MerahPutih.com - Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah pribahasa yang cocok disematkan oleh Muhamad Iqbal (37), salah satu korban robohnya gedung di Slipi, pada Senin (6/1) pagi kemarin.
Perawatan Iqbal di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, disebut-sebut tidak dalam tanggungan BPJS. Di sisi lain, motor yang sehari-hari menjadi sandaran hidupnya sebagai pengemudi ojek online (ojol) sudah dihancurkan bersama sisa gedung yang diruntuhkan.
Baca Juga:
Pemprov DKI: Gedung Roboh di Slipi Tak Punya IMB dan Izin Usaha
"Kami bingung, ke mana mesti mengadu," kata istri Iqbal, Novi di ruang perawatan kamar 1606 RSUD Tarakan, Selasa (7/1).
Menurut Novi, pihak RSUD Tarakan sudah menegaskan bahwa biaya perawatan suaminya tidak menjadi tanggungan BPJS Kesehatan. Alasannya, dia terkena musibah, bencana, bukan sakit.
Iqbal disebutkan harus memiliki Jamkesmas. Pada Senin sore, Iqbal dipindahkan dari ruangan IGD ke ruang perawatan di kamar 1606 yang masuk kategori kelas 2.
"Ada perawat yang bilang mestinya di kelas 3, tetapi karena ruangan di kelas 3 penuh, di bawa ke ruangan ini. Kalau ternyata nanti tidak ditanggung BPJS, bagaimana?" Novi bingung.
Di Tarakan, Iqbal dan korban runtuhan lainnya sempat mendapat perawatan di IGD. Keduanya sempat tidak sadarkan diri. Untuk Iqbal, dari hasil CT scan ada pergeseran di tulang tangan kanannya. Nyeri dari pundak ke bawah.
"Tangan kanan tidak bisa digerakan, kiri bisa," kata Novi, menceritakan kondisi suaminya.
Iqbal, yang baru empat bulan ini menjadi ojek online di Gojek, dipastikan tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. "Itu sebenarnya motor adik. Saya nggak tega ngasih tahu ke Iqbal, khawatir dia makin syok," kata Novi.
Motor yang dikendarai Iqbal bersama beberapa motor yang menjadi korban runtuhan lainnya tidak bisa dibawa, bahkan disatukan dengan puing-puing runtuhan.
"Sampai sekarang tidak ada perwakilan dari pengelola atau pemilik gedung yang beritikad baik mendatangi korban runtuhan. Termasuk menengok ke RSUD Tarakan," tuturnya.
Iqbal dan istrinya, Novi, tinggal di rumah kontrakan di daerah Kebayoran Lama, Jaksel, bersama seorang anak mereka, Ano, yang baru berusia 5 tahun.
Baca Juga:
Seperti diketahui, Muhamad Iqbal bersama dua orang lainnya, menjadi tiga korban yang berada di luar gedung yang runtuh pada Senin pagi sekitar pukul 09.00 WIB itu.
Iqbal, yang menjadi pengemudi ojol Gojek, saat itu sedang membawa penumpang-seorang perempuan yang juga menjadi korban runtuhan gedung. Naik dari kawasan Tanjung Duren, dengan tujuan ke S Parman, penumpang tersebut meminta melewati jalan pintas yang berada samping gedung.
Tidak dinyana, gedung runtuh. Iqbal dan penumpangnya terkena runtuhan di luar gedung. Keduanya di bawa ke RSUD Tarakan, sekitar setengah jam setelah gedung runtuh. (Asp)
Baca Juga: