MerahPutih.com - Menghadapi tantangan ke depan, tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian Nahdlatul Ulama (NU) adalah ideologisasi, sinergi, dan berpikir global. Ketiganya perlu diwujudkan demi kebaikan NU di era Kebangkitan Kedua (An-nahdlah Ats-tsaniyah).
Kebangkitan Pertama ketika NU dilahirkan KH Hasyim Asy’ari pada 1926. Sedangkan Kebangkitan Kedua akan terjadi ketika NU berusia 100 tahun pada 2026.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Hilmy Muhammad dalam kapasitasnya sebagai keynote speaker dalam webinar alumni PCI NU Se-Dunia: Road to Muktamar Lampung dengan tema "NU Global Berkhidmah Tanpa Batas" melalui aplikasi Zoom pada Kamis (16/12) malam.
“Ideologisasi dengan memperbanyak kaderisasi, patut dimarakkan kembali agar warga NU tahu arah perjuangan, visi, misi dan tujuan organisasi, kelebihan dan kekurangan, siapa lawan (dalam pengertian positif) dan siapa kawan,” kata senator asal DIY tersebut.
Baca Juga:
Muktamar NU Diharap Rumuskan Cara Pandang Keagamaan Sikapi RUU TPKS
Di antara caranya, menurut pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut, adalah memperbanyak pendidikan kader di setiap level organisasi, seperti IPNU-IPPNU, Fatayat, Ansor-Banser, PMII, NU sendiri: PKNU-MKNU. Di sisi lain, pondok pesantren juga perlu memberikan materi khusus ke-NU-an.
“Kedua, hal penting yang harus mendapat perhatian adalah soal sinergi. Sinergi semua komponen NU agar sesama kader saling mendukung dan tidak saling memotong demi mengupayakan maslahat NU,” katanya.
Sinergi yang dimaksud anggota Komite I DPD tersebut adalah sinergi antarpengurus, antarbanom, antarlembaga, atau pengurus dengan banom (badan otonom) atau lembaga dengan banom dan lain sebagainya.
Sinergi ini, bagi Gus Hilmy, dapat diwujudkan dengan cara pengelolaan potensi jamaah NU. Ini juga mengharuskan kita punya rumusan praktis tentang ukhuwah nahdliyyah sehingga dapat dengan mudah laksanakan, apa yang harus dilakukan sebagai kader NU di level masing-masing.
“Yang ketiga adalah berpikir global. NU sudah sepatutnya bicara urusan global, bicara keluar, out of the box. Jangan hanya bicara NKRI dan Pancasila, tapi juga bicara tentang teknologi, informasi, dan kedokteran," ujarnya.
Baca Juga:
Isu Kekerasan Seksual Diharap Dibahas dalam Muktamar NU
"Melalui apa? Melalui peningkatan kualitas perguruan tinggi-perguruan tinggi, rumah sakit-rumah sakit, media-media dakwah, dan sarana komunikasi digital kita,” sambung dia.
Yang terpenting dalam berorganisasi, menurut Gus Hilmi, adalah bagaimana semua anggota maju bersama-sama, berkembang bersama-sama, sejahtera bersama-sama. Jika ada satu atau dua orang yang maju sendiri, tujuan berorganisasi bisa dikatakan kurang berhasil alias gagal.
Gus Hilmy juga mengingatkan lima prinsip dasar sebagai landasan khidmah kader NU yang disampaikan oleh Allahuyarham KH Ali Maksum, yaitu (1) ats-tsiqatu bi Nahdlatil Ulama, setiap warga NU harus mempercayai NU sebagai tuntunan hidup yang sesuai. (2) al-ma’rifatu bi NU, warga NU harus memahami NU secara keseluruhan. (3) al-amalu bi ta’alimi NU, warga NU harus mengamalkan ajaran dan tuntunan NU. (4) al-jihadu fi sabili NU, berjuang dengan spirit dan dasar-dasar perjuangan ala NU. (5) ash-shabru fi fabili NU, sabar dalam ber-NU. (Pon)
Baca Juga:
PBNU Bantah Ada Intervensi Pemerintah Pada Muktamar ke-34