MerahPutih.com - Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan uji coba penyajian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem prasmanan di sekolah.
Model tersebut saat ini diuji di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah baru ini dilakukan untuk menghadirkan makanan yang lebih hangat dan segar sekaligus memperkuat pengalaman edukatif bagi penerima manfaat.
Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, uji coba tersebut dilakukan untuk melihat efektivitas model prasmanan dalam menjaga kualitas makanan sekaligus mengurangi jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi.
Di tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas.
ujar Sudaryono, Kamis (8/10)
BGN Sebut Makanan Lebih Hangat dan Segar
Menurutnya, model tersebut memiliki sejumlah keunggulan. Makanan yang disajikan langsung di kelas dapat dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat dan segar karena waktu tunggu antara proses memasak hingga makanan disantap dapat ditekan.
"Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan," jelasnya.
Selain berkaitan dengan kualitas dan keamanan pangan, sistem prasmanan juga dinilai berpotensi mengurangi makanan yang terbuang. Penerima manfaat dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, sementara makanan yang masih tersedia dapat dikonsumsi oleh penerima manfaat lainnya.
Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan.
tambah Sudaryono
Libatkan Sekolah dalam Proses Penyajian MBG
BGN memandang model tersebut tidak hanya sebagai perubahan teknis dalam distribusi makanan, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan fungsi edukasi dalam pelaksanaan MBG.
Pada skema ini, sekolah turut dilibatkan untuk memastikan proses penyajian berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Ia menjelaskan, penerapan sistem prasmanan membutuhkan kesiapan baik dari pihak dapur maupun sekolah. Siswa dapat dilibatkan dalam proses pelayanan secara terjadwal, dengan tetap memperhatikan penggunaan perlengkapan yang sesuai dan tata kelola kebersihan.
Baca juga:
Ombudsman Temukan Masalah MBG di 34 Provinsi, BGN Buka Diri untuk Evaluasi
Konsep tersebut, lanjutnya, memiliki kemiripan dengan praktik penyelenggaraan makan bergizi di Jepang yang mengintegrasikan aspek konsumsi pangan dengan pendidikan.
Sebelumnya, BGN juga mempelajari berbagai praktik penyelenggaraan program makan di negara lain untuk memperoleh pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Melalui penerapannya, BGN tidak hanya ingin melihat keberhasilan model tersebut, tetapi juga mengidentifikasi berbagai tantangan yang muncul selama pelaksanaan.
Baca juga:
Program MBG Uji Coba Sistem Prasmanan ala Jepang, Siswa Ikut Sajikan Makanan
Evaluasi dilakukan untuk memastikan model yang dikembangkan benar-benar dapat diterapkan secara efektif dalam berbagai kondisi sekolah dan SPPG.
BGN saat ini terus memantau pelaksanaan uji coba di berbagai wilayah. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk menentukan pengembangan model prasmanan secara lebih luas, dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, sekolah, sumber daya manusia, serta karakteristik penerima manfaat di masing-masing daerah. (Asp)