering, Kerugian Negara Capai Triliunan
Menurut Menhaj, peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk memasok kebutuhan konsumsi jemaah haji masih sangat terbuka lebar.
Berbagai produk yang saat ini digunakan dalam katering haji, seperti ikan teri, asam jawa, santan, hingga ikan patin, merupakan komoditas yang dapat diproduksi Indonesia dengan kualitas yang mampu bersaing.
"Peluangnya sangat besar. Produk-produk yang dibutuhkan sebenarnya banyak tersedia di Indonesia. Tinggal bagaimana kita memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku agar produk tersebut bisa masuk ke Arab Saudi," katanya.
Baca juga:
23 Katering Manjakan Lidah Nusantara Calon Haji di Tanah Suci, Tersedia Menu Khusus Lansia
Produk Indonesia Diupayakan Masuk Kontrak Katering Haji
Ke depan, Kementerian Haji dan Umrah akan mendorong penggunaan produk Indonesia melalui berbagai skema kerja sama dengan penyedia katering.
Salah satu opsi yang tengah didorong adalah memasukkan penggunaan komoditas tertentu asal Indonesia ke dalam kontrak layanan konsumsi jemaah haji.
Dalam kontrak ke depan, kita bisa mengatur penggunaan sejumlah bahan baku dari Indonesia. Dengan begitu, produk Indonesia memiliki kepastian pasar dan dapat menjadi bagian dari rantai pasok konsumsi haji,
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf.
Menhaj menegaskan, langkah tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas layanan konsumsi jemaah, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional.
"Kita ingin jemaah mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera Indonesia, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha dalam negeri. Haji tidak hanya menjadi pelayanan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk penguatan ekosistem ekonomi Indonesia di tingkat global," pungkasnya. (Asp)