MerahPutih.com - Sejumlah negara mulai menerapkan pembatasan konsumsi energi menyusul gangguan pasokan global yang memicu lonjakan harga bahan bakar.
Gangguan tersebut dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, seiring eskalasi konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.
Dampaknya, harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara mengalami kenaikan signifikan.
Merespons situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati.
Langkah ini diambil sebagai strategi untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM akibat krisis energi global.
"Bapak Presiden Prabowo telah menginstruksikan untuk optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati dari sawit, tebu, ubi kayu, dan jagung," kata Amran kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/4).
Baca juga:
DPR Ingatkan Risiko Finansial Pertamina akibat Penahanan Harga BBM
Pemerintah juga telah menyiapkan langkah konkret melalui implementasi program B50 pada tahun ini, guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
"Tahun ini, Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Ke depan, kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu, dan jagung. Ubi atau singkong," ungkapnya.
Program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
Baca juga:
Menteri Purbaya Jamin BBM Bersubsidi tak Naik Hingga Akhir Tahun
Optimalisasi bahan bakar nabati dinilai menjadi solusi strategis di tengah ketidakpastian global. Selain menekan impor, langkah ini juga berpotensi meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.
Dengan memanfaatkan komoditas lokal seperti sawit, tebu, dan singkong, Indonesia berupaya menjaga stabilitas energi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. (Knu)