MerahPutih.com - Permintaan Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memanggil Calon Presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto terkait kasus dugaan penyebaran hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet dinilai salah alamat.
Presidium Pusat Kajian Isu Strategis Seknas Relawan Prabowo-Sandi, Syarif Achmad mengatakan Ketua Umum Partai Gerindra itu merupakan korban dari informasi fiktif Ratna Sarumpaet. "Jadi, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Pak Prabowo," kata Syarif dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Rabu (24/10).
Prabowo diketahui menggelar jumpa pers di kediamannya, Jakarta, 2 Oktober 2018. Dilansir Antara, saat itu dia mengecam pelaku pengeroyokan terhadap Ratna Sarumpaet. Ketum Gerindra itu juga menyatakan akan meminta waktu bertemu Kapolri. Pernyataan-pernyataan itu, disampaikan usai bertemu Ratna dan meminta keterangannya.
Namun sehari berselang, giliran Ratna mengadakan jumpa pers di kediamannya, Jakarta. Ratna menyampaikan, kabar penganiayaan terhadap dirinya adalah bohong. Aktivis perempuan itu turut menyampaikan kebohongan ini karangannya sendiri. Karenanya, Ratna menyampaikan permohonan maaf kepada Prabowo dan senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, karena telah membelanya.
Beberapa hari kemudian, Ratna Sarumpaet diamankan di Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Setelah diperiksa, Ratna lalu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan kabar bohong telah dianiaya di Bandung, Jawa Barat.
Menurut Syarif, lumrah bila Prabowo dan sejumlah pihak mengecam penganiayaan tersebut. "Itu murni respons kemanusiaan beliau untuk empati pada siapa pun yang teraniaya, bukan respons politik," katanya pula.
Syarif menilai pelaporan GNR ke Bawaslu menyangkut kasus ini dan mengadukan Prabowo, merupakan upaya relawan petahana untuk mendegradasi kekuatan dukungan penantang Joko Widodo (Jokowi). "Dengan memanfaatkan dan menyudutkan Pak Prabowo terkait kasus Ratna," ujarnya.
Apalagi, lanjut Syarif, GNR merupakan relawan pendukung Jokowi. Bagi Syarif, kasus tersebut sudah selesai karena Ratna mengakui perbuatannya dan menjadi aktor utama kabar bohong itu. "Pak Prabowo sudah menyampaikan permintaan maaf terkait sikap dan empati beliau yang keliru," tandas dia. (*)