MerahPutih.com - Sebuah obrolan panjang di teras rumah Mice Misrad menjadi awal lahirnya buku Mana Dokter, Mana Pasien?: Teman Baru Rasa Lama.
Percakapan antara Jason Ranti dan Mice Misrad saat itu mengalir ke berbagai topik, mulai dari musik, The Beatles, agama, negara, kesenian, Prabowo-Gibran, Eric Clapton, Patrick Spongebob, hantu, robot, hingga beragam hal lainnya.
Dari obrolan yang seolah tidak berujung tersebut, muncul gagasan untuk saling merespons karya melalui sebuah buku yang mempertemukan puisi dan kartun.
Puisi Jason Ranti Bertemu Kartun Mice Misrad
Seperti dua disjoki yang bermain back to back di sebuah klub, Jason Ranti dan Mice Misrad bergantian merespons karya satu sama lain.
Mice Misrad menghadirkan goresan karikaturnya sebagai tanggapan atas puisi-puisi Jason Ranti. Sebaliknya, Jason Ranti memberikan respons visual terhadap kumpulan tulisan yang dibuat Mice.
Pertemuan dua bentuk ekspresi tersebut membuat Mana Dokter, Mana Pasien? terasa seperti sebuah percakapan kreatif yang terus bergerak di antara kata dan gambar.
Isi buku berangkat dari pengalaman personal keduanya, tetapi kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas dan terbuka terhadap berbagai tafsir.
Baca juga:
Gaya penulisan Jason Ranti yang dikenal spontan, jujur, mentah, dan kerap melompat dari satu gagasan ke gagasan lain hadir cukup kuat dalam buku. Karakter serupa juga dapat ditemukan dalam lirik-lirik lagunya.
Di sisi lain, Mice Misrad tetap mempertahankan ciri khas ilustrasinya yang ekspresif, minimalis, sekaligus tampak sengaja berantakan.
Gambar-gambar tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap tulisan, tetapi menjadi bagian dari dialog antara kedua kreator.
Buku ini tentang apapun yang mungkin juga bukan tentang apapun. Cuma masalah pribadi hidup saya. Mungkin ada koneksi dengan anda. Siapa bisa sangka. Saya cuma ingin menulis. Saya tidak berniat membuat partai. Sekian dan terima kasih,
Jason Ranti.
Dari Pengalaman Personal hingga Pertanyaan tentang Kehidupan
Meski berangkat dari pengalaman personal, buku ini menyentuh berbagai lapisan kehidupan melalui sudut pandang Jason Ranti dan Mice Misrad.
Struktur kalimat maupun gagasan yang muncul di dalamnya tidak selalu berjalan lurus. Pembaca dapat berpindah secara tiba-tiba dari satu nama besar ke sosok yang asing, dari tempat yang familiar menuju lokasi yang baru dikenal, atau dari satu persoalan ke persoalan lain yang tampaknya tidak memiliki hubungan.
Namun, ketidakteraturan tersebut justru menjadi bagian dari daya tarik buku.
Berbagai hal yang tampak bertentangan dapat hadir dalam satu ruang. Sementara sesuatu yang terlihat saling berhubungan juga bisa berdiri dalam posisi berlawanan.
Semuanya seperti bergerak dalam logika yang sengaja dibuat tidak sepenuhnya logis, sebagaimana relasi antara dokter dan pasien yang menjadi judul buku.
'Puisi Kartun' atau 'Kartun Puisi'
Mice Misrad melihat pertemuan dua bentuk karya tersebut sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar penggabungan puisi dan kartun.
Buku ini bisa dibilang Puisi Kartun, atau Kartun Puisi. Tapi sebenernya buku ini adalah sebagai bentuk 'perayaan' bertemunya dua sosok (Satunya Kartunis, satunya lagi Musisi dan Penulis Puisi). Karenanya, sub judul di buku ini: Teman Baru Rasa Lama,
Mice Misrad.
Berjumlah 197 halaman, Mana Dokter, Mana Pasien?: Teman Baru Rasa Lama mengajak pembaca berhadapan dengan berbagai pertanyaan mengenai Tuhan, agama, dunia, tujuan bernegara, industri, hingga kehidupan rumah tangga.
Meski mengangkat topik yang cukup luas, buku ini tidak hadir dengan pendekatan yang berat.
Tulisan dan ilustrasi satir yang disertai humor membuat berbagai persoalan tersebut terasa lebih ringan untuk dinikmati.
Baca juga:
Sembilan Trek Kecelakaan Artistik Album 'Jason Ranti: I Don't Know and I Dongker'
Hadiah untuk Indonesia Lewat Kata dan Gambar
Pertemuan antara puisi dan kartun dalam buku ini pada akhirnya menjadi ruang bagi Jason Ranti dan Mice Misrad untuk saling mengenal sekaligus saling menanggapi melalui karya.
Mana Dokter, Mana Pasien?: Teman Baru Rasa Lama diterbitkan oleh Warning Books dan resmi dirilis bertepatan dengan perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Buku tersebut menjadi semacam hadiah dari dua kreator itu untuk merayakan Indonesia melalui cara mereka sendiri: lewat kata, gambar, humor, dan segala keganjilan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. (Far)