Relasi

Menguji Validitas Tes Kepribadian

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 22 Februari 2022
Menguji Validitas Tes Kepribadian

Tes kepribadian mencerminkan apa yang kamu pikirkan tentang diri sendiri, dengan hasil yang dapat memberikan perspektif unik. (freepik/tirachardz)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BANYAK orang mengerjakan tes kepribadian untuk belajar tentang diri sendiri. Tentu saja tes hanya mencerminkan apa yang kamu pikirkan tentang diri sendiri. Namun, hasilnya dapat memberikan perspektif unik tentang sifatmu.

Pertama, tes yang baik akan menanyakan banyak aspek kepribadianmu sehingga hasilnya memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang diri sendiri daripada refleksi biasa. Kedua, hasilnya dihitung dengan membandingkan skor sifatmu dengan orang lain.

Sebagai contoh, kamu menyelesaikan tes kepribadian Big Five dan mendapatkan hasil tentang posisimu pada masing-masing dari lima sifat jika dibandingkan dengan orang lain. Katakanlah kamu tinggi dalam ekstraversi (di sepertiga teratas di antara orang lain), rendah dalam neurotisisme (di sepertiga terbawah di antara orang lain), dan sedang dalam tiga sifat lain. Namun, seberapa besar kamu bisa mempercayai hasil tes ini?

BACA JUGA:

Tato Sering Dilarang di Tempat Kerja, Masih Relevan?

Uji reliabilitas dan validitas

tes
Keandalan tes mengacu pada konsistensi skor tes dari satu pengukuran ke pengukuran lain. (freepik/katemangostar)


Psikometri yang mengembangkan dan menyebarkan tes psikologi sering menggambarkan kualitas tes dengan istilah reliabilitas dan validitas.

Keandalan tes mengacu pada konsistensi skor tes dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya, dengan asumsi sifat tidak berubah. Ketidakkonsistenan dapat terjadi karena orang mengubah suasana hati mereka, tidak yakin tentang diri mereka sendiri, atau hanya terganggu, misalnya.

Psikometri dapat menilai keandalan tes dengan meminta banyak orang mengambilnya dua kali dalam waktu singkat. Korelasi antara skor dari dua kesempatan pengujian biasanya antara 0,80 dan 0,90. Psikometri menafsirkan seperti ini: 80 persen hingga 90 persen varians dalam nilai tes orang dapat diandalkan. Namun, apa arti varians yang dapat diandalkan 90 persen untuk skormu?

Validitas mengacu pada sejauh mana tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Karena saat ini kita hanya memiliki sedikit cara untuk mengukur ciri-ciri kepribadian tanpa tes kepribadian. Tidak ada banyak tolok ukur independen untuk memverifikasi pengukuran tersebut. Jadi validitas dinilai secara tidak langsung.

Misalnya, kamu dapat membandingkan nilai tes seseorang dengan skor tes lain yang diduga mengukur sifat yang sama. Skor didasarkan pada penilaian orang lain, seperti teman atau mitra. Semakin mirip skor orang, terlepas dari tes spesifik mana yang mereka ambil atau apakah mereka atau orang lain menilai sifat mereka, semakin kamu dapat percaya bahwa skor mengatakan sesuatu yang valid tentang sifat seseorang.

Tentu saja kamu tidak bisa mengharapkan teman atau pasangan untuk berbagi informasi yang sama tentangmu. Namun, memvalidasi pendapatmu sendiri terhadap pendapat orang lain sering kali merupakan salah satu cara paling mudah untuk memeriksa kenyataan.

Selain itu, orang lain terkadang memiliki posisi yang lebih baik untuk menilai kepribadianmu, melihat kamu dalam konteks yang lebih luas, dan tidak punya keinginan untuk mengklaim sifat yang tertentu secara berlebihan.

Skor tes kepribadian berbeda yang dirancang untuk mengukur sifat yang sama biasanya berkorelasi antara 0,60 dan 0,80. Skor laporan diri biasanya berkorelasi sekitar 0,50 dengan skor berdasarkan penilaian orang lain.

Inilah arti hasil tes bagi kamu

tes kepribadian
Kamu dapat membandingkan nilai tes seseorang dengan skor tes lain yang diduga mengukur sifat yang sama. (freepik/lookstudio)

Ketika tidak yakin tentang diagnosis dokter, kamu dianjurkan untuk mencari pendapat kedua. Demikian juga untuk memikirkan keakuratan hasil tes kepribadian kamu. Pikirkan ini: seberapa besar kemungkinan mendapatkan opini kedua yang serupa?

Pendapat kedua itu bisa datang dari diri kamu sendiri di hari lain, dari tes lain yang kamu selesaikan tentang diri sendiri, atau dari hasil tes orang lain.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang sifatmu, ada baiknya kamu mengerjakan tes dua kali atau beberapa tes lain, dan lihat mana hasilnya yang cocok. Jika kamu terus mendapatkan hasil yang sama, itu mungkin dapat dipercaya.(aru)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Pria ini membutuhkan prosedur kolonoskopi untuk mengeluarkan perangkat tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 30 Oktober 2026
Seorang Pria tak Sengaja Telan Earbud, Bunyinya Muncul dalam Perutnya
Lifestyle
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Dokter Citra Poerwa menjelaskan kaitan stres finansial dengan kesehatan mental dan fisik serta pentingnya skala prioritas bagi sandwich generation.
Soffi Amira - Minggu, 25 Oktober 2026
Dokter Citra Poerwa Ungkap Dampak Stres Finansial bagi Kesehatan hingga Sandwich Generation
Indonesia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Kualitas udara Jakarta berada pada poin 162 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 71 mikrogram per meter kubik.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta tidak Sehat
Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Bagikan