Kesehatan

Makanan Manis tak Perbaiki Mood

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 20 April 2023
Makanan Manis tak Perbaiki Mood

Mengonsumsi gula dapat memperburuk mood. (foto: Unspalsh.com_Alexander Grey)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

'BERBUKALAH dengan yang manis'. Begitu selalu pesan yang disampaikan saat berbuka. Makanan manis bisa mengembailkan energi setelah berpuasa seharian. Namun, selain itu, ada pula yang percaya bahwa makanan manis bisa menjadi pengobat hati nan galau. Meningkatkan mood begitu.

Namun, temuan terbaru mengungkap bahwa gula tidak meningkatkan mood. Sebaliknya, seseorang menjadi kurang waspada dan lebih lelah setelah mengonsumsi gula. Dalam studi terbaru dari University Of Warwick, Humboldt University Of Berlin, dan Lancaster University, seperti dikabarkan Science Daily, tim peneliti menemukan bahwa mereka yang sering mengonsumsi gula tak benar-benar jadi lebih baik suasana hatinya.

BACA JUGA:

Kurangi Gula Bila Sering Migrain

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 31 penelitian dengan sampel 1.300 orang dewasa mengonsumsi gula untuk membantu suasana hati menjadi lebih baik. Namun, hal itu berbeda dengan tanggapan dari beberapa peneliti. Dr Konstantinos Mantantzis di Universitas Humboldt Berlin, Dr Sandra Sunram Lea di Universitas Lancaster, dan Dr Friederike dan Profesor Elizabeth Maylor di Departemen Psikologi Universitas Warwick menyelidiki efek gula pada berbagai aspek suasana hati, termasuk kemarahan, kewaspadaan, depresi, dan kelelahan.

gula
Beberapa peneliti sudah mempertimbangkan jenis gula yang dikonsumsi.(foto: Unspalsh.com/Jason)

Mereka juga mempertimbangkan bagaimana faktor-faktor seperti jumlah dan jenis gula yang dikonsumsi dapat memengaruhi suasana hati, dan apakah terlibat dalam aktivitas mental dan fisik yang menuntut membuat perbedaan.

Para peneliti menemukan bahwa mengonsumsi gula tidak berpengaruh pada suasana hati, terlepas dari berapa banyak gula yang dikonsumsi atau apakah orang terlibat dalam kegiatan yang menuntut setelah meminumnya. Mereka yang mengonsumsi gula merasa lebih lelah dan kurang waspada ketimbang mereka yang tidak.

BACA JUGA:

Jangan Asal Makan, Cermati Kandungan Gula pada Buah Kering

Dari penelitian ini disimpulkan bahwa ide sugar rush merupakan mitos tanpa kebenaran di baliknya. "Kami berharap bahwa temuan kami akan pergi jauh untuk menghilangkan mitos 'demam gula' dan menginformasikan kebijakan kesehatan masyarakat untuk mengurangi konsumsi gula," kata Profesor Elizabeth Maylor dari University of Warwick.

Senada, Dr Konstantinos Mantantzis dari Humboldt University of Berlin mengatakan gagasan bahwa gula dapat meningkatkan mood telah banyak berpengaruh dalam budaya populer. "Sedemikian rupa sehingga orang di seluruh dunia mengonsumsi minuman manis untuk menjadi lebih waspada atau memerangi kelelahan,” ujar Mantantzis.

gula
Menjaga kesehatan bisa dilakukan dengan mengurangi konsumsi gula. (foto: Unspalsh.com/Jason)

"Temuan kami sangat jelas menunjukkan klaim semacam itu tidak terbukti. Gula mungkin akan membuat kamu merasa lebih buruk,” ucapnya lagi.

Di lain sisi, Dr Sandra Sunram-Lea mengatakan peningkatan obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik dalam beberapa tahun terakhir menyoroti perlunya strategi diet berbasis bukti untuk mempromosikan gaya hidup sehat sepanjang umur. "Temuan kami menunjukkan bahwa minuman manis atau makanan ringan tidak menyediakan 'isi ulang bahan bakar' cepat untuk membuat kita merasa lebih waspada," tegasnya.(dkr)

BACA JUGA:

Migrain Muncul Setelah Mengonsumsi Karbohidrat dan Gula?

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan